Ukraina Buat Drone Murah Lawan Sepadan Drone Kamikaze Iran

Kabar Internasional

Ukraina Buat Drone Murah Lawan Sepadan Drone Kamikaze Iran

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Selasa, 10 Mar 2026 17:30 WIB
Drone pencegat Ukraina
Drone pencegat Ukraina (Foto: Euro news)
Kyiv -

Teknologi penangkal drone yang dikembangkan Ukraina dilaporkan mulai menarik perhatian sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Sejak tahun 2022, Kyiv mengembangkan sistem pertahanan udara berlapis yang kompleks untuk menghadapi serangan udara, khususnya dari pesawat tanpa awak.

Sistem tersebut mencakup berbagai komponen, seperti tim penembak bergerak yang biasanya menggunakan truk bersenjata senapan mesin, hingga penggunaan drone pencegat berbiaya relatif murah.

Pengembangan teknologi ini berawal ketika Rusia melancarkan invasi besar ke Ukraina pada 2022. Pada tahap awal perang, Rusia sangat mengandalkan drone kamikaze tipe Shahed yang dirancang dan diproduksi di Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Drone tersebut kerap diluncurkan secara bergelombang dengan sasaran wilayah sipil dan infrastruktur penting. Serangan drone sekali pakai ini kemudian menjadi salah satu ancaman utama bagi Ukraina.

drone shahed Irandrone shahed Iran Foto: Wikimedia

Memasuki tahun kelima konflik, kemampuan Ukraina dalam menghadang serangan drone Rusia disebut mengalami peningkatan signifikan. Tingkat keberhasilan pencegatan diperkirakan mencapai sekitar 80 persen.

ADVERTISEMENT

Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksandr Syrskyi, menyatakan bahwa lebih dari 70 persen drone Shahed yang menargetkan ibu kota Kyiv dan wilayah sekitarnya pada Februari berhasil dihancurkan oleh drone pencegat.

Dikutip dari Euro News oleh detikINET, Ukraina mulai mengembangkan drone pencegat tersebut pada 2024. Setahun kemudian, teknologi ini sudah digunakan secara luas oleh unit pertahanan udara negara tersebut.

Drone pencegat merupakan kendaraan udara tanpa awak (UAV) yang dirancang khusus untuk mendeteksi, mengejar, serta melumpuhkan drone musuh. Metode yang digunakan antara lain benturan langsung, penggunaan bahan peledak, atau menjaring target di udara.

Kementerian Pertahanan Ukraina juga mengungkapkan bahwa hingga 7 Januari, berbagai unit militer telah menerima lebih dari 1.500 drone pencegat anti-Shahed setiap harinya. Penggunaan dalam jumlah besar ini membantu mengurangi ketergantungan pada rudal darat ke udara yang jauh lebih mahal dan memiliki ketersediaan terbatas.

Seharga antara 1.000 hingga 4.000 euro, drone pencegat ini jauh lebih murah dari drone Shahed yang harganya bisa mencapai 25.000 hingga 40.000 euro. Perbedaan harga sangat mencolok jika dibandingkan sistem pertahanan udara Patriot yang canggih, di mana satu rudalnya memakan biaya sekitar 3,5 juta euro.

Selain mahal, rudal Patriot tidak dirancang menghadapi drone semacam ini dan tidak dapat memberikan pertahanan memadai. Buktinya, enam personel militer AS tewas pada awal perang akibat serangan drone Iran di Kuwait, yang kemungkinan besar adalah UAV tipe Shahed.

Presiden Ukraina mengatakan hanya dalam tiga hari pertempuran di Timur Tengah, lebih dari 800 rudal Patriot digunakan, melebihi total rudal yang diterima Ukraina. "Semua orang paham Patriot saja tidak cukup," cetus Zelensky, dikutip detikINET dari Euro News.

Ia menegaskan Ukraina siap menyediakan drone pencegat sebagai ganti rudal pertahanan udara, meski tidak merinci negara mana saja yang mungkin terlibat. Beberapa negara Timur Tengah sebenarnya sudah mulai mengenal drone pencegat Ukraina.

November lalu, produsen Ukraina, SkyFall, memamerkan drone pencegat P1-SUN ke audiens internasional di Dubai Airshow 2025, menandai pertama kalinya sistem tersebut ditampilkan ke publik luar Ukraina.

Dewan Keamanan Ukraina menyatakan negaranya memproduksi 100.000 drone pencegat tahun 2025 dan kapasitas produksi melonjak delapan kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Zelensky menyebut kapasitas ini dapat terus tumbuh mengingat saat ini terdapat 450 produsen drone di Ukraina, 40 hingga 50 di antaranya disebut produsen papan atas. Setelah Kyiv membuka keran ekspor senjatanya, angka produksi diprediksi melonjak terkait permintaan internasional.

Artikel ini telah tayang di detikINET

(fyk/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads