Sejauh Mana AI Layak Digunakan dalam Produksi Berita?

Sejauh Mana AI Layak Digunakan dalam Produksi Berita?

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 11 Feb 2026 21:03 WIB
Forum Bincang & Diskusi Artificial Intelligence yang digelar di Kota Bandung, Rabu (11/2/2026).
Forum Bincang & Diskusi Artificial Intelligence yang digelar di Kota Bandung, Rabu (11/2/2026). (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan masyarakat kini merambah berbagai sektor, termasuk aktivitas jurnalistik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga di Indonesia.

Pegiat media sekaligus Editor in Chief Digital Mama, Catur Ratna Wulandari, menilai AI membantunya dalam pekerjaan administratif di medianya.

"Untuk urusan administratif seperti membuat surat-menyurat, terutama istilah yang kurang kami pahami, biasanya saya bertanya ke ChatGPT. Termasuk untuk membuat MoU atau membantu pekerjaan keuangan seperti tabel dan lembar kerja Excel," ujar Ratna dalam Forum Bincang & Diskusi Artificial Intelligence di Kota Bandung, Rabu (11/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Ratna menegaskan AI tidak dapat menggantikan kerja jurnalistik, khususnya dalam menulis kisah yang membutuhkan kedalaman emosi dan pengalaman langsung.

"Untuk mencatat kisah perempuan, itu tidak bisa sepenuhnya diceritakan oleh ChatGPT. AI bisa menjelaskan kasus seseorang terjerat pinjaman online, tetapi tidak bisa menggambarkan pengalaman batin korban. Mau tidak mau kita harus turun langsung dan berbincang," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Ratna yang bergerak di media bertema anak dan perempuan menambahkan, penggunaan AI di medianya difokuskan pada hal-hal positif dan tidak dicampurkan dengan proses redaksional.

"Kami mulai sadar bagaimana AI bisa memengaruhi pengalaman anak. Jadi penggunaannya harus hati-hati," tambahnya.

AI Tidak Hadir di Lapangan

Dalam diskusi tersebut, jurnalis Rio Tuasikal turut membagikan pengalamannya menggunakan AI untuk menelusuri suatu peristiwa.

Ia mencontohkan kasus Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online yang tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob Polri saat bentrokan demonstrasi di Jakarta pada Agustus 2025.

"Saya bertanya ke ChatGPT soal kejadian itu. Jawabannya menyebut Affan tertabrak dan terlindas kendaraan Brimob," ujar Rio.

Rio kemudian menggali lebih jauh dengan meminta versi singkat berdasarkan keterangan saksi, polisi, dan keluarga korban. Ia menilai AI cenderung merangkum informasi berdasarkan sumber resmi yang tersedia.

"Saya tanya lagi, apakah AI melihat langsung kejadian itu? Tentu tidak. Sistem AI hanya merangkum dan menginformasikan dari sumber yang ada. Pada akhirnya, jawabannya merujuk pada pernyataan resmi kepolisian dan konferensi pers," jelasnya.

Menurut Rio, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa AI tidak memiliki pengalaman langsung di lapangan dan tetap bergantung pada data yang tersedia.

AI Bukan untuk Membuat Berita

Sementara itu, Pemimpin Redaksi detikJabar Baban Gandapurnama mengaku sempat merasakan keresahan atas kehadiran AI dalam dunia jurnalistik pada 2023-2024.

"Saya mengalami keresahan itu pada 2023-2024. Akhirnya saya menyiasati penggunaan AI di ruang redaksi dengan memanfaatkan fitur di Gemini atau AI Studio," ujarnya.

Baban menjelaskan, AI tidak digunakan untuk memproduksi berita, melainkan untuk kebutuhan pendukung seperti infografis dan komik ilustratif.

"Saya gunakan untuk membuat grafis atau komik dengan karakter Indonesia tanpa menampilkan wajah tertentu, itu lebih aman. Saya juga membuat infografis dengan fitur canvas. Intinya bagaimana memainkan prompt agar hasilnya sesuai," kata Baban.

Ia menegaskan, AI hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan dasar seperti koreksi kesalahan ketik atau visualisasi data.

"Bukan untuk memproduksi berita. Untuk menguji prompt agar konsisten saja butuh waktu berhari-hari. Semua saya lakukan dengan versi gratis," tambahnya.

(wip/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads