Anak Kedua Mendiang Ali Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Kabar Internasional

Anak Kedua Mendiang Ali Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Firda Cynthia Anggrainy - detikJabar
Senin, 09 Mar 2026 06:18 WIB
(FILES) This handout picture taken in Tehran on October 30, 2024, and provided by the office of Irans supreme leader, shows Mojtaba Khamenei, the son of Irans slain supreme leader Ayatollah Ali Khamenei, who was killed on February 28, 2026 in a US-Israeli military strike. Irans Assembly of Experts announced Mojtaba Khamenei, the son of the slain Ayatollah Ali Khamenei, as the countrys new supreme leader on March 8, 2026. (Photo by KHAMENEI.IR / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT AFP PHOTO / HANDOUT / KHAMENEI.IR - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS
Mojtaba Khamenei (Foto: AFP/-)
Jakarta -

Teka-teki sosok pemimpin tertinggi Iran usai kematian Ayatollah Ali Khamenei terjawab. Ialah Mojtaba Khamenei yang merupakan anak kedua mendiang Ali Khamenei yang resmi ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Penunjukan tersebut dilakukan melalui mekanisme konstitusional oleh Majelis Pakar. Melansir detikNews yang mengutip Al Jazeera pada Senin (9/3/2026), keputusan itu diambil setelah proses pemilihan oleh lembaga ulama yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi Iran. Penunjukan dilakukan beberapa hari setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, merupakan putra kedua Ali Khamenei. Selama ini ia dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran dalam kekuasaan Iran meskipun tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik ataupun mengikuti pemilihan umum.

Berpengaruh di Lingkaran Kekuasaan

Selama beberapa dekade terakhir, Mojtaba disebut memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu institusi militer paling berpengaruh di Iran. Hubungan tersebut dinilai memperkuat posisinya dalam dinamika politik internal negara tersebut.

ADVERTISEMENT

Meski sering disebut sebagai kandidat potensial penerus, Mojtaba sendiri tidak pernah secara terbuka membahas isu suksesi kepemimpinan. Topik tersebut dianggap sensitif karena pengangkatan putra pemimpin tertinggi berpotensi memunculkan kesan terbentuknya dinasti politik.

Situasi itu juga mengingatkan sebagian kalangan pada sistem monarki yang pernah dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi sebelum digulingkan dalam Revolusi Iran 1979.

Israel Beri Ancaman

Sementara itu, Israel menyatakan akan terus memantau perkembangan kepemimpinan baru di Iran. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer negaranya siap menargetkan siapa pun yang memimpin Iran dan dianggap melanjutkan kebijakan permusuhan terhadap Israel.

"Setiap pemimpin yang ditunjuk oleh rezim Iran untuk terus memimpin rencana menghancurkan Israel, mengancam Amerika Serikat dan dunia bebas, serta menindas rakyat Iran akan menjadi target yang jelas untuk dieliminasi," ujar Katz dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera.

"Tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi," tambahnya.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menandai babak baru dalam politik negara tersebut, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Artikel ini sudah tayang di detikNews




(fca/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads