Langit Timur Tengah kembali menjadi panggung pertarungan teknologi militer yang kian kompleks. Bukan lagi sekadar adu kekuatan konvensional, konflik terbaru memperlihatkan bagaimana strategi cerdas menekan sistem pertahanan paling canggih sekali pun.
Terbukti dari sederet senjata yang digunakan Iran, bisa membuat sistem pertahanan yang digalang Amerika dan Israel ketar-ketir.
Drone 'Orang Miskin' yang Sulit Dicegah
Iron Drone Shahed. (Photo by Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images) Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto |
Eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir Februari hingga awal Maret 2026 menempatkan Shahed-136 sebagai aktor utama dalam palagan udara. Drone 'kamikaze' buatan Iran ini membuktikan bahwa teknologi canggih tak selamanya harus mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan media internasional seperti The New York Times dan Reuters menyoroti bagaimana stok persenjataan Iran tetap menjadi ancaman jangka panjang meski terus digempur. Dengan biaya produksi yang hanya berkisar $20.000 hingga $50.000 per unit, pesawat nirawak menjadi senjata asimetris yang berbahaya dan mematikan. Strategi utamanya bukan terletak pada kecepatan, melainkan pada serangan kawanan (swarm attack) yang dirancang untuk membanjiri sistem radar dan pertahanan udara lawan hingga titik jenuh.
Drone ini memiliki jangkauan operasional hingga 2.500 km, bahkan mencapai 4.000 km pada varian terbaru, dengan hulu ledak seberat 50-90 kg. Ketangguhannya teruji dalam berbagai serangan terhadap pangkalan militer AS dan infrastruktur strategis.
Fenomena ini memaksa negara-negara adidaya mengeluarkan biaya intersepsi yang jauh lebih mahal, menciptakan ketidakseimbangan ekonomi perang yang signifikan di mana satu rudal pertahanan bisa berharga puluhan kali lipat dari harga drone yang dijatuhkannya.
Sejjil, Rudal yang Menari
Rudal Sejjil Iran yang bisa 'menari' Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto |
Angkatan Bersenjata Iran pertama kalinya menggunakan rudal canggih Sejjil dalam membalas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang memanas sejak 28 Februari 2026 lalu.
"Untuk pertama kali dalam responsnya terhadap serangan AS-Israel, Iran meluncurkan rudal Sejjil," sebut Al Jazeera dalam laporannya.
Laporan Al Jazeera juga menyebut rudal Sejjil ini menggunakan bahan bakar padat, sehingga lebih sulit dideteksi dan dicegat di udara.
Laporan tersebut dikonfirmasi oleh media Iran, Press TV, yang menyebut bahwa rudal Sejjil telah diluncurkan dalam gelombang ke-54 operasi "True Promise 4" terhadap target Israel dan AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dilansir Press TV, Senin (16/3/2026), mengumumkan pada Minggu (15/3) waktu setempat bahwa operasi pembalasan itu dilaksanakan dengan kode operasi "Ya Zahra".
IRGC mengatakan bahwa sejumlah besar rudal, termasuk Khorramshahr yang merupakan rudal super berat dengan hulu ledak ganda, kemudian Kheybar, Qadr, dan Emad, telah dikerahkan.
Rudal Sejjil yang merupakan rudal berbahan bakar padat, sebut Press TV dalam laporannya, dikerahkan untuk pertama kalinya sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari.
Disebutkan Press TV bahwa rudal Sejjil diluncurkan untuk menyerang pusat komando dan kendali rezim Israel serta infrastruktur militer penting. Dalam postingannya via X, komandan Angkatan Udara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, mengonfirmasi peluncuran rudal Sejjil selama gelombang serangan pembalasan terbaru.
Sementara itu, laporan media-media lokal Israel menyebutkan bahwa sirene peringatan serangan udara berbunyi di area ibu kota Tel Aviv, Herzliya, dan setidaknya di 141 lokasi lainnya di berbagai wilayah Israel.
Rudal Sejjil, menurut laporan NDTV, merupakan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat dengan, dua tahap pelepasan, yang diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer. Kapasitas muatan rudal Sejjil mencapai 700 kilogram.
Karena kemampuannya bermanuver di ketinggian, rudal Sejjil dijuluki "dancing missile", merujuk pada kemampuannya untuk menghindari sistem pertahan rudal seperti Iron Dome milik Israel.
Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter sekitar 1,25 meter, dan berat sekitar 23.600 kilogram. Desain berbahan bakar padatnya, sebut CSIS, menawarkan keunggulan strategis, yang memungkinkan rudal ini dipersiapkan dan diluncurkan lebih cepat daripada sistem berbahan bakar cair lainnya.
Bom Beranak yang Sulit Dicegat
Munisi tandan Foto: Unwired |
Israel menyatakan Iran telah menembakkan senjata munisi tandan (cluster munitions) atau bom beranak, menambah tantangan bagi pertahanan udara Israel yang sudah kewalahan. Rudal Iran dilengkapi senjata itu dan sukar diantisipasi.
Hulu ledak munisi tandan pecah di ketinggian tinggi, menyebarkan puluhan anak bom (bomblets) lebih kecil di area luas. Bom-bom kecil ini, di malam hari bisa terlihat seperti bola api oranye, sulit dicegat dan mematikan.
Otoritas Israel beberapa hari terakhir berusaha mengedukasi masyarakat tentang bahayanya. Pasalnya, bom yang belum meledak dapat terus bertahan di tanah. Setidaknya tiga orang tewas akibat serangan munisi tandan.
Senjata ini telah digunakan beberapa dekade dalam berbagai konflik di seluruh dunia, termasuk oleh Israel ketika bertempur melawan kelompok Hizbullah di Lebanon pada tahun 2006.
Anak Bom yang Menyebar Luas
Setelah munisi induk diluncurkan, ia melepas sub-munisi (bomblets) lebih kecil pada ketinggian 7-10 kilometer. Anak-anak bom tersebar di area luas, beberapa ratus meter hingga beberapa kilometer.
Kritikus berpendapat munisi tandan membunuh atau melukai secara membabi buta, dan anak bom yang belum meledak tetap berbahaya jauh setelah digunakan. Di Israel, munisi ini bisa menjadi sangat berbahaya karena sebagian besar rudal diarahkan ke wilayah padat penduduk.
"Bom tandan tidak menimbulkan kerusakan nyata pada bangunan, melainkan pada manusia," kata Yehoshua Kalisky, peneliti senior di Institute for National Security Studies yang dikutip detikINET dari Associated Press
Iron Dome kewalahan
Pejabat militer Israel mengatakan sekitar separuh dari proyektil yang diluncurkan Iran ke arah Israel adalah munisi tandan. Sistem pertahanan rudal Arrow telah melakukan tugas dengan baik mencegat rudal balistik. Namun, jika munisi tandan dilepas sebelum rudal dihancurkan, tidak banyak yang bisa dilakukan.
Sistem Iron Dome Israel diarahkan untuk mencegat roket lebih kecil yang ditembakkan dari jarak pendek dan ketinggian lebih rendah. Namun, sistem ini tidak dirancang untuk menghancurkan munisi tandan setelah mereka menyebar menjadi puluhan anak bom.
Tak seperti bahan peledak lebih berat, anak-anak bom ini, sering kali berbobot kurang dari 3 kilogram, paling berbahaya bagi target seperti mobil, etalase toko, atau orang-orang yang terjebak di luar tempat perlindungan.
Sub munisi ini juga lebih sering gagal meledak dibandingkan jenis hulu ledak lainnya. Senjata yang belum meledak dapat bertindak seperti ranjau darat, meledak di kemudian hari.
(yum/yum)



