Penemuan Langka di Balik Telur Dinosaurus Berusia 68 Juta Tahun

Penemuan Langka di Balik Telur Dinosaurus Berusia 68 Juta Tahun

Rachmatunnisa - detikJabar
Rabu, 25 Mar 2026 18:00 WIB
Telur dinosaurus
Telur dinosaurus (Foto: The Daily Galaxy)
Bandung -

Para peneliti menemukan fosil telur dinosaurus yang sangat langka dengan usia diperkirakan sekitar 68 juta tahun. Hal yang membuat temuan ini mengejutkan adalah adanya telur lain di dalam telur tersebut, sebuah fenomena yang selama ini hanya diketahui terjadi pada burung masa kini.

Fosil ini ditemukan di wilayah Formasi Lameta, Madhya Pradesh, India. Daerah tersebut memang dikenal sebagai salah satu lokasi sarang dinosaurus terbesar yang berasal dari periode Kapur Akhir (Late Cretaceous).

Para ilmuwan meyakini telur tersebut berasal dari titanosaurus, kelompok dinosaurus herbivora berleher panjang berukuran raksasa yang termasuk di antara hewan darat terbesar yang pernah menghuni Bumi. Penemuan ini bermula dari kegiatan survei lapangan pada tahun 2017 ketika tim peneliti menemukan 11 telur dinosaurus yang telah membatu dan tersusun dalam satu cekungan tanah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap telur memiliki diameter sekitar 15 sentimeter dengan bentuk yang hampir serupa satu sama lain. Pada awal pengamatan, tidak terlihat hal yang mencurigakan. Namun ketika salah satu telur dianalisis lebih lanjut melalui proses pemindaian, para ilmuwan menemukan struktur melengkung yang tidak biasa di bagian dalamnya.

Hasil pemindaian tersebut memperlihatkan adanya dua lapisan cangkang telur yang berbeda. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat telur lain yang berada di dalam telur tersebut. Para peneliti kemudian mengidentifikasi struktur itu sebagai fenomena ovum-in-ovo, yakni kondisi ketika sebuah telur terbentuk di dalam telur lainnya.

ADVERTISEMENT

Fenomena yang Umumnya Terjadi pada Burung

Sebelumnya, fenomena ovum-in-ovo hanya pernah tercatat pada burung modern. Kondisi ini biasanya terjadi ketika telur yang hampir selesai terbentuk justru kembali ke saluran reproduksi, lalu dilapisi kembali oleh cangkang baru.

Tim peneliti memaparkan karakteristik unik fosil tersebut dalam laporan ilmiah mereka.

"Telur ini memperlihatkan dua lapisan cangkang yang utuh, di mana satu cangkang berada di dalam cangkang lainnya," tulis para penulis dalam jurnal ilmiah yang dikutip oleh The Daily Galaxy.

Penemuan ini menjadi bukti pertama bahwa fenomena tersebut juga dapat terjadi pada dinosaurus. Selain itu, temuan ini memberikan wawasan baru mengenai sistem reproduksi dinosaurus, khususnya pada kelompok titanosaurus.

Menurut Guntupalli Prasad, peneliti yang memimpin studi dari University of Delhi, struktur tersebut menunjukkan bahwa dinosaurus mungkin memiliki sistem reproduksi yang mirip dengan burung.

"Adanya patologi ovum-in-ovo pada sarang titanosaurus menunjukkan bahwa dinosaurus ini mungkin memiliki anatomi reproduksi yang mirip dengan burung," jelas Prasad.

Selama ini, ilmuwan beranggapan banyak reptil purba memiliki sistem reproduksi sederhana. Namun temuan ini menunjukkan bahwa beberapa dinosaurus mungkin memiliki saluran reproduksi yang lebih kompleks.

Selain unik, fosil ini juga memperkuat teori bahwa burung modern merupakan keturunan dinosaurus. Kemiripan proses reproduksi antara titanosaurus dan burung memberi bukti tambahan tentang hubungan evolusi keduanya.

Penemuan ini sekaligus menunjukkan bahwa gangguan biologis seperti yang terjadi pada hewan modern juga bisa terjadi pada dinosaurus jutaan tahun lalu.

Bagi ilmuwan, satu telur fosil kecil ini membuka jendela baru untuk memahami bagaimana dinosaurus berkembang biak dan bagaimana evolusi mereka akhirnya melahirkan burung yang kita lihat saat ini.

Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.

(rns/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads