Eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir Februari hingga awal Maret 2026 menempatkan Shahed-136 sebagai aktor utama dalam palagan udara. Drone 'kamikaze' buatan Iran ini membuktikan bahwa teknologi canggih tak selamanya harus mahal.
Laporan media internasional seperti The New York Times dan Reuters menyoroti bagaimana stok persenjataan Iran tetap menjadi ancaman jangka panjang meski terus digempur. Dengan biaya produksi yang hanya berkisar $20.000 hingga $50.000 per unit, pesawat nirawak menjadi senjata asimetris yang berbahaya dan mematikan. Strategi utamanya bukan terletak pada kecepatan, melainkan pada serangan kawanan (swarm attack) yang dirancang untuk membanjiri sistem radar dan pertahanan udara lawan hingga titik jenuh.
Drone ini memiliki jangkauan operasional hingga 2.500 km, bahkan mencapai 4.000 km pada varian terbaru, dengan hulu ledak seberat 50-90 kg. Ketangguhannya teruji dalam berbagai serangan terhadap pangkalan militer AS dan infrastruktur strategis. Fenomena ini memaksa negara-negara adidaya mengeluarkan biaya intersepsi yang jauh lebih mahal, menciptakan ketidakseimbangan ekonomi perang yang signifikan di mana satu rudal pertahanan bisa berharga puluhan kali lipat dari harga drone yang dijatuhkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Drone Iran (Photo by Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images) |
Drone buatan Iran. (Foto: Iranian Army via AP) |
- Efisiensi Biaya: Shahed-136 mengubah paradigma perang dengan biaya produksi rendah ($20.000-$50.000), namun mampu memaksa lawan mengeluarkan jutaan dolar untuk sistem pertahanan.
- Keunggulan Strategis: Menggunakan metode swarm attack untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara musuh melalui kuantitas serangan massal.
- Spesifikasi Mumpuni: Memiliki daya jelajah ekstrem hingga 4.000 km (varian B).
Berikut berita-berita berkaitan drone atau pesawat tanpa awak Iran yang dikutip detikJabar dari pemberitaan detikcom, Kamis (5/3/2026):
(bbp/bbp)













































