Dishub Jabar Klaim Arus Mudik 2026 Lebih Lancar dan Minim Kecelakaan

Dishub Jabar Klaim Arus Mudik 2026 Lebih Lancar dan Minim Kecelakaan

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 02 Apr 2026 16:01 WIB
Ilustrasi arus mudik
Ilustrasi arus mudik. Foto: dok. Diskominfo Jabar
Bandung -

Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat menilai penyelenggaraan arus mudik dan balik Lebaran 2026 berjalan lebih terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lonjakan kendaraan tetap terjadi, namun pola pergerakan dinilai lebih terdistribusi sehingga tidak memicu kemacetan ekstrem.

Total pergerakan kendaraan selama periode Angkutan Lebaran tercatat mencapai 12,5 juta lebih di 10 titik pantau utama.

Titik dengan volume tertinggi berada di Tanjung Pura (Bekasi) 1.950.700 kendaraan, disusul Gadog (Bogor) 1.758.526 kendaraan dan Nagreg (Kabupaten Bandung) 1.701.245 kendaraan dengan roda dua masih menjadi moda yang paling mendominasi di hampir seluruh jalur utama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dishub Jawa Barat, Dhani Gumelar, menyebut kondisi lalu lintas secara umum tetap terkendali meski terjadi peningkatan signifikan menjelang puncak arus mudik.

ADVERTISEMENT

"Kondisi lalu lintas selama periode Angkutan Lebaran secara umum terpantau ramai lancar dan terkendali, dengan dinamika peningkatan menjelang puncak arus mudik dan arus balik," ujar Dhani, Kamis (2/4/2026).

Dhani menerangkan, puncak arus mudik terjadi pada 22 hingga 24 Maret 2026. Setelah itu, arus balik tidak menumpuk di satu waktu, melainkan menyebar lebih merata hingga akhir periode. Pola ini menjadi salah satu kunci kelancaran lalu lintas tahun ini.

Di jalan tol, volume kendaraan juga terpantau tinggi. Tol Padaleunyi mencatat hampir 2,9 juta kendaraan masuk dan hampir 3 juta keluar. Sementara Cipularang dan Bocimi juga menunjukkan pergerakan yang padat namun tetap terkendali.

Tak hanya kendaraan pribadi, mobilitas penumpang di sektor transportasi umum juga mengalami peningkatan. Commuter Line menjadi moda paling dominan dengan lebih dari 4 juta penumpang, disusul kereta api jarak jauh, bus di terminal tipe A dan B, hingga moda modern seperti kereta cepat dan LRT.

Dishub Jabar juga menilai sejumlah kebijakan yang diterapkan selama mudik cukup efektif. Program mudik gratis berjalan optimal dengan tingkat keterisian hampir 100 persen. Selain itu, pemberian kompensasi kepada sopir angkutan umum dan non-motor juga berkontribusi menekan potensi kemacetan.

"Kebijakan operasional dan program pendukung berjalan efektif, antara lain program mudik gratis serta pemberian kompensasi kepada ribuan pengemudi angkot dan kendaraan tidak bermotor yang berkontribusi dalam pengurangan potensi kemacetan," jelasnya.

Rekayasa lalu lintas seperti sistem one way dan contra flow juga menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus kendaraan di jalur-jalur padat.

Hasilnya terlihat signifikan. Angka kecelakaan lalu lintas selama periode Lebaran turun drastis hingga 76 persen, sementara angka fatalitas bahkan merosot hingga 89 persen.

Dhani menegaskan bahwa penyelenggaraan Angkutan Lebaran tahun ini menjadi salah satu yang paling terkendali dalam beberapa tahun terakhir.

"Secara keseluruhan, penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 di Jawa Barat berjalan optimal dan lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya, tercermin dari penurunan signifikan kecelakaan lalu lintas hingga 76% dan fatalitas 89%," pungkasnya.

(bba/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads