Iran menegaskan kapal-kapal nonmusuh tetap dapat melintasi Selat Hormuz, selama tidak terlibat dalam tindakan agresi terhadap Teheran.
Penegasan itu disampaikan Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui pernyataan di media sosial X pada Selasa (24/3) waktu setempat, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (25/3/2026).
"Kapal-kapal non-musuh, termasuk yang dimiliki atau terkait dengan negara-negara lainnya, dapat -- dengan syarat mereka tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang ditetapkan -- memperoleh manfaat dari perlintasan aman melalui Selat Hormuz dalam koordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang," jelas misi diplomatik tetap Iran untuk PBB.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Rentetan serangan itu menewaskan sedikitnya 1.340 orang di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Akibat serangan balasan tersebut, sedikitnya 13 tentara AS di kawasan Teluk dilaporkan tewas. Selain itu, sebanyak 290 tentara AS mengalami luka-luka, dengan 10 personel di antaranya menderita cedera serius.
Konflik yang terus berlangsung turut berdampak pada Selat Hormuz, jalur perairan strategis bagi pasokan energi global. Sebelum perang meletus, sekitar 20 juta barel minyak dunia melintasi jalur ini setiap hari.
Sejak awal Maret, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz secara efektif dibatasi. Kondisi ini memicu gangguan rantai pasok global, meningkatkan biaya pengiriman, dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.
(nvc/sud)