Bosscha ITB Pantau Hilal 1 Syawal di Lembang dan Aceh Besok

Bosscha ITB Pantau Hilal 1 Syawal di Lembang dan Aceh Besok

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 18 Mar 2026 10:14 WIB
Ilustrasi metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan kamariah.
Ilustrasi pemantauan hilal (Foto: Getty Images/JasonDoiy).
Bandung -

Observatorium Bosscha ITB bersiap melakukan pengamatan hilal pada Kamis (19/3/2026) besok. Tim astronom akan menerjunkan teleskop dan instrumen pencitraan di dua lokasi berbeda, yakni di Observatorium Bosscha, Lembang dan di Observatorium Lhok Nga, Aceh. Pengamatan ini juga didukung penuh oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Peneliti Observatorium Bosscha ITB, Yatny Yulianty menjelaskan, informasi astronomis terkait posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, menunjukkan posisi bulan berada sangat dekat dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam.

"Berdasarkan hasil perhitungan Observatorium Bosscha, data astronomis untuk 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi bulan berada sangat dekat dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam," katanya dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (18/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yatny mengungkapkan parameter geometri Bulan menunjukkan bahwa elongasi geosentrik atau jarak sudut Bulan terhadap Matahari dilihat dari pusat Bumi di wilayah Indonesia berkisar antara 4,6Β° hingga 6,2Β°, dari wilayah timur hingga barat.

Sementara itu, elongasi toposentrik atau jarak sudut Bulan terhadap Matahari dari sudut pandang pengamat di permukaan Bumi berada pada kisaran 4,0Β° hingga 5,5Β°. Ketinggian Bulan saat Matahari terbenam juga terpantau relatif rendah.

ADVERTISEMENT

Peta ketinggian menunjukkan bahwa hilal di wilayah Indonesia bagian barat berkisar antara 0Β° hingga 3Β° di atas ufuk. Kondisi ini menandakan bahwa Bulan berada sangat dekat dengan Matahari di langit barat dan berada pada ketinggian yang rendah di atas ufuk.

Dia menjelaskan secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati. "Keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan yang digunakan," jelasnya.

Yatny, yang juga Koordinator Kegiatan Publik Divisi Pendidikan dan Penjangkauan Publik Observatorium Bosscha, menyebut selain di Bandung Barat, Observatorium Lhok Nga dipilih karena parameter posisi Bulan di wilayah Aceh berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal. Pengamatan di lokasi tersebut menjadi penting untuk memverifikasi kondisi batas (constraint) dari kriteria tersebut melalui pengamatan langsung.

"Kegiatan pengamatan ini juga merupakan bagian dari penelitian jangka panjang Observatorium Bosscha mengenai visibilitas hilal yang bertujuan untuk memperkaya basis data pengamatan bulan sabit muda di wilayah Indonesia," tuturnya.

Yatny menerangkan bahwa penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Syawal, tetap menjadi kewenangan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama dalam sidang isbat pada 19 Maret 2026.

"Observatorium Bosscha berperan menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian hilal sebagai masukan ilmiah yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan tersebut," terangnya.

Sebagai institusi pendidikan dan penelitian di bidang astronomi, Observatorium Bosscha ITB rutin melaksanakan pengamatan bulan sabit muda hampir setiap bulan. Setiap tahunnya, Bosscha menjadi salah satu rujukan utama untuk penetapan awal bulan Hijriah bagi Kementerian Agama dan masyarakat umum.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Pantau Hilal Awal Zulhijah 1447 H dari Rooftop Kemenag DKI"
[Gambas:Video 20detik] (wip/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads