Hajar Aswad selalu menjadi pusat perhatian jutaan umat Islam yang menjalankan ibadah haji dan umrah. Terletak di sudut tenggara Ka'bah, batu hitam ini bukan sekadar simbol, melainkan objek yang memiliki nilai sejarah dan spiritualitas yang sangat mendalam.
Berdasarkan keyakinan umat Islam, Hajar Aswad bukanlah batu biasa yang berasal dari bumi. Dalam buku Tapak Sejarah Seputar Makkah-Madinah karya Muslim H. Nasution, dikutip sabda Rasulullah SAW:
"Hajar Aswad adalah batu dari batu-batuan surga." (HR At-Tirmidzi)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut sebuah riwayat, Malaikat Jibril membawa batu ini kepada Nabi Ibrahim AS saat pembangunan Ka'bah. Dalam buku Sejarah Ka'bah karya Prof. Dr. Ali Husni Al-Kharbuthli, dijelaskan bahwa batu ini merupakan penyempurna bangunan suci tersebut.
Riwayat dari Imam Ath-Thabari mengisahkan saat Nabi Ismail AS bertanya tentang asal batu tersebut, Nabi Ibrahim AS menjawab bahwa batu itu dibawa langsung oleh Jibril dari langit. Menariknya, dalam hadits lain disebutkan bahwa awalnya batu ini berwarna putih bersih:
"Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu, lalu menjadi hitam akibat dosa-dosa Bani Adam." (HR Tirmidzi)
Namun, para ilmuwan mengatakan bahwa Hajar Aswad kemungkinan besar berasal dari luar angkasa. Keyakinan ini mendorong para peneliti untuk melakukan observasi fisik.
hajar aswad Foto: via CNN Travel |
Salah satu penelitian yang paling terkenal dilakukan oleh Elsebeth Thomsen dari University of Copenhagen. Dalam karyanya yang berjudul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba, Thomsen menemukan beberapa fakta menarik:
1. Kemiripan dengan Kaca Impaksi
Thomsen mengemukakan bahwa Hajar Aswad memiliki karakteristik yang serupa dengan kaca impaksi. Material ini terbentuk akibat hantaman meteorit besar ke permukaan bumi yang menghasilkan panas luar biasa.
2. Kaitan dengan Kawah Wabar
Penelitian ini menghubungkan Hajar Aswad dengan Kawah Wabar di gurun Rub' al Khali, Arab Saudi. Kawah ini ditemukan oleh penjelajah Inggris Harry St. John Philby pada 1932. Berdasarkan penelitian El Goresy et al. (1968), material di kawah tersebut berupa kaca hasil lelehan pasir silika yang memiliki permukaan hitam mengkilap namun bagian dalam yang putih berpori.
3. Sifat Fisik yang Unik
Menurut penjelasan Dietz dan McHone (1974), Hajar Aswad saat ini terdiri dari delapan potongan kecil yang disatukan dalam bingkai perak. Beberapa ciri fisiknya antara lain:
Berwarna hitam berkilau di luar, namun putih seperti susu di bagian dalam.
Diketahui dapat mengapung di air-ciri yang jarang ditemukan pada batuan bumi biasa namun identik dengan kaca impaksi yang memiliki rongga udara.
Antara Iman dan Sains
Penelitian yang dilakukan oleh Elsebeth Thomsen memperkirakan usia material dari kawah Wabar sekitar 6.400 tahun. Thomsen berhipotesis bahwa batu tersebut mungkin dibawa ke Makkah oleh para kafilah kuno dari Oman yang melintasi jalur perdagangan Wabar.
Meskipun sains mencoba menjelaskan proses pembentukannya melalui fenomena meteorit, hal ini justru memperkuat narasi agama bahwa batu tersebut memang "turun dari langit" atau berasal dari luar angkasa. Analisis ilmiah mengenai warna bagian dalam yang putih juga sejalan dengan hadits Nabi yang menyebutkan asal-usul warna asli batu tersebut.
Wallahu a'lam.
Artikel ini telah tayang di detikHikmah. Baca selengkapnya di sini
(yum/yum)











































