"Mereka (para siswa) mengatakan bahwa alhamdulillah, menunya juga enak," kata Annis Rizki, petugas gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasir Tanjung, Tanjungsari, Kabupaten Bogor.
Kalimat itu menjadi bagian dari laporan rutin setelah distribusi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Pada Senin (6/4/2026) siang, menu mie ayam dibagikan dari dapur SPPG ke enam posyandu dan 13 sekolah. Distribusi berjalan seperti biasa, disertai dokumentasi dan testimoni penerima manfaat.
Di posyandu, makanan tersebut ditujukan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta masyarakat sekitar. Sementara di sekolah, menu yang sama diberikan kepada siswa. Tidak ada perbedaan komposisi, hanya ukuran porsi yang disesuaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau untuk penyediaan makanan kita sama, hanya dibedakan porsinya," ujar Annisa kala ditemui di SPPG Pasir Tanjung, Rabu (8/4/2026).
Pada hari distribusi, tidak ada laporan keluhan. Makanan diterima dan dikonsumsi seperti biasa. Namun kondisi mulai berubah pada sore hingga malam hari. Sejumlah warga mengeluhkan tubuh yang tidak nyaman.
"Dari sore itu sudah ada yang merasa tidak enak badan," kata Kepala Desa Pasir Tanjung, Rizal Baharudin Zen.
Keluhan bertambah pada malam hari dan berlanjut ke keesokan paginya. Warga mulai datang ke puskesmas dan fasilitas kesehatan lain dengan gejala yang hampir seragam.
"Hari Selasa kami menerima pasien dengan keluhan mual, muntah, diare, pusing," ujar Kepala Puskesmas Tanjungsari, Latifah Hani.
Dari hasil anamnesa, sebagian pasien memiliki riwayat mengonsumsi makanan MBG sehari sebelumnya. Jumlahnya terus bertambah hingga tercatat 107 warga terdampak dari total penerima manfaat di enam posyandu.
Keluhan yang muncul relatif sama. Mual, muntah, diare, dan demam menjadi gejala yang paling banyak dilaporkan. Dalam beberapa kasus, gejala muncul beberapa jam setelah konsumsi.
Siti Jubaedah (26), salah satu warga, mengatakan anaknya mulai sakit pada dini hari.
"Jam 3 malam sakit perut, diare, mual muntah, demam," ujarnya.
Tidak hanya itu, Alfiansyah (4) putra dari Siti Jubaedah, mengalami kejang dini harinya. Sang anak mau tidak mau harus dirawat inap di Puskesmas Tanjungsari.
Warga lain, Suwandi (35), merasakan gejala pada pagi hari berikutnya. "Senin makan, Selasa pagi mulai mual, pusing," katanya.
Sementara Siti Aisyah (28) mengeluhkan pusing dan panas di perut. Aisyah terbaring lemas ditemani sang suami pada Rabu (8/4/2026) siang di ruang Instalasi Gawat Darurat.
"Pusing, mual, perut panas, demam," ucapnya.
Di sisi lain, distribusi makanan tidak hanya dikonsumsi di lokasi. Sebagian warga membawa pulang makanan tersebut dan mengonsumsinya di waktu berbeda. Hal ini membuat waktu munculnya gejala tidak seragam.
Di dapur SPPG, laporan tersebut ditindaklanjuti dengan pemeriksaan sampel makanan. Sampel kemudian dikirim ke laboratorium kesehatan daerah untuk diuji.
"Kita langsung antar ke labkesda," kata Annisa.
Hasil pemeriksaan masih menunggu proses laboratorium yang diperkirakan memakan waktu hingga tujuh hari kerja. Selama proses tersebut, distribusi makanan untuk posyandu dihentikan sementara.
"Kalau posyandu di-stop dulu, karena kita masih observasi," ujarnya.
Namun, terdapat satu hal yang menjadi perhatian. Menu yang dibagikan ke posyandu sama dengan yang diberikan ke sekolah.
"Yang dimakan oleh posyandu itu pun sama dengan yang dimakan oleh anak-anak sekolah," kata Annisa.
Perbedaannya hanya pada porsi. Sementara itu, hingga saat ini tidak ada laporan keluhan dari sekolah yang menerima distribusi pada hari yang sama.
"Kita tanya ke sekolah, tidak ada keluhan," ujarnya.
Di tingkat kesehatan, penelusuran masih dilakukan. Puskesmas mengumpulkan data pasien dan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memahami pola kejadian.
"Karena tidak ada sampel yang kami periksa, kita masih belum bisa memastikan," kata Latifah.
Ia menambahkan bahwa potensi gangguan kesehatan dalam kasus seperti ini tidak bisa dilihat dari satu faktor saja, melainkan dari keseluruhan proses.
"Mulai dari pembelian bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, dan pendistribusian," ujarnya.
Sementara itu, pemerintah desa memfokuskan penanganan pada kondisi warga terdampak. Sebagian dirawat di puskesmas dan klinik, sementara lainnya memilih berobat secara mandiri.
"Untuk sementara kita prioritaskan kesehatan warga dulu," kata Rizal.
Distribusi MBG di posyandu dihentikan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi lebih lanjut. Warga juga memilih tidak mengambil makanan yang sempat dibagikan kembali setelah kejadian.
(yum/yum)










































