Wali Kota Bandung Muhammad Farhan angkat bicara terkait tragedi kematian siswa kelas XI SMAN 5 Bandung, Fahdly Arjasubrata (17). Korban meninggal dunia di Jalan Cihampelas, Kota Bandung pada Jumat (13/3) malam setelah pulang dari agenda buka puasa bersama (bukber) kawan-kawannya.
Kasus ini masih didalami kepolisian. Farhan mengindikasikan bahwa Fahdly meninggal dunia bukan karena aksi tawuran seperti kabar yang beredar, melainkan menjadi korban serangan geng motor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iyah, indikasinya clear (soal kematian Fahdly, siswa SMAN 5 Bandung Jalan di Cimahpelas diduga akibat geng motor)," kata Farhan saat ditanya awak media, Senin (16/3/2026).
Farhan menyebut aktivitas geng motor kini mulai marak kembali di jalanan. Bahkan belum lama ini, dia menemukan langsung di lapangan adanya kelompok motor dengan jumlah personel yang lebih kecil dari biasanya.
"Kelihatannya ada geng motor yang hidup-hidup lagi nih. Kemarin saya lihat sendiri di Jalan Sumbawa, persimpangan Jalan Belitung. Saya lagi naik motor sore-sore, udah mau lampu hijau, tiba-tiba dari sisi Jalan Belitung berombongan tuh enggak sampai 20 orang," ungkapnya.
"Jadi sekarang kelompoknya kecil-kecil, pada pakai baju hitam, knalpotnya brong, bawa bendera negara asing. Ciri-cirinya itu," ujar Farhan menambahkan.
Oleh karena itu, Farhan memastikan Pemkot Bandung tidak akan menoleransi aktivitas apa pun terkait geng motor. Patroli akan digencarkan kembali untuk mempersempit ruang gerak mereka yang berniat melakukan aksi kejahatan jalanan.
"Masalah geng motor, saya sudah lihat sendiri, korbannya sudah ada. Korbannya anak kita sendiri, maka tidak akan ada toleransi untuk geng motor. Tidak boleh kumpul-kumpul pakai motor di pinggir jalan, tidak boleh pawai-pawai bawa motor," katanya.
"Maka Pemerintah kota Bandung serta forkopimda akan melakukan patroli aktif setiap hari untuk mempersempit pergerakan geng motor. Maka geng motor ini akan dikenai tindakan preventif dan represif terukur," imbuhnya.
Farhan mengimbau klub motor yang kerap nongkrong di kawasan Asia Afrika untuk menghentikan sementara aktivitasnya demi menghindari potensi bentrokan. Jika masih ada yang nekat, Farhan memastikan petugas tak segan memberikan sanksi tegas di lapangan.
"Juga kepada para bobotoh Persib jangan mau ditunggangi oleh para perusuh. Jangan sampai ada tuduhan bahwa setiap kali bobotoh ngumpul, maka pasti terjadi kerusuhan. Nah, itu bagian dari kegiatan preventif yang kita lakukan," ungkapnya.
"Sedangkan kegiatan represifnya, kalau sampai terjadi pelanggaran, kita tindak tegas. Kalau ada yang ngumpul dibubarkan. Kita himbau untuk dibubarkan," pungkasnya.
(ral/orb)










































