Perut Cepat Kenyang, Buncit dan Keras? Waspadai Gejala Kista Ovarium

Perut Cepat Kenyang, Buncit dan Keras? Waspadai Gejala Kista Ovarium

Suci Risanti Rahmadania - detikJabar
Kamis, 26 Feb 2026 13:30 WIB
Woman suffering from stomach ache
Ilustrasi kista ovarium. Foto: Getty Images/Carlo107
Jakarta -

Seorang perempuan di Surabaya, Uun Yosie (27), membagikan pengalamannya saat didiagnosis mengidap kista ovarium berukuran 33 sentimeter. Ia baru benar-benar menyadari gejalanya ketika menginjak usia 27 tahun.

Awalnya, Uun merasakan perut kembung yang tidak biasa. Perutnya terlihat semakin buncit hingga ke bagian atas, padahal sebelumnya hanya bagian bawah yang tampak menonjol. Namun, lama-kelamaan, pembesaran itu kian jelas dan terasa berbeda dari biasanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya kembung, perutnya juga terasa keras. Ia mengeluhkan asam lambung yang mudah naik, hampir tidak pernah merasa lapar, serta jarang mendengar bunyi perut. Kondisi tersebut membuatnya cepat merasa kenyang meski hanya makan dalam porsi sedikit.

Gejala-gejala itu kerap membuat perempuan mengira hanya mengalami kenaikan berat badan atau gangguan pencernaan biasa. Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi tersebut berkaitan erat dengan kista ovarium.

ADVERTISEMENT

Ciri Perut Buncit Akibat Kista

Konsultan Obstetri dan Ginekologi Sigit Pramono mengatakan keluhan perut membesar memang cukup sering ditemukan pada pasien. Menurutnya, banyak pasien datang dengan keluhan berat badan meningkat dan perut bagian bawah yang semakin membesar. Padahal, mereka merasa telah rutin berolahraga dan menjaga pola makan dengan baik.

Ia menyebut, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan umum pasien akhirnya memeriksakan diri ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

"Jadi memang itu, kalau kita lihat dari data-data pasien kita, itu kurang lebih gejala itu 30 persen yang menyebabkan mereka akhirnya ke dokter kandungan dan kebidanan," ucapnya saat ditemui detikcom, Rabu (25/2/2024).

Meski demikian, Sigit menegaskan penyebab pembesaran perut tidak dapat dipastikan hanya dari bentuk fisik semata. Dokter perlu melakukan anamnesis terlebih dahulu, termasuk menanyakan sejak kapan perut membesar, pola makan pasien, serta perubahan berat badan. Setelah itu, pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendapatkan gambaran awal.

Ia menambahkan, melalui perabaan saja sering kali sulit membedakan apakah pembesaran perut disebabkan oleh kista, mioma, atau sekadar penumpukan lemak di area perut.

"Jadi, tetap kita butuhkan pemeriksaan penunjang dengan USG atau ultrasonografi," lanjutnya.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) menjadi langkah krusial untuk memastikan penyebab pembesaran perut sekaligus menentukan penanganan medis yang tepat.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(suc/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads