Sampah akan menjadi masalah yang serius di Kota Bandung selama Bulan Ramadan. Konsumsi publik diprediksi meningkat yang berdampak pada timbulan sampah dan harus ra dicari solusinya.
Sebagai antisipasi, Pemkot Bandung saat ini sedang memaksimalkan peran personel pemilah dan pengolah sampah (Gaslah) di 1.596 RW. Targetnya, mereka bisa menekan hingga 40 ton sampah per harinya.
"Untuk Gaslah, saya belum bisa mengatakan sudah 100 persen efektif. Toh mereka juga belum sebulan bekerja, mereka baru mulai bekerja sejak tanggal 1 Februari hitungannya. Ini baru memasuki minggu ke-4, saya akan beri waktu sampai akhir Maret karena ujian besar kita tentu di akhir Ramadan," katanya, Rabu (25/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan selanjutnya muncul karena Farhan mengkhawatirkan para petugas Gaslah itu nantinya malah mudik ke kampung halamannya masing-masing. Ia pun mengaku sedang mencari cara supaya proses pengolahan sampah tidak terganggu selama Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri 2026.
"Di akhir Ramadan ini ujian besarnya. Timbulan sampah pasti lebih tinggi dari biasanya, tapi para Gaslah-nya siapa tahu pada mudik, lalieur eta. Itu yang akan kita kita lihat nanti efeknya seperti apa, makanya kedah dibadami keun lah itu teh," tuturnya.
Kekhawatiran Farhan selaras dengan data yang dibeberkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dari hasil asesmen pada 2025, BRIN mengungkapkan bahwa di wilayah Bandung Raya ada peningkatan volume sampah sampai dengan 40 persen.
Asesmen tersebut dilakukan terhadap perilaku masyarakat pada bulan Ramadan dan Idulfitri di wilayah Bandung Raya. Ada 144 responden yang saat itu menyatakan kenaikan volume sampah disebabkan penyajian makanan berlebih, meningkatnya konsumsi parcel, serta penggunaan alat makan sekali pakai selama bulan puasa dan hari raya.
Sekedar diketahui, semenjak Kementerian Lingkungan Hidup melarang penggunaan insinerator, Pemkot Bandung kemudian mencoba beralih ke teknologi refuse-derived fuel (RDF). Namun masalahnya, dari total 1.500 ton timbulan per hari di Kota Bandung, RDF belum bisa dioperasikan untuk menanggulangi masalah sampah dengan volume yang besar.
"Teknologi lain yang sedang didorong oleh kita RDF, tapi kecil-kecil jumlahnya. Karena yang beberapa sudah kita jalankan di Cukang Holis enggak efektif, ayaknya ada kesalahan konstruksi itu. Nanti kita lakukan perbaikan," pungkasnya.
(ral/dir)











































