Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunjukkan perubahan sikap dengan menyatakan akan menghancurkan Iran di tengah konflik yang terus memanas. Pernyataan ini memicu respons dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menyatakan kesiapan negaranya untuk turun tangan membantu menstabilkan kawasan Timur Tengah.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2026), Putin menyampaikan hal tersebut saat bertemu Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, di Kremlin. Dalam pertemuan itu, Putin berharap konflik dapat segera diakhiri.
"Kita semua berharap konflik yang sedang berlangsung ini segera diselesaikan. Seperti yang Anda ketahui, Presiden Trump juga membahas masalah ini kemarin," kata Putin dalam pertemuan tersebut, menurut siaran pers Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putin kembali menegaskan komitmen Rusia untuk membantu menstabilkan situasi di Timur Tengah. "Izinkan saya menegaskan kembali bahwa kami siap melakukan segala upaya untuk membantu menstabilkan situasi dan, seperti yang mereka katakan dalam kasus seperti ini, mengembalikannya ke keadaan normal," imbuhnya.
Konflik ini diketahui mulai pecah sejak 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran. Serangan tersebut terus berlanjut hingga kini dan menewaskan sedikitnya 1.340 orang di berbagai wilayah Iran. Korban termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Dampak Perang Disebut Bisa Seperti COVID-19
Dilansir Reuters, Jumat (27/3/2026), Putin menyebut sejumlah pihak membandingkan potensi dampak konflik ini dengan pandemi COVID-19 yang melumpuhkan dunia beberapa tahun lalu.
Menurut Putin, dampak perang ini berpotensi sangat serius secara global. Ia menyebut konflik di Timur Tengah telah mengganggu logistik internasional, produksi, dan rantai pasokan, serta memberikan tekanan besar pada sektor hidrokarbon, logam, dan pupuk.
"Konsekuensi dari konflik di Timur Tengah masih sulit diprediksi secara akurat," ucap Putin saat berbicara kepada para pemimpin bisnis di Moskow. "Sudah ada perkiraan bahwa konsekuensinya dapat dibandingkan dengan epidemi virus korona."
Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran
Sementara itu, Trump kembali melontarkan ancaman serangan lanjutan terhadap Iran. Ia menyatakan militer AS akan menghancurkan sisa infrastruktur yang masih bertahan.
"Militer kita, yang terhebat dan terkuat (jauh!) di mana pun di dunia, bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jembatan selanjutnya, lalu pembangkit listrik!" kata Trump.
Trump juga mendesak percepatan pergantian rezim di Iran. Ia menilai kepemimpinan baru diperlukan untuk mengakhiri konflik. "Kepemimpinan rezim baru akan tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan, cepat!" katanya.
Sebelumnya, Trump mengumumkan serangan terbaru yang menyasar Jembatan B1 di Karaj, yang disebut sebagai jembatan tertinggi di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.
(zap/sud)










































