Dampak serangan kombinasi Amerika Serikat dan Israel ke Iran, menjalar hingga berbagai negara. Sejumlah kekuatan besar di dunia mulai bergerak merespons konflik Timur Tengah yang kian memanas.
Iran melancarkan serangan serentak terhadap negara-negara Teluk yang menampung aset militer dan pasukan Amerika Serikat (AS) beberapa hari terakhir, untuk membalas pengeboman AS dan Israel terhadap wilayahnya yang dimulai sejak Sabtu (28/2) waktu setempat.
Berikut manuver sejumlah negara merespons konflik tersebut:
Prancis
Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle untuk berlayar ke Mediterania, menyusul kian sengitnya konflik di Timur Tengah.
"Menghadapi situasi yang tidak stabil ini dan ketidakpastian di hari-hari mendatang, saya telah memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle, aset udaranya, dan kapal fregat pengawalnya untuk berlayar ke Mediterania," kata Macron dalam pidatonya, dilansir kantor berita AFP dan France 24, Rabu (4/3/2026).
Dalam pidato yang direkam sebelumnya di televisi Prancis, Macron menambahkan bahwa jet-jet tempur Rafale, sistem pertahanan udara, dan sistem radar udara telah dikerahkan selama beberapa jam terakhir di Timur Tengah.
"Dan kami akan melanjutkan upaya ini sebisa mungkin," kata Macron.
Ia pun menyinggung tentang serangan hari Senin lalu terhadap pangkalan angkatan udara Inggris di Siprus. Dia menambahkan bahwa Siprus adalah anggota Uni Eropa, yang baru-baru ini menandatangani kemitraan strategis dengan Prancis.
"Ini membutuhkan dukungan kita. Itulah sebabnya saya telah memutuskan untuk mengirimkan aset pertahanan udara tambahan ke sana juga, bersama dengan fregat Prancis, Languedoc, yang akan tiba di lepas pantai Siprus nanti malam," kata Macron pada hari Selasa (3/3) waktu setempat.
Dalam pertemuan dewan pertahanan Prancis pada hari Minggu lalu, Macron mengatakan Prancis akan meningkatkan postur pertahanannya di Timur Tengah untuk melindungi warga negara dan pangkalan-pangkalan di sana. Juga untuk mendukung negara-negara di kawasan yang menjadi sasaran Iran sebagai balasan atas serangan Israel-Amerika Serikat.
Arab Saudi
Pemerintah Arab Saudi memperingatkan bahwa pihaknya memiliki "hak penuh" untuk merespons serangan-serangan Iran yang menargetkan ibu kota Riyadh dan wilayah-wilayah lainnya di negara tersebut. Saudi menyebut rentetan serangan Iran itu sebagai serangan "terang-terangan dan pengecut".
Peringatan Saudi itu, seperti dilansir Arab News, Rabu (4/3/2026), disampaikan dalam sesi rapat kabinet, pada Selasa (3/3) malam, yang dipimpin oleh putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Saudi, via videoconference.
"Kerajaan menegaskan kembali hak penuh untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, integritas wilayah, warga negara, penduduk, dan kepentingan-kepentingan vitalnya, termasuk opsi untuk merespons agresi tersebut," demikian seperti dilaporkan Saudi Press Agency (SPA).
Dalam sesi kabinet tersebut, otoritas Saudi juga menegaskan solidaritas untuk negara-negara tetangga yang juga menjadi target serangan Iran.
"Menegaskan kembali solidaritas penuh Arab Saudi dengan negara-negara sahabat yang wilayahnya menjadi sasaran agresi Iran yang terang-terangan," sebut SPA dalam laporannya. Menurut SPA, hal itu menandakan front persatuan melawan ancaman regional.
Sesi kabinet itu digelar setelah serangan-serangan Iran terus melanda sejumlah wilayah Saudi, termasuk serangan drone secara langsung terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengumumkan bahwa meskipun pertahanan udara negara mampu mencegat sejumlah ancaman, namun Kedutaan Besar AS mengalami "kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil".
Al-Malki mengumumkan lebih lanjut bahwa pasukan Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan 8 drone lainnya yang menargetkan Riyadh dan Al-Kharj pada Selasa (3/3) pagi.
Kementerian Luar Negeri Saudi, dalam pernyataan terpisah, menyebut serangan terhadap kedutaan besar itu telah melanggar Konvensi Jenewa tahun 1949 dan Konvensi Wina tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.
"Perilaku Iran yang berulang secara mencolok ini... akan mendorong kawasan menuju eskalasi lebih lanjut," kata Kementerian Luar Negeri Saudi memperingatkan.
(yum/yum)