Sewa iPhone Laris Jelang Lebaran, Sosiolog: Ada Budaya Materialistis

Sewa iPhone Laris Jelang Lebaran, Sosiolog: Ada Budaya Materialistis

Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 08 Mar 2026 18:30 WIB
Pelanggan memilih iPhone untuk disewa di salah satu gerai rental iPhone, Kecamatan Kraksan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (26/3/2025). Menurut pelaku usaha, memasuki minggu keempat Ramadhan permintaan sewa iPhone dengan tarif Rp90 ribu hingga Rp220 ribu per hari tersebut mengalami peningkatan sebanyak 14 buah per hari dari hari biasa 5 hingga 6 per hari yang diperkirakan makin meningkat pada H-1 Lebaran.  ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym.
Ilustrasi sewa iPhone (Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Bandung -

Fenomena maraknya jasa sewa iPhone selama bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan meningkat tajam, terutama menjelang momen buka pusa bersama, mudik hingga liburan keluarga.

Bagi sebagian orang, menyewa iPhone dianggap sebagai cara praktis untuk mendapatkan kualitas kamera yang baik saat mengabadikan momen spesial. Namun di balik tren tersebut, terdapat fenomena sosial yang menarik untuk dicermati.

Sosiolog dari Universitas Parahyangan (Unpar), Garlika Martanegara, menilai meningkatnya tren sewa iPhone menjelang Lebaran tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya budaya materialistis di masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, sejak dulu momen Lebaran memang sering menjadi ajang untuk menunjukkan sesuatu yang baru, baik dari segi penampilan maupun kepemilikan barang.

"Sebenarnya ini ada budaya materialistis. Dulu yang namanya lebaran gak jauh dari sebatas membeli baju baru. Fenomena sebelumnya menurut analisa saya, ada orang yang setiap lebaran pulang kampung pakai mobil baru, apa dia rental atau dia cicil mobil yang penting pulang pakai mobil baru," kata Garlika, Minggu (8/3/2026).

ADVERTISEMENT

Namun, simbol kemapanan itu kini semakin beragam dan tidak lagi terbatas pada barang-barang bernilai besar seperti kendaraan baru. Dalam pandangannya, iPhone kini menjadi salah satu simbol status sosial yang cukup kuat di masyarakat.

"Baju dan mobil itu untuk kalangan tertentu saja. Bagaimana sekarang kalangan bawah mau dilihat sukses ketika dia pulang kampung, ya sudah sewa iPhone yang gak seberapa," ujarnya.

Menurut Garlika, iPhone telah melekat sebagai simbol perangkat milik kalangan berada. Hal inilah yang membuatnya menjadi alat representasi status sosial, bahkan hingga di tingkat masyarakat akar rumput.

"Karena iPhone itu sekarang jadi simbol handphonenya orang berada. Ini makanya saya bilang budaya materialistis itu merebak sudah sampai ke grassroot levelnya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa di sebagian masyarakat, kesuksesan seseorang masih kerap diukur dari barang yang dibawa atau dimiliki. Mulai dari kendaraan hingga perangkat yang digunakan sehari-hari.

"Untuk kalangan bawah, kesuksesan seseorang masih di lihat dari kamu bawa apa, mobil kamu apa, motor kamu apa, apa yang baru. Jadi untuk orang agar menunjukkan dirinya sukses, mobil belum kebeli, motor juga, ya sudah saja menunjukkan dengan membawa iPhone itu, hapenya orang kaya jadi budaya materialistis," ungkapnya.

Garlika juga menilai bahwa dulu budaya semacam ini lebih banyak terjadi di kalangan menengah ke atas yang membutuhkan pengakuan sosial. Namun kini fenomena tersebut semakin meluas ke berbagai lapisan masyarakat.

"Kalau dulu budaya ini ada di kalangan menengah atas, yang pengen diakui dan butuh pengakuan. Sekarang budaya materialistis sudah sampai di level masyarakat bawah yang menilai dari propertinya," katanya.

Meluasnya budaya materialistis ini menurut Garlika tidak lepas dari pengaruh media sosial yang semakin kuat dalam kehidupan masyarakat saat ini. "Pengaruh sosial media. Semakin banyak orang flexing makin banyak yang terpengaruh," katanya.

Terkait kualitas kamera iPhone yang kerap dijadikan alasan oleh penyewa, Garlika menilai hal tersebut bukan faktor utama. Menurutnya, banyak perangkat lain yang juga memiliki kualitas kamera yang baik.

"Boleh dicari, hape dengan kualitas kamera terbaik. Itu banyak selain iPhone. Alasan utamanya itu pride dia, butuh pengakuan, aktualisasi diri walaupun itu fake ya dengan membawa iPhone," ujarnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa dalam beberapa kondisi penggunaan iPhone bisa saja memiliki alasan yang lebih fungsional.

"Kalau memang perlu kualitas, lihat dulu kebutuhannya apa. Misal mahasiswa seni dia mau ujian membuat film. Dari pada sewa kamera mahal udah aja sewa iPhone," katanya.

Namun khusus untuk fenomena menjelang Lebaran, Garlika menilai motivasi tersebut lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan menunjukkan citra diri di hadapan orang lain. "Tapi kalau jelang lebaran, untuk pulang kampung tapi sewa iPhone, itu aktualisasi diri saja," pungkasnya.




(bba/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads