107 Warga Diduga Keracunan MBG, SPPG: Menu Sama, Sekolah Nihil Keluhan

Andry Haryanto - detikJabar
Rabu, 08 Apr 2026 20:30 WIB
Ahli Gizi SPPG Pasir Tanjung, Annisa Rizki (Foto: Andry Haryanto)
Bogor -

Distribusi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, memunculkan perbedaan dampak antara penerima di posyandu dan sekolah. Meski berasal dari dapur dan menu yang sama, keluhan kesehatan hanya dilaporkan dari kelompok posyandu.

Ahli Gizi SPPG Pasir Tanjung, Annisa Rizki, mengatakan makanan yang didistribusikan pada hari kejadian berupa mie ayam, dan diberikan kepada dua kelompok penerima, yakni posyandu dan sekolah.

"Kalau untuk penyediaan makanan kita sama, jadi antara posyandu sama sekolah itu sama, hanya dibedakan mengenai porsinya," ujarnya.

Distribusi tersebut menjangkau enam posyandu dan 13 sekolah dalam satu hari. Menu yang diberikan pun tidak dibedakan, selain ukuran porsi sesuai kategori penerima.

"Yang dimakan oleh posyandu itu pun sama dengan yang dimakan oleh anak-anak sekolah," kata Annisa.

Namun, dampak yang muncul berbeda. Data sementara menunjukkan sekitar 106 hingga 107 orang dari kelompok posyandu mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Di sisi lain, pihak pengelola tidak menemukan laporan serupa dari sekolah yang menerima distribusi makanan pada hari yang sama.

"Kemudian kemarin itu kita tanya juga langsung respon dari pihak sekolah, semua sekolah, apakah ada keluhan yang sama dengan yang dialami posyandu. Kemudian jawabannya tidak ada," ujarnya.

Menurut Annisa, pihak sekolah bahkan memberikan umpan balik positif terhadap makanan yang disajikan.

"Dan mereka mengatakan bahwa alhamdulillah, menunya juga enak," kata dia.

Perbedaan dampak ini menjadi perhatian karena sumber makanan dan waktu distribusi dilakukan secara bersamaan. Hingga kini, belum ada penjelasan pasti mengenai faktor yang menyebabkan hanya satu kelompok terdampak.

Pihak SPPG telah mengambil langkah awal dengan mengirimkan sampel makanan ke laboratorium kesehatan daerah untuk dilakukan uji lebih lanjut. Namun hasil pemeriksaan masih belum tersedia karena memerlukan waktu hingga tujuh hari kerja.

Sementara itu, distribusi makanan untuk posyandu dihentikan sementara sambil menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium.

"Kalau posyandu disetop dulu, karena kita masih observasi dulu ya, kita belum tahu juga hasil labnya bagaimana," ujar Annisa.




(yum/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork