Sebagian besar orang dewasa memiliki sekitar 32 gigi permanen, dengan catatan gigi dirawat dengan baik sejak masa kanak-kanak. Jumlah tersebut bahkan bisa berkurang apabila gigi bungsu harus dicabut karena alasan medis.
Namun, tidak semua orang memiliki jumlah gigi yang sama. Pada beberapa kasus, seseorang dapat memiliki gigi lebih banyak dari jumlah normal tanpa disadari. Melansir detikHealth, kondisi inilah yang dialami oleh Prathab Muniandy, pria asal Malaysia yang kini berusia 42 tahun.
Muniandy kini tercatat sebagai pria dengan jumlah gigi terbanyak di dunia menurut Guinness World Records. Menariknya, ia baru mengetahui kondisi tersebut ketika usianya telah memasuki 30-an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah itu bermula secara tidak sengaja pada 2021. Saat itu, Muniandy tengah makan malam bersama keluarganya. Dalam suasana santai, mereka mulai menghitung jumlah gigi yang dimiliki Muniandy. Hasilnya cukup mengejutkan.
"Kami menghitung bersama dan menemukan bahwa saya memiliki 38 gigi saat itu. Rontgen gigi kemudian menunjukkan bahwa ada empat gigi lagi yang belum tumbuh," kata Muniandy.
Temuan tersebut membuatnya semakin penasaran. Setelah pemeriksaan lanjutan, ia akhirnya mengetahui bahwa jumlah giginya lebih banyak dari yang diperkirakan.
"Pada awal tahun 2023, saya menyadari bahwa total gigi saya mencapai 42. Untungnya, sebagian besar tumbuh lurus tanpa komplikasi," ujarnya.
Meski memiliki lebih banyak gigi dari rata-rata orang dewasa, Muniandy mengaku kondisi itu tidak terlalu memengaruhi aktivitas sehari-harinya. Ia hanya perlu memberikan perhatian ekstra dalam merawat kesehatan gigi.
Menurutnya, orang lain pun jarang menyadari keunikan tersebut hingga ia sendiri menunjukkannya.
"Rasanya luar biasa dan cukup istimewa mengetahui bahwa saya memegang rekor dunia sebagai orang dengan gigi terbanyak," tambahnya.
Dalam dunia medis, kondisi memiliki jumlah gigi lebih dari normal dikenal sebagai hiperdontia. Kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 0,1 hingga 3,8 persen populasi.
Spesialis gigi Dr. Ollie Jupes menjelaskan bahwa hiperdontia umumnya berkaitan dengan faktor genetik atau gangguan pada lamina gigi, yakni jaringan sel tempat gigi terbentuk selama masa perkembangan.
Menurutnya, jika tidak menimbulkan masalah, gigi tambahan biasanya tidak perlu dicabut. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan karena berpotensi menimbulkan komplikasi.
"Masalahnya adalah jika hal itu mencegah pembersihan yang baik atau stagnansi, dan membuat pasien lebih rentan terhadap kerusakan gigi atau penyakit gusi. Hal lainnya adalah dapat menyebabkan disfungsi rahang jika menghentikan penutupan gigi di kedua sisi rahang secara bersamaan," jelas Dr. Jupes.
Kasus Serupa pada Anak Usia 11 Tahun
Meski Muniandy kini memegang rekor pria dengan jumlah gigi terbanyak, dunia medis pernah mencatat kasus yang jauh lebih ekstrem.
Pada 2011, sebuah laporan kasus mendokumentasikan seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang memiliki total 81 gigi di dalam mulutnya. Jumlah tersebut terdiri atas 18 gigi susu, 32 gigi permanen, serta 31 gigi supernumerary atau gigi tambahan.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa banyaknya gigi tambahan kemungkinan berkaitan dengan kelainan genetik. Karena jumlahnya sangat banyak, sebagian besar gigi harus dicabut melalui prosedur yang direncanakan secara hati-hati.
"Dengan begitu banyak gigi supernumerary, pencabutan gigi harus dijadwalkan dengan hati-hati agar tidak membahayakan integritas tulang rahang atas dan rahang bawah," demikian penjelasan dalam laporan kasus tersebut.
Penelitian itu juga mencatat bahwa tidak ada perbedaan morfologis yang jelas antara gigi supernumerary dan gigi permanen.
"Sebagian besar gigi yang belum erupsi menunjukkan perubahan bentuk, sehingga tidak praktis untuk menempatkannya di lengkung gigi sebagai bagian dari tujuan perawatan ortodontik," katanya.
Menariknya, seperti yang dialami Muniandy, anak perempuan tersebut juga tidak menyadari bahwa dirinya memiliki gigi tambahan. Ia baru memeriksakan diri ke dokter gigi setelah mengalami masalah pada gigi susunya, yakni adanya fragmen akar yang tertinggal setelah gigi tanggal.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth
(sao/dir)











































