Tradisi Ekstrem Warga Perbatasan demi Silaturahmi Lebaran

Kabupaten Pangandaran

Tradisi Ekstrem Warga Perbatasan demi Silaturahmi Lebaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Selasa, 24 Mar 2026 17:30 WIB
Aktivitas silaturahmi warga di perbatasan Pangandaran, Jabar-Jateng.
Aktivitas silaturahmi warga di perbatasan Pangandaran, Jabar-Jateng. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Memasuki H+3 Lebaran, warga di perbatasan dua provinsi, Jawa Barat dan Jawa Tengah, masih mengandalkan jasa perahu rakit tradisional untuk bersilaturahmi.

Warga memadati titik penyeberangan sungai di Dusun Mekarsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Jasa rakit tetap menjadi primadona karena ampuh memangkas waktu tempuh secara signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika menempuh jalur darat via Kalipucang, warga Padaherang maupun Cilacap harus memutar selama satu jam. Namun dengan rakit, durasi perjalanan dapat dipangkas hingga setengahnya.

Selain efisiensi waktu, ongkos yang terjangkau menjadi alasan utama warga memilih moda transportasi ini ketimbang harus merogoh kocek lebih dalam untuk bahan bakar di jalur utama yang jauh.

ADVERTISEMENT

Cukup membayar Rp5.000, warga beserta sepeda motornya sudah bisa menyeberang. Jalur penghubung Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cilacap ini memang selalu diserbu warga setiap musim mudik dan balik Lebaran.

Kendati fasilitas keselamatan tampak sederhana, warga tetap menaruh kepercayaan tinggi pada jasa penyeberangan tradisional ini demi bisa menjumpai sanak saudara.

Satu perahu rakit mampu mengangkut 3 hingga 5 unit sepeda motor sekali jalan. Pantauan di lokasi pada siang hari menunjukkan antrean kendaraan masih mengular, menunggu giliran untuk menyeberangi aliran Sungai Citanduy tersebut.

Nuryanto, salah seorang warga Pangandaran, mengaku rutin menggunakan jasa rakit ini setiap tahun. "Ini dalam rangka silaturahmi Lebaran. Pakai rakit jauh lebih cepat daripada lewat darat. Kalau lewat Manganti atau Kalipucang itu jauh sekali, perbedaannya bisa sampai satu jam. Pakai rakit cuma setengah jam," ungkapnya.

Senada dengan Nuryanto, Saropah, warga asal Jawa Tengah, juga memilih rakit untuk mengunjungi keluarganya di Jawa Barat. "Harganya murah dan waktunya singkat. Cuma bayar Rp5.000 sudah sampai. Sangat membantu sekali untuk silaturahmi lintas provinsi," kata Saropah.

Lonjakan jumlah penumpang menjadi berkah tersendiri bagi para pemilik perahu rakit di musim Lebaran. Meski demikian, mereka mengklaim tetap berupaya mengutamakan keselamatan dengan memastikan kondisi perahu tetap laik operasi dan tidak melebihi kapasitas angkut.

Penyeberangan rakit antarprovinsi ini menjadi bukti nyata bagaimana tradisi silaturahmi tetap lestari melalui kearifan lokal. Di tengah arus modernisasi, moda transportasi tradisional ini tetap bertahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di wilayah perbatasan tersebut.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads