Puluhan Antivenom Disuntikkan, DK Korban Ular Weling Dipantau Intensif

Puluhan Antivenom Disuntikkan, DK Korban Ular Weling Dipantau Intensif

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 09 Apr 2026 15:19 WIB
Penanganan anak yang dipatuk ular di Tasikmalaya
Penanganan anak yang dipatuk ular di Tasikmala (Foto: Istimewa).
Bandung -

Perjuangan bocah 12 tahun berinisial DK, korban gigitan ular weling di Kabupaten Tasikmalaya, masih berlanjut di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa. Penggunaan antivenom, obat penawar bisa ular, menjadi kunci utama penanganan terhadap DK.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menjelaskan kasus ini bermula saat korban dipatuk ular ketika sedang tidur di rumahnya pada Minggu (29/3) lalu.

"Saat itu anaknya sedang tidur, usianya 12 tahun. Lalu kemudian digigit sekitar jam 22 kalau tidak salah, kemudian dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit," ujar Vini, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antivenom Khusus Saraf Jadi Penentu

Setibanya di rumah sakit, tim medis langsung mengambil langkah cepat dengan berkonsultasi kepada ahli ular di Kementerian Kesehatan. Hasilnya, korban harus segera mendapatkan antivenom jenis khusus.

"Rumah sakit langsung konsultasi waktu itu ke ahli ular di Kementerian Kesehatan ya, opsinya akhirnya harus diberikan antivenom," katanya.

ADVERTISEMENT

"Jenisnya itu karena lebih menyerang ke saraf, antivenomnya jenis polineuropati. Ini Alhamdulillah ada di kami di Dinkes Provinsi, jadi sekarang sudah hampir 57 antivenom yang sudah disuntikkan dari tanggal 30," jelas Vini.

Mulai Membaik, Segera Dirujuk

Di awal penanganan, kondisi DK sempat mengkhawatirkan karena mengalami penurunan kesadaran. Namun, berkat penanganan intensif, kondisinya kini menunjukkan perkembangan positif.

"Ini memang kalau penanganan gigitan ular perlu penanganan ahli. Sejak awal sempat tidak sadar dan alhamdulillah sekarang kondisinya membaik," ungkapnya.

Meski membaik, kondisi DK masih harus dipantau secara intensif. Karenanya, Dinkes Jabar telah meminta DK untuk dirujuk dan dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

"Tapi karena tetap harus dipantau nanti setelah kondisinya stabil kita akan rujuk ke RSHS Bandung," katanya.

Rencana rujukan ke RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pun sudah disiapkan untuk memastikan penanganan lanjutan berjalan optimal.

"Kemarin kami sudah menyiapkan karena harus dimasukkan ke ICU. Nanti setelah kondisinya membaik, sudah disiapkan dan langsung masuk ke RSHS," ujarnya.

Antivenom Terbatas

Di balik penanganan ini, ada tantangan besar dalam ketersediaan antivenom. Vini mengungkapkan, tidak semua jenis antibisa ular mudah diperoleh, terutama untuk kasus yang dialami DK, di mana bisa ular menyerang sistem saraf.

"Antivenom ular itu ada yang dibuat di dalam negeri namanya bioSAVE, ada yang harus impor dari Tailan. Kalau kasus seperti ini harus memakai yang dari Tailan dan itu tidak semua bisa langsung membeli. Karena ada persyaratannya kalau mau beli harus lewat biofarma, jadi ada izinnya," jelasnya.

"Ada beberapa jenis antivenom yang bukan polineuropati, misal untuk yang menyerang darah, jadi ada beberapa yang disiapkan. Kalau bioSAVE itu ada di kota kabupaten ada. Hanya karena ini menyerang ke saraf, makanya yang polineuropati ini yang disiapkan," lanjutnya.

Saat ini, stok antivenom jenis tersebut di tingkat provinsi masih tersedia, namun jumlahnya terbatas dan terus dipantau. Vini menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk meminta tambahan antivenom tersebut.

"Di kami masih ada sekitar 15 vial ya Ini terus kita pantau, selagi membutuhkan kami pantau dan kami kordinasi dengan Kemenkes untuk meminta kembali," ujarnya.



(bba/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads