Arus mudik dan pergerakan masyarakat saat Lebaran 2026 diperkirakan akan sangat besar di Jawa Barat. Data Dinas Perhubungan Jawa Barat menunjukkan sekitar 25,6 juta orang atau 51 persen dari total proyeksi penduduk Jawa Barat yang mencapai 50,75 juta jiwa pada 2025 diperkirakan melakukan perjalanan selama periode Lebaran.
Dari jumlah tersebut, sekitar 96,7 persen atau sekitar 24,86 juta orang diprediksi melakukan perjalanan mudik. Sementara sisanya melakukan perjalanan untuk wisata sekitar 500 ribu orang atau 1,93 persen, serta silaturahmi tanpa pulang kampung sekitar 290 ribu orang atau 1,11 persen.
Besarnya mobilitas tersebut membuat sejumlah jalur utama di Jawa Barat diprediksi akan mengalami lonjakan lalu lintas yang signifikan, terutama jalur tol dan jalur selatan dan utara yang selama ini menjadi favorit para pemudik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar mengatakan jalur tol masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik tahun ini.
"Jalur utama yang dipilih terbanyak di Tol Trans Jawa kemudian Cisumdawu, Cipularang dan Bocimi. Jadi ini yang akan digunakan masyarakat untuk ruas tol," ujar Dhani, Senin (9/3/2026).
Tol Trans Jawa yang meliputi ruas Jakarta-Cikampek, Cipali hingga Palikanci menjadi jalur paling padat dengan potensi pergerakan mencapai sekitar 14,18 juta orang. Selain itu, Tol Cikampek-Cipularang-Padaleunyi diprediksi dilintasi sekitar 1,96 juta orang, disusul Tol Cisumdawu sekitar 900 ribu orang dan Tol Bocimi sekitar 90 ribu orang.
Di luar jalan tol, jalur Pantura yang melintasi Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu hingga Cirebon juga diprediksi tetap ramai dengan sekitar 1,29 juta perjalanan.
Sementara itu, jalur selatan Jawa Barat juga menjadi salah satu koridor penting bagi pemudik. Jalur Bandung-Cileunyi-Nagreg-Limbangan-Malangbong hingga Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar diperkirakan dilalui sekitar 2,9 juta orang. Sedangkan jalur Bandung-Cileunyi-Nagreg-Kadungora-Garut hingga Tasikmalaya diprediksi dilintasi sekitar 1,92 juta orang.
Adapun jalur alternatif lainnya seperti Bandung-Cileunyi-Jatinangor-Sumedang-Majalengka-Cirebon diperkirakan dilalui sekitar 960 ribu orang, sementara jalur Bekasi-Karawang-Purwakarta-Padalarang-Bandung sekitar 550 ribu perjalanan.
Selain jalur perjalanan, moda transportasi yang dipilih masyarakat juga didominasi kendaraan pribadi. Mobil pribadi diperkirakan digunakan oleh sekitar 16,75 juta orang. Sepeda motor digunakan sekitar 3,91 juta orang, sementara kereta api dipilih sekitar 3,43 juta orang.
Moda lainnya seperti bus umum diperkirakan digunakan oleh sekitar 780 ribu orang, mobil sewa sekitar 480 ribu orang dan travel sekitar 250 ribu orang.
Di sisi lain, lonjakan mobilitas juga akan terjadi di sejumlah destinasi wisata favorit di Jawa Barat selama libur Lebaran. Kota Bandung diperkirakan menjadi tujuan wisata paling ramai dengan sekitar 4,16 juta pengunjung.
Kawasan wisata Puncak Bogor juga diprediksi menjadi magnet utama dengan sekitar 3,35 juta wisatawan. Selain itu, kawasan Lembang diperkirakan dikunjungi sekitar 2,87 juta orang dan kawasan Ciwidey sekitar 1,45 juta orang.
Destinasi wisata pantai seperti Pangandaran juga diperkirakan ramai dengan sekitar 1,36 juta wisatawan, disusul Garut dan Pangalengan yang masing-masing diperkirakan dikunjungi sekitar 510 ribu orang.
Sementara destinasi lain seperti Kuningan diprediksi dikunjungi sekitar 240 ribu orang dan kawasan Palabuhanratu sekitar 60 ribu wisatawan.
Menurut Dhani, pola pergerakan wisatawan selama libur Lebaran menunjukkan kawasan Bandung Raya masih menjadi pusat kunjungan utama.
"Pemilihan destinasi wisata nomor satu Kota Bandung kemudian Puncak Bogor, mungkin Lembang dan Ciwidey masuk cluster Bandung dan sisanya Pangandaran dan lainnya," kata Dhani.
(bba/yum)










































