Dahulu kala, sempat ada zaman di mana warga Garut sangat menunggu momen lebaran untuk satu alasan. Bukan karena saling berbagi Tunjangan Hari Raya (THR), melainkan karena festival rakyat dengan adu bagong hingga pertunjukan kuda yang sangat seru pada zamannya.
Momen tersebut, terjadi pada tahun 1800-an. Seperti halnya tercatat dalam laporan koran Bataviaasch Nieuwsblad, yang terbit pada 29 September 1888. Dalam artikel berjudul 'Lebaran di Garut', media berbahasa Belanda itu menceritakan pengalaman jurnalisnya, saat mengikuti prosesi lebaran di Garut.
Dalam artikel tersebut diceritakan, Pesta Rakyat dilaksanakan di Alun-alun Garut, tepatnya di depan Babancong, mulai hari pertama lebaran berlangsung. Agenda pertama dari Pesta Rakyat ini, adalah adu bagong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua babi, yang rencananya akan dipersembahkan untuk hiburan para tamu pesta pada hari pertama, telah mati kecuali satu. Seekor babi yang kuat dan gagah perkasa, yang mampu membuat anjing-anjing berbalik, bahkan hingga akhir sehingga meskipun terluka parah, babi itu tetap menang," tulis koran tersebut.
Masyarakat dilaporkan sangat antusias, meskipun para menak yang diprioritaskan untuk menonton di posisi yang nyaman. Di momen itu, bahkan seorang warga Garut dari etnis Tionghoa sempat berduel dengan babi hutan di arena laga.
"Orang Tionghoa itu memukul babi itu dengan tongkat begitu terampil, dan begitu kuat sehingga hewan itu akhirnya menyerah di tengah sorak-sorai para penonton dan diseret pergi oleh kapten sebagai miliknya," katanya.
Ilustrasi umat Islam Garut tempo dulu Foto: KITLV Leiden University |
Pada babak kedua festival, kemudian digelar helatan adu domba. Pertunjukan yang lestari hingga kini, meskipun kini berganti nama menjadi adu ketangkasan domba Garut. Jurnalis Bataviaasch Nieuwsblad mengaku heran dengan bentukan domba Garut, yang dalam artikel tersebut disebut domba Preanger.
"Domba jantan ini, di sisi lain, berbadan tegap, berkaki kuat, besar, tertutup bulu lebat, meskipun sangat pendek, memiliki ekor, dan tanduk melengkung yang indah," ungkapnya.
Domba-domba jantan yang gagah dengan tanduk melingkar itu diadu satu lawan satu. Suara dari benturan kepala domba, banyak membuat orang Eropa merasa ngeri dan mengernyitkan dahi. Masyarakat jelata, hanya menonton pertunjukan ini. Adapun para pemilik domba, disebut media Belanda ini adalah 'orang-orang berdasi'.
"Hewan-hewan itu dipaksa untuk saling berkelahi berpasangan," katanya.
Di segmen ketiga, panitia menyelenggarakan lomba balap karung, yang khusus diikuti para anak-anak pejuang. Mereka beradu cepat berlari menggunakan karung, berebut hadiah sehelai pakaian sederhana.
"Hanya sejumlah kecil anak laki-laki yang berpartisipasi. Semuanya keturunan Pradjoerit, dengan kain-kain sederhana yang diberikan sebagai hadiah kepada para pemenang," katanya.
Momen Festival Rakyat ini, kemudian ditutup dengan atraksi berkuda, yang dimainkan para lurah dan kepala desa. Berbekal kuda masing-masing, para pemain beradu cepat meraih kain eksklusif dari bupati yang digantung di tengah-tengah lapangan.
"Mereka harus meraih kain sambil berlari. Ini bukan tugas yang mudah, karena tali itu begitu mereka berada di bawahnya, ditarik dengan cepat ke atas. Kain-kain yang diraih itu, pasti akan dikenakan ketika desa mereka dikunjungi pemerintah," pungkasnya.
Suasana Lebaran hingga Tradisi Baju Dulag
Beberapa jam sebelum festival rakyat itu digelar, suasana Idul Fitri tetap berlangsung khidmat. Seperti tercatat dalam laporan koran Java Bode, tanggal 24 Maret 1896. Media yang juga berbahasa Belanda itu mereportase suasana khidmat di hari Idul Fitri.
"Pagi-pagi sekali, di hari Lebaran, bupati pergi ke masjid untuk mengikuti ibadah keagamaan yang agung. Setelah itu, ia diarak dalam prosesi megah menuju kediamannya, kaboepaten. Bergerak perlahan, prosesi mendekati kaboepaten, tembakan senjata, kembang api, dan gamelan mengumumkan kembalinya bupati kepada rakyat," ucap media tersebut.
Momen berakhirnya puasa ini, sangat dinanti-nanti oleh masyarakat. Rakyat yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, mengajukan cuti kepada para majikannya. Mereka juga dilaporkan meminta uang muka upah bulanan untuk berbelanja.
"Mereka meminta uang muka upah dan beberapa hari cuti. Pakaian baru para pelayan mereka juga menunjukkan adanya perayaan," katanya.
(yum/yum)

