Geger Dokter Internship Cianjur Wafat Akibat Campak

Geger Dokter Internship Cianjur Wafat Akibat Campak

Nafilah Sri Sagita K - detikJabar
Senin, 30 Mar 2026 15:15 WIB
Medical doctor or physician in white gown uniform with stethoscope in hospital or clinic
Ilustrasi dokter. Foto: Getty Images/Pornpak Khunatorn
Jakarta -

Kasus meninggalnya dokter internship berinisial AMW (25) yang tengah menjalani program di RSUD Pagelaran menjadi sorotan publik. Dokter muda tersebut diduga terpapar campak setelah tetap bertugas meski telah menunjukkan gejala awal.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Andi Saguni menyampaikan hasil penelusuran awal menunjukkan AMW kemungkinan sudah terinfeksi sebelum gejala pertama muncul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret," sorot Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Pada 18 Maret, AMW mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Ia sempat mengajukan izin untuk tidak berdinas dan diperbolehkan beristirahat.

ADVERTISEMENT

Namun, pada 19 hingga 21 Maret 2026, ia tetap masuk kerja dan menjalani dinas selama tiga hari berturut-turut. Dalam kondisi tersebut, ia bahkan menangani pasien campak dengan alasan merasa tubuhnya masih fit.

Kondisi kesehatannya terus memburuk. Pada 21 Maret, mulai muncul ruam pada kulit yang merupakan gejala khas campak. Meski demikian, ia tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak sebelum akhirnya mengajukan cuti karena kondisi semakin menurun.

Memasuki 24 Maret, AMW menginformasikan kepada rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp bahwa dirinya terkena campak, ditandai dengan munculnya ruam di tubuh.

Kondisinya kemudian memburuk dengan cepat. Pada 25 Maret pukul 22.00 WIB, keluarga membawa AMW ke IGD RS Cianjur dalam kondisi penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya.

Saat tiba di rumah sakit, ia mengalami akral dingin, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 144 kali per menit, serta saturasi oksigen yang sangat rendah, yakni 35 persen. Saturasi tersebut hanya meningkat menjadi 50 persen meski telah diberikan bantuan oksigen sungkup 15 liter per menit.

Pada 26 Maret pukul 00.30 WIB, pasien dirujuk ke ruang ICU. Namun kondisinya tidak membaik. Pada pukul 08.15 WIB, tim medis melakukan tindakan intubasi. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 11.30 WIB, AMW dinyatakan meninggal dunia. Diagnosis akhir menunjukkan campak dengan komplikasi pada jantung dan otak.

Sehari setelahnya, pada 27 Maret 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan penelusuran epidemiologis untuk memastikan sumber penularan.

"Hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 28 Maret 2026 dari Bio Farma kemudian mengonfirmasi bahwa pasien positif campak," lapor Andi.

Andi menegaskan, kasus ini menjadi pengingat penting bagi tenaga kesehatan agar tidak mengabaikan gejala penyakit.

"Tenaga kesehatan yang sudah bergejala sebaiknya tidak bertugas terlebih dahulu untuk mencegah penularan dan risiko perburukan kondisi," katanya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(naf/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads