Hobi merupakan aktivitas yang membuat kita senang mengerjakannya. Tidak jarang hobi membuka pintu-pintu baru jika seseorang mengerjakannya dengan tekun. Bermain gitar, melukis, dan membuat aksesoris kerajinan tangan juga dapat disebut hobi atau minat. Sering kali hobi membawa kepada karier yang lebih luas seperti membuka usaha, Septya seorang wanita yang memulai berjualan aksesoris seperti cincin dan gelang yang unik.
Ia memulai perjalanan menjual aksesoris sejak tahun lalu, Septya tertarik untuk membuat kerajinan tangan dan telah ia geluti dari lama. Berawal dari iseng, ia mencoba menawarkan kepada teman dekatnya tanpa pikir akan dijual. Respon yang ia dapatkan terhadap aksesoris buatannya tangannya ternyata positif, hal tersebut menjadi berita baik baginya untuk mengembangkannya menjadi usaha yang mempunyai keuntungan.
"Kalau aksesoris ini kebetulan 1 tahun yang lalu sih. Februari 2025 kemarin. Awalnya hobi sih. Terus iseng-iseng custom dulu.Awalnya cuma 5 custom. Terus ke sini-sininya ternyata banyak peminatnya. Kalau misalkan ini paling pop up aja sih kak," ujar Septya kepada detikJabar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini ia beri nama Bye Risk. Usaha yang ia jual tidak lain ialah aksesoris yang sering digunakan oleh anak muda atau Generasi-Z agar terlihat gaul. Aksesoris seperti gelang, kalung, cincin, dan anting-anting dapat ditemukan di sana. Saat ini usahanya berjalan dari kafe ke kafe sebagai pop-up market atau lebih dikenal oleh dengan pasar temporal. Aksesoris yang ia buat hanya beberapa, sebagian lainnya adalah milik rekannya yang punya keahlian lebih baik dalam membuat aksesoris, sehingga Septya hanya menjualnya.
"Dari event kafe ke kafe. Kalau online kebetulan belum ada. Enggak, ada orang lain yang membuat. Paling aku cuma jualin aja sih. Bagian pemasaran aja. Kalau online kita belum ada sih kak," kata Septya.
Saat ini aksesoris yang ia jual masih dalam lingkup luring, sehingga pengunjung dapat datang langsung ke tenant dari usaha Septya. Karena keterbatasan sumber daya manusia, usaha aksesoris Septya dikelola oleh dirinya dan beberapa temannya, acap kali mereka hadir pop-up market yang ada di Bandung. Tantangan tersebut mengharuskan dia untuk ekstra bekerja keras. Walaupun penjualan online belum tersedia, usaha Septya dapat ditemukan di Instagram untuk mengetahui lokasi tenant Bye Risk.
"Paling kita offline aja. Dari pop up aja. Kalau aksesoris kayak gini orang mikirnya wah rame terus nih gitu kan. Banyak keuntungannya. Tapi ternyata kalau misalkan dilihat-lihat kerugiannya itu mulai dari barang yang cepat merusak, terus kan customer juga kadang suka gak sengaja merusakin gitu. Kadang kerugiannya dari situ aja sih," ungkap Septya.
Tantangan lain dari mengelola usaha aksesoris ialah kerugian yang harus ia akali. Berbeda dengan usaha makanan atau minuman yang notabene merupakan kebutuhan pokok sehingga dapat tiap hari didatangi oleh pengunjung, aksesoris merupakan usaha yang bergerak di bidang fesyen sebagai perhiasan sehingga tidak setiap waktu pengunjung membeli. Itu lah jadi tantangan bagi Septya.
"Kalau aku jujur sih gak pake ya (aksesoris). Ya cuman karena seneng aja liatnya sih. (Jualan selain aksesoris) Untuk saat ini paling cuma aksesoris dulu sih," kata Septya.
Septya berharap aksesoris yang ia jual dapat berkembang dan bisa segera memperdagangkan gelang, anting, dan kalung secara luas baik offline maupun online. Ia berencana memperluas area penjualan tidak hanya di Bandung, tetapi juga di kota lainnya yang menurutnya mempunyai nilai pasar yang jauh lebih besar.
"Kalau kita sih sekarang fokusnya masih di daerah Bandung dulu ya. Tapi soon mungkin bisa ke luar kota juga. Kalau saat ini saya telah lulus jadi sekarang sudah kerja jualan aksesoris di sini." Tutup Septya.
(yum/yum)










































