Kemarau di Jabar Akan Datang Lebih Cepat

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 12 Mar 2026 16:40 WIB
Ilustrasi kemarau. (Foto: Engin Akyurt/Pexels)
Bandung -

Meski hujan masih mengguyur, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Jawa Barat pada 2026 akan datang lebih cepat.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan model prediksi iklim periode normal 1991-2020, musim kemarau tahun ini diprakirakan datang lebih awal dengan sifat hujan didominasi bawah normal di sebagian besar wilayah.

"Awal musim kemarau diprediksi terjadi bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei 2026," kata Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2026).

Ayu, sapaan karib Teguh Rahayu, mengungkapkan awal musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Maret di 1 ZOM (2,4%) yang meliputi wilayah Bekasi bagian utara, Kota Bekasi bagian utara, dan Karawang bagian barat laut.

"Selanjutnya pada April 2026, 4 ZOM (9,8%) diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta bagian timur laut, Subang bagian utara, Indramayu, serta sebagian wilayah Cirebon," ungkapnya.

Ayu menjelaskan, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sebanyak 23 ZOM (56,1%) itu meliputi sebagian wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, serta wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Banjar.

"Kemudian pada Juni 2026, 12 ZOM (29,3%), musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian barat laut, Bandung Raya, Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan, dan Pangandaran bagian barat. Selain itu terdapat 1 ZOM bertipe satu musim (2,4%)," jelasnya.

"Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan Bawah Normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13-15 dasarian dan diprediksi memiliki durasi lebih panjang dari normal," tambahnya.

Sementara itu, dengan sifat hujan yang didominasi bawah normal dan durasi kemarau yang cenderung lebih panjang, terdapat sejumlah potensi dampak yang perlu diwaspadai, yakni kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air bersih, gangguan irigasi pertanian, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

"BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kekeringan, penurunan ketersediaan air, gangguan irigasi pertanian, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih optimal dan penyesuaian kalender tanam.

Informasi ini diharapkan menjadi acuan dalam perencanaan sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi bencana di wilayah Jawa Barat," pungkasnya.




(wip/orb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork