107 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan Mie Ayam dari Posyandu

107 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan Mie Ayam dari Posyandu

Andry Haryanto - detikJabar
Rabu, 08 Apr 2026 18:04 WIB
Warga Pasir Tanjung, Tanjungsari, Kabupaten Bogor dirawat usai menyantap hidangan dari posyandu
Warga Pasir Tanjung, Tanjungsari, Kabupaten Bogor dirawat usai menyantap hidangan dari posyandu (Foto: Andry Haryanto)
Bogor -

Gejala seragam muncul dalam hitungan jam. Dari anak-anak hingga orang dewasa, warga mengeluh mual, muntah, hingga diare setelah mengonsumsi makanan distribusi MBG dari Posyandu Desa Pasir Tanjung, Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Satu per satu warga Desa Pasir Tanjung mulai merasakan gejala yang sama sejak Selasa (6/4/2026) malam hingga Rabu (7/4/2026) siang. Tubuh mereka melemah, perut bergejolak, dan kepala terasa ringan. Keluhan itu tidak datang sendiri-sendiri. Namun muncul hampir bersamaan, dalam rentang waktu yang berdekatan, setelah menyantap makanan dari distribusi MBG di posyandu.

Kepala Puskesmas Tanjungsari, Latifah Hani, menyebut laporan pertama masuk pada Selasa. Pasien datang dengan gejala serupa, yaitu mual, muntah, diare, dan pusing. Dari penelusuran awal, keluhan itu mengarah pada konsumsi makanan sehari sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada saat anamnesa, didapatkan bahwa pasien tersebut setelah mengkonsumsi makanan dari MBG," ujar Hani saat ditemui di ruang kerjanya, Rebo (8/4/2026).

Jumlahnya terus bertambah. Hingga Rabu siang, hampir 20 orang tercatat datang ke fasilitas kesehatan. Dari angka itu, beberapa di antaranya harus menjalani perawatan inap. Jumlah sisanya dirujuk ke klinik terdekat sekitar.

ADVERTISEMENT

"Yang dirawat inap sampai sekarang ada dua atau tiga," kata Latifah.

Keluhan tidak mengenal usia. Orang dewasa datang dengan kondisi serupa, anak-anak pun tak luput. Polanya mual diikuti muntah, kemudian diare, sebagian disertai demam.

Kepala Desa Pasir Tanjung, Rizal Baharudin Zen, mencatat sedikitnya 107 warga terdampak dari total 315 penerima distribusi makanan di enam posyandu.

"Jumlah warga yang terdampak itu 107, yang laporan sekarang ini sudah masuk," ujarnya.

Gejala mulai terasa sejak sore hari setelah konsumsi. Awalnya hanya beberapa orang yang mengeluh tidak enak badan. Namun menjelang malam, jumlahnya meningkat. Keesokan paginya, kasus serupa bermunculan.

"Dari sore itu sudah ada yang merasa tidak enak badan, mual-mual. Sampai malam banyak. Paginya ditemukan kasus yang serupa," kata Rizal.

Penelusuran awal mengarah pada menu yang sama. Baik pihak penyedia maupun warga menyebut makanan yang dikonsumsi adalah mie ayam, dilengkapi tahu atau pangsit dan sayuran.

"Setelah mengkonsumsi mie ayam tersebut, beberapa jam kemudian mengeluh pusing, mual, muntah, dan diare," kata Latifah.

Kasus ini tidak hanya menimpa satu kelompok usia. Korban berasal dari berbagai lapisan orang tua, bahkan kakek dan nenek yang turut mengonsumsi makanan tersebut.

Sebagian warga memilih berobat ke puskesmas dan klinik, sementara lainnya menjalani pengobatan mandiri. Meski sebagian besar tidak memerlukan rawat inap, jumlah kasus yang besar menunjukkan pola kejadian yang tidak biasa.

Pihak puskesmas masih berhati-hati menyimpulkan. Hingga kini, belum ada pemeriksaan laboratorium yang memastikan penyebab pasti. Tidak adanya sampel muntah menjadi kendala dalam penegakan diagnosis.

"Kita masih belum bisa memastikan," ujar Latifah.

Meski demikian, kesamaan waktu konsumsi, jenis makanan, serta gejala yang muncul dalam rentang singkat menjadi petunjuk awal yang mengarah pada dugaan keracunan pangan.

Distribusi makanan pun langsung dihentikan. Warga yang sempat menerima paket pada hari berikutnya memilih tidak mengambilnya.

"Karena sudah ketahuan, warga itu tidak mau mengambilnya. Khawatir," kata Rizal.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads