Suara gemuruh dari pergerakan perut bumi yang membuat dinding tembok rumah warga bergetar dan terbelah, merampas kekhusyukan Ramadhan warga Kampung Sukamanah, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Di saat umat Muslim bersiap menyantap sahur atau bersujud dalam tarawih, ratusan jiwa di sana justru harus berjaga, dihantui suara "kretek-kretek" dari dinding rumah yang terbelah akibat pergerakan tanah yang terus meluas.
Hingga Minggu (1/3/2026), sedikitnya 100 keluarga atau sekitar 312 jiwa telah meninggalkan rumah mereka untuk menghindari peristiwa yang tidak diinginkan. Kondisi rumah warga hancur, tidak hanya pada dinding tapi juga lantai keramik yang tiba-tiba retak dan amblas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena alam yang mulai dirasakan sejak awal bulan puasa ini kian bertambah intensitasnya dalam lima hari terakhir, memaksa warga menanggalkan kenyamanan hunian demi tenda-tenda darurat dan pengungsian.
Kepala Dusun 4 Sukamanah, Wiwik, menceritakan bagaimana suasana mencekam mulai meneror warga di tengah malam sejak awal Ramadhan.
"Awalnya itu dari awal puasa, Pak. Ada retakan-retakan, terdengar suara kretek-kretek, getaran gitu," ujar Wiwik saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.
Bagi warga RT 05 RW 07, pergerakan tanah ini terjadi secara konstan tanpa mengenal cuaca. Wiwik menjelaskan bahwa ada fenomena alam di bawah pemukiman mereka yang memicu ketidakstabilan lahan.
"Itu di bawah itu air Pak, mengalir terus setiap hari, mau hujan mau enggak itu air jalan terus di bawah tanah. Makanya pergerak terus Pak setiap hari itu," jelasnya.
Kondisi bangunan di wilayahnya kini sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak layak huni. Meski belum ada rumah yang rata dengan tanah, kerusakan struktur sudah pada tahap kritis.
"Rumah yang sebagian pada ambruk, cuma pada apa ya, belum yang ambruk sih belum, cuma pada pecah-pecah terus mau pada roboh Pak. Rumah tempat pesantren sudah ini, sudah mau roboh," tutur Wiwik dengan nada getir.
Ramadhan dalam Ketakutan
Ketidakpastian ini merembet pada aktivitas peribadatan warga. Di tengah kewajiban menjalankan ibadah di bulan suci, warga dihantui rasa waswas yang luar biasa.
"Kalau warga sebagian kan sekarang musim Tarawih Pak ya sekarang ya. Sebagian ada yang melaksanakan ada yang nggak, soalnya was-was katanya Pak. Takutnya kalau melaksanakan ibadah Tarawih misalkan ya, ngeri juga katanya Pak gitu," ungkapnya.
Bahkan, masjid yang biasanya menjadi pusat keramaian kini mulai sepi karena warga lebih memilih menyelamatkan harta benda sebelum terlambat.
"Masjid agak aman yang di bawah. Cuma kan sekarang lagi pada pindahan Pak, lagi pada sibuk mindah-mindahin barang masyarakat itu. Rumah-rumah semua dikosongin," tambah Wiwik.
Situasi darurat ini juga berdampak pada tradisi sahur warga. Karena evakuasi besar-besaran baru dilakukan pada Sabtu malam saat posisi lokasi sudah dianggap sangat parah, warga terpaksa bersahur seadanya.
"Kalau sahur untuk saat ini belum ada Pak (dapur umum), belum ada. Dari semalam tuh kan ya mulai ngungsinya dari semalam kan ya. Soalnya sudah parah posisi lokasinya sudah parah. Kalau semalam posisi sahur belum ada, masih sendiri-sendiri lah Pak gitu," jelasnya.
Terkait bantuan logistik, Wiwik menyebut bantuan mulai dikoordinasikan. "Dapurnya belum ada, tapi tadi ada pihak Baznas katanya mau bikin dapur katanya Pak. Tadi sudah datang tuh, mau pasang katanya dapurnya di dekat Puskesmas di SD 1 Bantargadung," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Bantargadung, Uus Amrullah, menyatakan bahwa pergerakan tanah ini merupakan ancaman serius yang terus meningkat setiap harinya.
Ia mengonfirmasi bahwa seluruh warga terdampak telah dievakuasi ke titik-titik aman guna menghindari risiko jatuhnya korban jiwa seiring dengan retakan tanah yang semakin membesar secara bertahap sejak awal bulan suci ini.
(yum/yum)










































