Jembatan Cirahong, Jalur Ganda Bersejarah dan Isu Pungli Viral

Jembatan Cirahong, Jalur Ganda Bersejarah dan Isu Pungli Viral

Dadang Hermansyah - detikJabar
Senin, 06 Apr 2026 13:32 WIB
Jembatan Cirahong di Kabupaten Ciamis yang dibangun tahun 1893 oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Foto: Dadang Hermansyah
Ciamis -

Jembatan Cirahong di Ciamis tengah menjadi sorotan hangat, baik di media sosial maupun di tengah masyarakat. Selain karena arsitekturnya yang ikonik, jembatan ini mendadak viral menyusul adanya narasi dugaan pungutan liar (pungli) bagi pengendara yang melintas.

Di balik kontroversi tersebut, Jembatan Cirahong menyimpan keunikan sejarah yang mendalam. Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini memiliki fungsi ganda yang jarang ditemui: bagian atas digunakan untuk jalur rel kereta api, sementara bagian bawah diperuntukkan bagi pejalan kaki dan sepeda motor. Dahulu, mobil kecil pun sempat diizinkan melintas sebelum akhirnya dilarang demi menjaga kekuatan struktur jembatan.

Membentang sepanjang 202 meter di atas Sungai Citanduy, jembatan ini menjadi urat nadi yang menghubungkan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Meski bukan jalur utama, keberadaannya sangat vital bagi ekonomi warga karena mampu memangkas waktu dan biaya secara signifikan dibandingkan harus memutar lewat jalur utama yang berjarak belasan kilometer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jembatan Cirahong dibangun oleh perusahaan kereta api pemerintah kolonial Belanda, Staatspoorwegen, pada tahun 1893 dengan ketinggian sekitar 66 meter. Secara teknis, jembatan ini tercatat dengan nomor register BH 1290. Atas nilai sejarahnya yang tinggi, Cirahong ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional pada tahun 2022.

Jembatan Cirahong di Kabupaten Ciamis yang dibangun tahun 1893 oleh Pemerintah Hindia Belanda.Jembatan Cirahong di Kabupaten Ciamis yang dibangun tahun 1893 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Foto: Dadang Hermansyah

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, berdirinya jembatan ini tak lepas dari perjuangan Bupati Galuh periode 1839-1886, RAA Kusumadiningrat. Sosok yang akrab disapa Kanjeng Prebu tersebut memperjuangkan pembangunan jalur kereta api agar melintasi wilayahnya meski ia telah memasuki masa pensiun.

ADVERTISEMENT

Awalnya, pemerintah kolonial merencanakan jalur kereta api dari Manonjaya langsung menuju Cimaragas di sebelah selatan Citanduy, lalu lurus ke Banjar. Rute tersebut sedianya tidak akan melewati pusat kota Ciamis. Namun, Kanjeng Prebu yang masih memiliki pengaruh besar mengusulkan agar rel digeser ke utara Citanduy, wilayah yang populasi penduduknya jauh lebih padat.

Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyetujui usulan tersebut, meskipun konsekuensinya harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk membangun dua jembatan raksasa, yakni Jembatan Cirahong dan Jembatan Karangpucang.

Pegiat Budaya sekaligus Kabid Kebudayaan Disbudpora Ciamis, Eman Hermansyah, menjelaskan bahwa dalam rencana awal transportasi kereta api di Pulau Jawa, Jembatan Cirahong sebenarnya tidak tercantum. Hal ini membuat wilayah Ciamis (yang saat itu masih bernama Galuh) terancam terisolasi dari jalur transportasi modern masa itu.

"Kemungkinan rencana pembangunan itu cukup beralasan karena membangun jembatan kereta api jelas akan membutuhkan sumber daya yang banyak atau biaya tinggi. Jadi dari Manonjaya itu rencana langsung ke Cimaragas sampai ke Banjar," ujar Eman.

Kanjeng Prebu berhasil meyakinkan pihak Belanda dengan menonjolkan potensi hasil bumi Ciamis yang melimpah, terutama kelapa dan kopi. Diplomasi ini membuahkan hasil hingga akhirnya dibangunlah Jembatan Cirahong yang memiliki fungsi ganda sebagai jalur kereta api sekaligus jembatan penghubung transportasi darat.

"Sampai sekarang masih beroperasi dan berdiri kokoh. Pembangunan Ciamis juga terbantu dengan adanya jalur kereta ini," ucapnya.

Saat ini, aset bersejarah tersebut dimiliki oleh negara dan dikelola secara kolaboratif oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan, bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 2 Bandung.




(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads