Suasana pagi menjelang bulan Ramadan di Dusun Kubangpari, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, tampak berbeda. Warga mengisi tradisi Munggahan dengan kerja bakti membersihkan rumah masing-masing yang dipenuhi lumpur setelah luapan banjir Sungai Citalahab surut, Selasa (17/2/2024).
Setiap anggota keluarga sibuk mengeluarkan perabotan dari dalam rumah. Mereka berbagi peran, mulai dari menyodok lumpur, mencuci perabotan yang kotor, hingga membasuh lantai menggunakan air bersih.
Baca juga: Kemeriahan Imlek di Vihara Tertua Purwakarta |
"Tahun ini munggahannya bersih-bersih rumah karena banyak lumpur habis banjir. Ini yang kedua kali, sebelumnya Minggu kemarin kejadiannya sama. Tunggi air sampai 1 meter," ujar Sunardi (45).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sunardi menceritakan, air mulai masuk ke permukiman pada malam hari akibat jebolnya tanggul Sungai Citalahab. Meski lokasi tanggul cukup jauh, volume air yang deras membuat luapan mencapai rumah warga dengan sangat cepat.
"Alhamdulillah semua selamat. Hanya saja itu yang paling parah lahan sawah, padi yang siap panen hanyut. Semoga tanggul yang jebol segera diperbaiki supaya tidak banjir lagi," tuturnya.
Aksi warga bersih-bersih usai banjir surut sehari menjelang Bulan Ramadan di Pamarican Ciamis. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar) |
Aksi bersih-bersih sisa banjir juga dilakukan oleh para murid MIN 4 Ciamis. Ruang kelas yang biasa digunakan untuk belajar kini dipenuhi lumpur pekat. Proses evakuasi material banjir di sekolah ini dibantu oleh personel Polres Ciamis, Kodim 0613 Ciamis, Damkar, Tagana, hingga BPBD Ciamis.
Kepala MIN 4 Ciamis Ai Rahma Musyaropah mengatakan, banjir merupakan imbas dari jebolnya tanggul Sungai Citalahab. Peristiwa ini sudah terjadi untuk kedua kalinya dalam dua pekan terakhir.
"Kemarin sore hujan deras. Ini imbas dari jebolnya Sungai Citalahab, dan ini sudah yang kedua kalinya," ujarnya.
Menurut Ai Rahma, air sempat naik hingga setinggi lutut orang dewasa di dalam area sekolah, bahkan lebih tinggi di luar lingkungan madrasah. Air masuk melalui gerbang depan dan belakang, lalu menggenangi ruang-ruang kelas. Sebanyak 12 ruang kelas terdampak, ditambah ruang lain seperti dapur dan UKS, sehingga total sekitar 15 ruangan terendam. Meski begitu, peralatan elektronik seperti laptop berhasil diselamatkan karena pihak sekolah sudah melakukan antisipasi sejak banjir pertama.
"Sekarang bersih-bersih. Munggahan sambil bersih-bersih. Tapi memang sekarang libur Imlek jadi tidak semua murid," ucapnya.
Aksi warga bersih-bersih usai banjir surut sehari menjelang Bulan Ramadan di Pamarican Ciamis. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar) |
Ai menjelaskan, kerusakan banyak terjadi pada buku-buku pelajaran yang terendam air di dalam lemari kelas. Selain itu, keramik di sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan cukup parah, terutama di kelas 6A dan 6B yang lantainya dilaporkan rusak. Sementara itu, arsip penting madrasah dipastikan aman karena disimpan di tempat yang lebih tinggi.
"Arsip-arsip madrasah selamat karena karyawan langsung mengantisipasi," jelasnya.
Air mulai surut sejak malam hingga dini hari. Selama kejadian, pihak sekolah terus memantau perkembangan ketinggian air melalui komunikasi dengan karyawan yang tinggal di sekitar madrasah. Namun, satu unit mobil sekolah dilaporkan mogok akibat terendam banjir.
Saat ini, pihak sekolah memanfaatkan masa libur untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan madrasah. Jika banjir kembali terjadi saat kegiatan belajar berlangsung, pihaknya berencana menjalin kerja sama dengan Madrasah Diniyah yang lokasinya lebih tinggi sebagai tempat belajar sementara.
"Selama tanggul belum diperbaiki permanen, kami akan terus terdampak. Jadi kemungkinan kami akan MoU dengan pihak Diniyah untuk antisipasi," pungkas Ai Rahma.
Ditinjau Bupatii
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya pun meninjau lokasi banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citalahab di Kecamatan Pamarican, Selasa (17/2/2026). Peristiwa ini menjadi kali kedua banjir melanda wilayah tersebut dalam dua pekan terakhir.
Banjir merendam wilayah Desa Bangunsari dan Desa Sukahurip. Di Dusun Kubangpari, Desa Bangunsari, tercatat 260 rumah yang dihuni 282 kepala keluarga (KK) atau 831 jiwa terdampak luapan air setinggi satu meter. Selain permukiman, sekitar 200 hektare lahan sawah turut terendam.
Sementara itu di Desa Sukahurip, 34 rumah di Dusun Sambungjaya dan satu rumah di Dusun Kertajaya ikut terendam. Akses jalan penghubung Bangunsari-Sukahurip pun sempat lumpuh. Banjir juga merusak kolam dan kebun seluas sekitar lima hektare, serta 30 hektare sawah yang kini terancam gagal tanam. Total 35 rumah terdampak di desa tersebut.
Sebanyak 164 warga Desa Bangunsari sempat mengungsi ke Masjid Nurul Hak dan Diniyah Al Ma'arif. Saat banjir mulai surut, para pengungsi pun telah kembali ke rumah masing-masing.
Herdiat menegaskan bahwa penanganan Sungai Citalahab harus segera dilakukan secara permanen agar bencana serupa tidak terulang.
"Ini harus secepatnya ditangani. Kami dari pemerintah daerah sudah berkoordinasi dengan Kepala BBWS dan juga berkomunikasi dengan Pak Gubernur. Insyaallah penanganan harus segera dilakukan," ujarnya.
Menurut Herdiat, tanpa perbaikan menyeluruh pada tanggul, banjir berpotensi kembali menerjang saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
"Kalau tidak ada penanganan dan terjadi hujan besar, pasti banjir lagi," katanya.
Pemerintah Kabupaten Ciamis telah menyiagakan dapur umum untuk melayani warga yang rumahnya terdampak sehingga tidak dapat memasak. Bantuan logistik darurat juga disalurkan guna meringankan beban masyarakat.
Terkait cuaca ekstrem yang masih mengancam, Herdiat mengimbau warga untuk tetap waspada. Ia menyebut Kabupaten Ciamis merupakan salah satu daerah rawan bencana, sehingga kesiapsiagaan masyarakat mutlak ditingkatkan.
"Melalui para kepala desa, kami terus menyosialisasikan pentingnya kehati-hatian dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Alhamdulillah dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa," pungkasnya.
(orb/orb)


