Sukabumi Macet H+1 Lebaran, Bottleneck Jadi Pemicu Utama

Sukabumi Macet H+1 Lebaran, Bottleneck Jadi Pemicu Utama

Siti Fatimah - detikJabar
Senin, 23 Mar 2026 07:17 WIB
Situasi arus lalu lintas di jalan arteri dekat GT Parungkuda, Minggu (22/3/2026) malam.
Situasi arus lalu lintas di jalan arteri dekat GT Parungkuda, Minggu (22/3/2026) malam. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Memasuki H+1 Lebaran Idulfitri 2026, arus lalu lintas di wilayah Sukabumi mengalami lonjakan signifikan. Ribuan kendaraan dari berbagai arah memadati jalur menuju kota maupun kawasan sekitarnya.

Pantauan di lokasi Minggu (22/3/2026) pukul 22.00 WIB, kepadatan arus lalu lintas terjadi di jalur arteri GT Parungkuda Tol Bocimi sejak pukul 18.00 WIB. Mayoritas kendaraan yang melintas berpelat nomor Jakarta dan Bogor. Terlihat sejumlah petugas melakukan penjagaan dan pengaturan lalu lintas (gatur lantas).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapolres Sukabumi AKBP Samian mengatakan, peningkatan volume kendaraan terjadi drastis hingga mencapai belasan ribu unit dalam satu hari. Kendaraan yang masuk mayoritas berasal dari Exit Tol Parungkuda Tol Bocimi dan Seksi 3 via Karangtengah yang dibuka secara terbatas.

"Situasi lalin di wilayah Polres Sukabumi aman terkendali. Tetap bisa berputar walaupun tersendat karena intensitas kendaraan meningkat cukup tinggi," kata Samian di Pos Pelayanan Terpadu Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Minggu (22/3/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, kendaraan yang masuk melalui Tol Bocimi fungsional tercatat mencapai 3.871 unit. Sementara itu, kendaraan yang keluar melalui Gerbang Tol (GT) Parungkuda hingga sore hari sudah menembus angka 7.300 unit.

"Diperkirakan hingga penutupan pukul 24.00 WIB jumlah kendaraan bisa mencapai 15 ribuan," ujarnya.

Lonjakan tersebut memicu kepadatan di sejumlah titik, terutama di kawasan Exit Tol Parungkuda menuju jalur arteri. Polisi pun menerapkan rekayasa lalu lintas guna mengurai kemacetan.

"Kita terapkan one way sepenggal dari Simpang Ratu ke Exit Tol Parungkuda untuk memperlancar arus ke arah Cibadak," jelasnya.

Menurut Samian, rekayasa tersebut cukup efektif mengurangi kepadatan, terutama dari arah Cibadak menuju Parungkuda maupun sebaliknya. Meski begitu, kepadatan tetap terjadi akibat penyempitan jalan di jalur arteri. Dari tiga lajur, kendaraan harus menyatu menjadi satu lajur di jembatan yang masih dalam proses pembangunan.

"Terjadi bottleneck setelah keluar exit tol. Kapasitas jalan tidak sebanding dengan volume kendaraan," ungkapnya.

Ia menegaskan, rekayasa lalu lintas dilakukan untuk menjaga arus kendaraan tetap bergerak meski dalam kondisi padat. "Rekayasa ini untuk memperingan kepadatan, sehingga kendaraan masih bisa berjalan," sambungnya.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan dan mengikuti arahan petugas di lapangan guna menghindari kemacetan panjang. Sejumlah skema rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara situasional sesuai kondisi di lapangan.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads