Jalur urat nadi minyak dunia kembali bergejolak. Otoritas Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4) waktu setempat. Langkah drastis ini diambil Teheran menyusul serangan militer Israel di Lebanon yang menargetkan kelompok Hizbullah.
Kabar penutupan jalur strategis ini pertama kali diembuskan oleh media pemerintah Iran, Fars. Penutupan ini menjadi perhatian serius dunia mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak global bergantung pada akses di selat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ada laporan penutupan, data dari layanan pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan dinamika lain. Dua kapal tanker dilaporkan tetap berhasil melintasi selat tersebut di tengah situasi yang mencekam.
Kedua kapal itu adalah NJ Earth milik Yunani dan Daytona Beach yang berbendera Liberia. Keduanya tercatat sebagai kapal pertama yang berani melintasi jalur air strategis tersebut sejak kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan ke publik.
Situasi di lapangan memang sedang tidak baik-baik saja. Penutupan selat ini terjadi nyaris bersamaan dengan gempuran militer Israel ke Lebanon pada Rabu kemarin yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang.
Padahal sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Trump bahkan sempat melontarkan ancaman keras akan memerintahkan serangan dahsyat ke Teheran jika negara itu nekat memblokade Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas melalui platform X terkait posisi negaranya saat ini.
"Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih -- gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Araghchi pada Rabu waktu setempat.
Baca juga: Bumi Sudah 'Engap' |
Araghchi juga menyoroti kondisi kemanusiaan yang terjadi di Lebanon akibat serangan Israel. Ia menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat kini sedang diuji oleh mata internasional.
"Dunia melihat pembantaian di Lebanon," kata Araghchi. "Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya," cetusnya.
Artikel ini sudah tayang di detikNews, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Iran Umumkan Kemenangan Perang, Klaim Paksa AS Terima Rencana 10 Poin"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)











































