Apa Kabar Program Pendidikan Karakter di Barak Militer Jabar?

Apa Kabar Program Pendidikan Karakter di Barak Militer Jabar?

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 19 Feb 2026 18:00 WIB
Pendidikan karakter barak militer Jabar gelombang dua segera dimulai.
Pendidikan karakter barak militer Jabar (Foto: Instagram/Disdik Jabar)
Bandung -

Program pendidikan karakter berbasis barak militer di Jawa Barat sempat menjadi sorotan publik sejak pertama kali dijalankan di Jawa Barat pada 2025 lalu. Kebijakan yang dibuat Gubernur Dedi Mulyadi ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/KESRA.

Lalu bagaimana kelanjutan program ini di tahun 2026?

Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat memastikan program yang dikenal sebagai Pendidikan Karakter Panca Waluya termasuk skema barak militer bagi siswa kategori 'nakal berat' tetap dilanjutkan tahun ini, meski dengan anggaran yang lebih terbatas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Barak Militer kita akan tetap lakukan, walaupun anggarannya terbatas, dan itu adalah anak-anak yang sudah masuk ke kategori berat referral nanti dari sekolah, dari guru-guru BK-nya," kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto, Kamis (19/2/2026).

ADVERTISEMENT

Program ini ditujukan bagi siswa SMA-SMK yang dinilai membutuhkan intervensi khusus. Mekanismenya pun disebut tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Sekolah dan guru bimbingan konseling (BK) menjadi pintu awal penentuan peserta.

"Karena anak-anak tersebut butuh perlindungan khusus. Yang melambai ya itu, kan tidak cukup di sekolah, masyarakat juga harus support itu. Karena pendidikan itu bukan tok sekolah sih. Masyarakat harus menjadi ekosistem," jelasnya.

Namun di tengah keterbatasan anggaran, Disdik Jabar mengakui pendekatan tak lagi sepenuhnya bertumpu pada barak militer. Tahun ini, alokasi dana untuk program Panca Waluya sekitar Rp2 miliar dan dibagi ke beberapa skema.

"Yang barak militer itu kita ada anggaran Panca Waluya, ada yang ke barak militer, ada yang untuk menguatkan sekolah melalui pelatihan-pelatihan, melalui penyusunan modul dan lain sebagainya. Ada Rp2 miliaran kalau ngga salah," kata Purwanto.




(bba/dir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads