Dua Nama di Balik Desain Motor Listrik MBG

Dua Nama di Balik Desain Motor Listrik MBG

Andry Haryanto - detikJabar
Kamis, 09 Apr 2026 12:32 WIB
Motor listrik Emmo JVX GT
Motor listrik Emmo JVX GT. Foto: Dok. Emmo
Bogor -

Motor trail listrik yang diproduksi PT Adlas Sarana Elektrik, ramai dibicarakan publik. Motor jelajah tersebut digadang akan digunakan oleh pegawai Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, di balik sorotan itu, ada dua nama yang justru jarang disebut, Abdullah Alwi dan Gunanjar Baroka. Mereka adalah duo desainer yang merancang kendaraan tersebut.

Jejak keduanya tercatat dalam dokumen Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Desain motor jelajah listrik itu didaftarkan pada Agustus 2025 dengan judul desain industri JVX. Pengembangan desain tidak berhenti pada motor trail. Dalam dokumen yang berbeda, desain untuk kategori skuter listrik juga diajukan pada November 2025 berjudul desain industri Emmo JVH. Ini menunjukkan adanya pengembangan lini produk yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada kendaraan jelajah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gunanjar Baroka dikenal memiliki latar belakang kuat di industri kendaraan listrik. Ia pernah terlibat di studio desain Katalis sebagai Head of Sales & Technology Solutions. Di sana, ia ikut mengembangkan skuter listrik Spacebar-produk yang menyasar pasar urban dengan pendekatan desain yang fungsional sekaligus khas.

Sementara Abdullah Alwi datang dari jalur industri manufaktur. Ia pernah menjabat sebagai GM Sales & Marketing di PT WIKA Industri Manufaktur (WIMA), perusahaan yang memproduksi motor listrik nasional. Produk WIMA sendiri mulai dipasarkan sejak 17 Agustus 2018, menjadi salah satu tonggak awal penetrasi motor listrik buatan dalam negeri.

ADVERTISEMENT

JVX dengan karakter kendaraan yang cenderung tangguh dan adaptif terhadap medan menunjukkan pendekatan desain yang berbeda dibanding motor listrik perkotaan pada umumnya.

Pilihan desain ini mengarah pada fungsi dual-purpose, yakni mampu digunakan di jalan raya sekaligus menjangkau area dengan kondisi medan yang lebih berat. Kebutuhan semacam ini biasanya muncul dalam operasional lapangan yang menuntut mobilitas tinggi dan fleksibilitas.

Dalam penjelasan resminya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut pengadaan motor listrik untuk operasional SPPG merupakan bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025. Program ini dirancang untuk mendukung mobilitas Kepala SPPG dalam menjalankan distribusi dan pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Realisasi pengadaan dilakukan secara bertahap sejak akhir 2025. Dari total pesanan sebanyak 25.000 unit, hingga kini telah terealisasi 21.801 unit motor listrik. Jumlah tersebut, menurut Dadan, tidak terpusat di satu wilayah, melainkan akan didistribusikan ke berbagai daerah sesuai kebutuhan operasional.

Ia juga menegaskan bahwa informasi yang menyebut pengadaan mencapai 70.000 unit tidak benar. Angka tersebut muncul dari narasi yang beredar di media sosial, sementara data resmi pemerintah menunjukkan jumlah yang jauh lebih kecil dan masih dalam proses administrasi sebelum digunakan.

Dadan juga menegaskan bahwa pengadaan motor listrik tersebut dilakukan dengan skema harga yang diklaim lebih rendah dari harga pasar. "Harga pasaran Rp 52 juta, tapi kita beli kalau nggak salah Rp 42 juta, di bawah harga pasaran," kata Kepala BGN Dadan Hindayana dikutip detikNews, Kamis (9/4/2026).

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads