Selama dua tahun, Hasyim Supyadi (60) dan ratusan warga Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kabupaten Sukabumi, hidup dalam 'perjudian' nasib.
Setiap hujan turun, suara retakan dinding dan pergeseran tanah menjadi melodi mencekam yang menemani tidur mereka. Kampung mereka bahkan sempat dijuluki 'Kampung Mati'.
Suasananya sunyi, rumah-rumah miring ditinggalkan penghuninya, dan akses jalan yang terputus. Namun, Rabu (1/4/2026) siang, suasana muram itu berganti riuh syukur. Hari ini, sebuah papan nama baru terpancang di lahan seluas 3,5 hektare, Kampung Mubarokah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mimpi Buruk yang Berakhir
Hasyim, yang merupakan Koordinator Posko Bencana Kampung Gempol, tak bisa menyembunyikan getar suaranya saat menceritakan kilas balik bencana yang menghancurkan kampung halamannya sejak 4 Desember 2024.
"Masyarakat sempat murat-marit. Kejadian kedua di Desember 2025 bahkan lebih dahsyat, banyak rumah yang langsung roboh," kenang Hasyim saat ditemui di lokasi peletakan batu pertama, Rabu (1/4/2026).
Menariknya, Hasyim menceritakan bagaimana warga akhirnya sampai pada titik "ikhlas yang dipaksa". Jika pada awal bencana mereka ketakutan luar biasa, di tahun kedua mereka justru merasa tenang meski tanah terus bergerak.
"Mungkin karena sudah muncul rasa keikhlasan dan kesabaran, jadi merasa sudah biasa saja menghadapi kondisi tersebut. Tapi dalam hati, kami terus berdoa kapan ini berakhir," tuturnya.
Bupati Sukabumi Asep Japar melakukan peletakan batu pertama di Kampung Mubarokah Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar |
Momen haru terjadi saat Hasyim menunjukkan identitas barunya. Hari ini, ia tak lagi tercatat sebagai warga Kampung Gempol yang rawan bencana. Secara simbolis, Bupati Sukabumi Asep Japar menyerahkan KTP baru dengan domisili Kampung Mubarokah.
"Alhamdulillah, saya dan Pak Suri sudah dialihkan, KTP-nya dirubah menjadi warga Kampung Mubarokah. Ini simbol bahwa mimpi buruk kami benar-benar selesai," ucap Hasyim penuh syukur.
"Terimakasih teman-teman yang sudah menyuarakan nasib kami selama bertahan diantara puing bangunan, terimakasih juga kepada jajaran Pemkab Sukabumi dan semua pihak yang telah mewujudkan semua mimpi dan harapan warga Kampung Gempol," pungkasnya menambahkan.
Kolaborasi 'Lelang Kebaikan'
Pembangunan Kampung Mubarokah ini bukan sekadar proyek pemerintah biasa. Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menjelaskan bahwa hunian ini lahir dari gerakan "Lelang Kebaikan".
"Kebencanaan di Sukabumi pada 2024-2025 ini luar biasa. Ada 3.000 unit rumah yang harus diintervensi karena hilang atau rusak parah. Kalau hanya mengandalkan dana pemerintah, tentu tidak akan cukup," jelas Sendi.
Melalui forum CSR, perusahaan swasta diajak "berlomba" menyumbang unit rumah. Hasilnya luar biasa, dari target 86-100 rumah, komitmen bantuan untuk 48 unit sudah terkumpul di tahap awal, melampaui target awal yang hanya 20 unit.
"Lahan 3,5 hektare milik Pemda ini sudah clean and clear. Kita targetkan bulan September nanti, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi, warga sudah bisa menempati rumah baru mereka yang lebih aman," pungkas Sendi.
Kini, warga Cikadu tak lagi menatap langit dengan cemas saat mendung datang. Di Kampung Mubarokah, mereka mulai menyusun kembali puing-puing harapan yang sempat terkubur pergerakan tanah selama dua tahun lamanya.
(sya/dir)

