Pagi itu, pelataran Balai Kota Bandung tampak khidmat saat ribuan warga datang untuk melaksanakan salat Idulfitri berjamaah. Di tengah sejuknya udara Kota Kembang, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan hadir berbaur bersama warga dalam barisan saf yang rapat.
Momen ini bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, melainkan sebuah titik balik untuk lahir kembali dengan pikiran yang lebih jernih dan hati yang lebih peka.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan hadir di tengah-tengah jemaah dengan pesan yang tidak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga memotret realitas sosial kota. Baginya, Idulfitri adalah kegembiraan kolektif yang luar biasa, namun perayaan ini tidak boleh membuat mata kita buta terhadap realitas sosial yang masih membayangi sudut-sudut kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menilik Ketimpangan di Balik Kemeriahan
Di balik kegembiraan mengenakan pakaian terbaik dan hidangan lezat di meja makan, Farhan menyelipkan pengingat yang tajam. Ia menyoroti fenomena mudik yang mencapai 130 juta pergerakan manusia secara nasional sebagai penggerak ekonomi yang luar biasa. Sayangnya, aliran kesejahteraan itu belum menyentuh semua lapisan dengan merata.
Ia menceritakan pengalaman emosionalnya saat mengunjungi salah satu sudut kota beberapa hari lalu. Ia bertemu seorang ibu yang ditinggalkan suaminya dan harus berjuang menghidupi delapan anak. Pengalaman itu menjadi cermin dari tantangan besar yang dihadapi Bandung saat ini.
"Gini ratio, yaitu rasio angka kerentanan dan ketimpangan ekonomi sosial di Kota Bandung ini masih salah satu yang tertinggi. Dari angka 0 sampai 1, kita mencatatkan 0,42. Masih di atas angka internasional yang hanya 0,38," tegas Farhan.
Angka tersebut, menurut Farhan, harus menjadi motivasi bagi pemerintah dan masyarakat untuk bekerja lebih keras dalam meratakan pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa ibadah di bulan suci harus berlanjut menjadi aksi sosial yang sistematis melalui pengelolaan zakat.
"Zakat fitrah, zakat mal, infak dan sedekah adalah salah satu bentuk upaya kita untuk memastikan harta yang kita miliki tidak tertumpuk hanya pada satu kelompok tertentu super kaya, tetapi menyebar dan mengalir kepada seluruh warga Kota Bandung. Itulah inti dari ekonomi dakwah," jelasnya.
Tantangan Nyata: Krisis Sampah
Selain isu kemiskinan dan pengangguran yang mencapai 7,4% dari angkatan kerja produktif, Farhan juga memberikan peringatan keras mengenai masalah lingkungan. Bandung menghasilkan 1.600 hingga 1.800 ton sampah per hari, sebuah sisa dari aktivitas ekonomi yang jika tidak dikelola akan menjadi bencana.
Ia mengajak seluruh jajaran pemerintahan mulai dari tingkat camat hingga RW untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam memilah sampah dari rumah tangga masing-masing.
Menutup refleksinya, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat untuk menghadapi tantangan kota dengan optimisme dan semangat kesetaraan. Ia menekankan bahwa solusi atas masalah kemiskinan maupun lingkungan hanya bisa dicapai jika semua pihak bergerak dalam irama yang sama.
"Insyaallah semuanya bisa kita atasi, asal kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, dan bergerak sama cepatnya," pungkas Farhan.
(sud/sud)










































