Lini massa media sosial di Kota Bandung beberapa hari yang lalu diramaikan dengan kisah yang begitu membanggakan. Dua perempuan kembar dengan kondisi tuli bernama Hasna Alifah Salsabila dan Hasni Alifah Salsabila, telah diterima bekerja di salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia.
Sontak, videonya banyak mengundang beragam komentar dan membuat netizen terharu atas kisah itu. Di usianya yang kini menginjak 21 tahun, si kembar Hasna dan Hasni mampu mendobrak keterbatasan dan akhirnya mencatatkan kebanggaan dalam kehidupannya saat ini.
detikJabar berkesempatan berbincang dengan keduanya belum lama ini. Di sudut pemukiman padat penduduk di kawasan Pajajaran, Kota Bandung lah si kembar, Hasna dan Hasni, tumbuh menjadi wanita tangguh dengan cita-cita yang tinggi demi kehidupannya agar lebih mandiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski komunikasi dengan Hasna dan Hasni penuh keterbatasan, untungnya, ada sepupu mereka yang bisa menjadi juru bahasa isyarat (JBI). Ketika komunikasi dengan keduanya bisa dimengerti, tak jarang gelak tawa menjadi pemecah kesunyian malam gang kawasan Pajajaran di malam Ramadan.
Kisah kehidupan tentang Hasna dan Hasni dari kecil hingga dewasa pun dituturkan langsung sang ibunda, Fenti Mirnaningsih (52). Fenti memulai ceritanya saat si kembar dinyatakan memiliki keterbatasan pendengaran saat mereka menginjak usia satu tahunan.
"Hasna dan Hasni ini kembar, anak pertama. Ketahuannya itu pas umur kurang lebih satu tahun," kata Fenti memulai perbincangannya tentang Hasna dan Hasni hingga kini bisa viral di media sosial.
Semuanya bermula saat momen kumpul keluarga. Fenti pun masih ingat saat itu terdengar HP yang berbunyi karena menandakan ada panggilan. Namun yang tidak ia duga, Hasna dan Hasni justru tak merespons suara tersebut dibanding dengan anak-anak keluarganya yang lain.
Firasat tak karuan jelas langsung menyelimuti pikiran Fenti. Ia kemudian mencoba memastikan kembali bahwa kekhawatirannya hanya perasaan semata. Namun begitu ia memutar bebunyian dari telepon genggamnya, ternyata tak ada respons dari kedua anak kembarnya.
Dari situ lah, Fenti dan suaminya mencoba memeriksakan kondisi kedua anak kembarnya. Setelah dibawa ke salah satu rumah sakit, dokter menyatakan motorik Hasna dan Hasni normal selayaknya anak-anak seusianya.
Namun, ada masalah yang masih mengganjal. Dokter rumah sakit itu kemudian menyarankan Fenti dan keluarga untuk memeriksa secara detail kondisi si kembar ke dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT).
Tes brainstem evoked response audiometry (BERA) pun dilakukan. Pemeriksaan ini merupakan tahapan untuk mengukur respons saraf pendengaran dan otak terhadap suara, terutama pada bayi atau anak yang belum bisa merespons tes audiometri konvensional.
Hasilnya, ternyata membuat Fenti ibarat tersambar petir di siang bolong. Si kembar Hasna dan Hasni yang baru saja berusia satu tahunan, dinyatakan memiliki keterbatasan dalam pendengaran.
"Dari situ kita sebagai orang tua, terus terang down. Tapi lama-lama kita berpikir, mau enggak mau kita harus menghadapinya dan mempersiapkan dengan bekal setidaknya biar mereka bisa mandiri," ungkap Fenti.
Meski demikian, Fenti enggan patah arang. Walau si kembar memiliki keterbatasan, ia selalu memperlakukan keduanya selayaknya anak-anak biasa dengan cinta dan kasih yang tak ada habisnya.
Hingga kemudian, memasuki usia 3 tahun, Fenti mulai mendapatkan jalan untuk jaminan kehidupan si kembar di masa depan. Ia diarahkan oleh seseorang supaya menyekolahkan Hasna dan Hasni di sekolah luar biasa (SLB) di Kota Cimahi.
Fenti tertarik karena SLB Prima Bhakti Mulia tersebut tidak kaku mengajarkan anak tuli supaya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Pola ajarnya justru mengedepankan bahasa oral gerak bibir atau lip-reading, sebuah metode untuk memahami percakapan dengan mengamati gerakan bibir, lidah, dan ekspresi wajah tanpa suara.
"Tumbuh kembang Hasna dan Hasni sebenarnya normal, cuma masalahnya di komunikasi aja. Kita kemudian cari sekolah untuk membekali mereka supaya mendukung keahlian mereka. Akhirnya ketemu di SLB Prima Bhakti di Cimahi, sekolah dari Playgrup sampai SMP," ungkap Fenti.
Pilihan Fenti dan keluarga pun ternyata sesuai dengan harapan. Meski setiap hari harus pulang pergi dari Pajajaran ke Cimahi, skill si kembar akhirnya bisa lebih menonjol walaupun memiliki keterbatasan.
Hasna (kanan) dan Hasni (kiri), bersama sang ibu. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar) |
Dari hasil perbincangan dengan pihak sekolah, si kembar harus dipisahkan selama proses belajar mengajar. Si kakak, Hasna, berada di kelas lebih tinggi, sedangkan adiknya, Hasni, ada di kelas lebih rendah.
Opsi ini dipilih agar tumbuh kembang si kembar bisa lebih optimal. Hingga kemudian, keduanya secara membanggakan lulus setelah menempuh pendidikan hingga tingkat SMP.
"Dibedain karena pas kecil, pas masuk SLB, mereka sok ngobrol wae, jadi enggak pernah kosentrasi. Kalau disatuin katanya tidak akan bisa mengekspose keahliannya, masing-masing enggak kelihatan bakatnya, kata gurunya. Makanya dibedain satu tahun," ujar Fenti.
Selepas lulus SMP, Fenti tak menduga kedua anak kembarnya punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah umum tanpa embel-embel sekolah khusus luar biasa. Sebagai orang tua, dia dan suaminya kemudian mengupayakan agar pendidikan si kembar sesuai dengan keinginan mereka.
Namun nampaknya, keinginan Hasna dan Hasni punya jalan yang terjal. Setelah mencoba datang ke beberapa sekolah di Kota Bandung, Fenti justru mendapat penolakan secara halus karena kondisi keterbatasan si kembar.
Seolah tak mau berpangku tangan, Fenti kemudian memilih menyekolahkan si kembar ke SMK Teknik Informatika Garuda Nusantara di Cimahi. Hasna masuk jurusan multimedia, sementara sang adik, Hasni, ke jurusan animasi.
SMK yang Fenti pilih rupanya seusai dengan harapan. Tahun 2023, Hasna lulus terlebih dahulu, kemudian Hasni lulus pada tahun 2024.
"Tentu senang sekali, yah, Alhamdulillah Allah kasih kesempatan kepada anak saya bisa berkarya, bisa mengekspose kemampuan mereka. Karena saya percaya, anak saya, meski tidak bisa mendengar, tapi mereka punya insting yang kuat," katanya.
Fenti kembali dibuat bangga dengan tekad kedua anak kembarnya. Hasna dan Hasni ternyata punya keinginan kuat untuk bisa bekerja sehingga selepas lulus sekolah kerap mendatangi agenda job fair di Kota Bandung maupun di luar daerah.
Fenti tentu ikut menyiapkan berbagai kebutuhan untuk lamaran si kembar. Namun dari lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada kekhawatiran apakah kedua anak perempuannya yang istimewa itu bisa diterima bekerja.
"Jadi mereka selalu komunikasi dengan saya, ngelamar kereja ke sana-sini. Mereka berdua yang memang pengen kerja. Tapi, saya teh bukan mau mematahkan semangat mereka. Saya juga tahu bahwa kadang ah ini mah kayaknya enggak deh," tuturnya.
"Kenapa? Karena pasti kendalanya di komunikasi. Saya tahu di komunikasi itu, makanya udah lah jangan, lebih baik ke ini. Tapi kadang anak-anak masukin aja deh, jadi semangat anak-anak mah nyari pekerjaan," ucapnya saat menceritakan kembali tekat kuat si kembar untuk mencari pekerjaan.
Ibarat pribahasa, usaha memang tidak pernah mengkhianati hasilnya. Setelah terhubung dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Hasna dan Hasni bisa diterima bekerja di salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia sejak 6 bulan yang lalu.
Fenti pun bercerita, saat pertama kali mendapat informasi tentang lowongan itu, ia sempat memastikannya melalui informasi di internet. Hasilnya, perusahaan tersebut membutuhkan 8 pegawai disabilitas untuk ditempat pertama kalinya di Kota Bandung.
Hasna dan Hasni rupanya tidak langsung bekerja di perusahaan itu. Keduanya harus bersaing dengan 13 kandidat yang lain, melalui sejumlah tes dan panggilan.
"Dan Alhamdulillah bisa keterima, diterimanya berbarengan. Hasna kerjanya di Festival Citylink, kalau Hasni di BIP," kata Fenti.
Bagi Fenti, Ramadan 2026 banyak mendatangkan keberkahan. Selain si kembar kini memiliki pekerjaan dengan kondisi penuh keterbatasan, mereka juga jadi sosok yang viral dan akhirnya menarik perhatian banyak orang.
"Pasti rasanya seneng banget, plong lah setidaknya, Alhamdulillah mereka setidaknya udah bekerja. Makanya Ramadan 2026 mah merupakan momen yang tidak terlupakan. Hasna-Hasni udah diterima dan ada peristiwa mereka viral, banyak banget berkahnya.
Menutup perbincangannya dengan detikJabar, Fenti tak bisa menampik perjalanan si kembar Hasna-Hasni tidak lepas dari pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sembari menahan derai air mata, Fenti turut menguatkan orang tua yang memiliki anak difabel di luar sana supaya jangan mudah menyerah dan terus memberikan kekuatan bagi anak-anaknya supaya bisa hidup mandiri di masa mendatang.
"Ya, gimana sih orang tua, apalagi ibu gitu yah. Kalau untuk anak, dengan segala jiwa dan raga tentu ingin memberikan yang terbaik buat anak-anak. Apalagi ini anak-anak spesial lah, saya hanya berpikir bahwa mereka setidaknya harus mandiri, bisa menghidupi diri sendiri dan jangan sampai tergantung sama orang lain," ungkapnya.
"Dan pesan untuk para orang tua yang memiliki anak spesial, jangan menyerah. Proses sekecil apapun anak-anak harus kita hargai, dan terus mengajarkan kepada anak-anak supaya bisa mandiri mengekspos keahliannya. Dan mudah-mudahan ke depannya para difabel diberi kesempatan untuk bisa bekerja di perusahaan-perusahaan," ucapnya.
Sementara itu, dibantu sepupunya, Hasna dan Hasni ikut memberikan semangat bagi teman tuli di Indonesia. Bagi mereka, para teman tuli jangan sampai cepat menyerah dan harus terus punya cita-cita yang tinggi demi masa depan yang cerah.
"Halo perkenalkan, saya Hasna. Untuk semua teman tuli, jangan pernah patah semangat. Jangan menyerah. Jangan malu, jangan takut untuk teman tuli kesempatannya masih banyak," kata Hasna.
"Halo saya Hasni. Untuk teman tuli yang ada di Indonesia, jangan menyerah, tetap semangat, harus percaya kalau masa depan teman tuli itu banyak. Jangan cepat menyerah," timpal Hasni menutup perbincangannya dengan detikJabar.












































