Jabar Hari Ini: Rizky Febian Hadir di Sidang Waris

Jabar Hari Ini: Rizky Febian Hadir di Sidang Waris

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 10 Feb 2026 22:00 WIB
Jabar Hari Ini: Rizky Febian Hadir di Sidang Waris
Rizky Febian (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar).
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, Selasa, 10 Februari 2026 dari mulai artis Rizky Febian hadir dalam sidang permohonan hak ahli waris Bintang yang dilayangkan Teddy Pardiyana hingga seorang pelajar di Kota Cimahi nekat mengakhiri hidup dengan cara melompat dari Flyover Pasupati, Kota Bandung.

Berikut rangkuman Jabar hari ini:

Cerita Rizky Febian soal Tedy Ungkit Harta Sang Ibunda

Kisah sedih diungkapkan putra komedian Sule, Rizky Febian. Hal itu diungkapkan Iki, sapaan karib Rizky Febian saat setelah menghadiri sidang permohonan hak ahli waris Bintang yang dilayangkan Teddy Pardiyana. Pada momen itu, pelantun lagu 'Sembilan Nyawa' itu merasa sedih karena harta almarhum ibunya, Lina, diungkit kembali di persidangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iki menghadiri sidang di Pengadilan Agama (PA) Bandung dengan mediasi. Di momen itu, suami Mahalini ini memastikan keluarganya menjamin kehidupan Bintang sebelum Teddy melayangkan permohonan hak ahli waris anaknya dari almarhumah Lina.

"Sebenarnya kita tuh bukan tidak ingin mempermasalahkan atau mungkin terkesan anteng-anteng saja, enggak. Tapi kita juga kan patut mempertanyakan kalau memang mau berbagi warisan dan yang lainnya tuh kita juga harus tahu aset-asetnya tuh mana saja, dari mana aja, di mana aja, mana yang punya saya, mana yang memang udah dijadikan hak waris kepada adik-adik saya. Itu kan penting ya, bukan semata-mata datang, terus pengen dibagi semuanya. Itu juga kan enggak baik," kata Iki hari ini.

ADVERTISEMENT

Iki mengaku begitu sedih karena ada orang yang kembali mengungkit hal tentang sang ibu. Padahal kata Iki, urusan Teddy dengan almarhumah Lina sudah selesai sejak dulu, termasuk soal masalah harta di antara keduanya.

"Jujur sebenarnya saya kalau ngebahas tentang kayak gini tuh sedih, ya. Karena Almarhumah sudah pergi sudah lama. Jadi kayak harus punya waktu banyak untuk aku bisa nerima semuanya kan," ucap Iki.

"Jadi kayak ketika tadi dibahas seperti ini dan dipertanyakan perihal yang tadi tuh kayak kita juga cukup punya bukti kuat bahwa lawyer dulu sama mama juga jadi saksi mata. Bahwa misalkan aset-aset dan yang lainnya, terus warisan ke mana saja, juga sudah ada tertulis secara jelas," tambahnya.

Di agenda mediasi, Iki sempat menanyakan langsung soal langkah Teddy saat ini di PA Bandung. Sebab seharusnya kata anak sulung Sule itu, Teddy mestinya menghubungi Iki dan keluarganya terlebih dahulu, bahkan kehidupan Bintang pun dijamin semenjak meninggalnya almarhumah Lina.

"Saya tadi sempat bilang ke Pak Teddi kenapa enggak ada niatan baik dulu untuk nanya ke saya, nanya kabar ke saya, terus juga ngasih tahu perihal ini mau dibawa ke mana. Kan ini enggak ada. Ini langsung mereka bawa jalur hukum," ujarnya.

"Makanya saya tadi langsung tekankan ke Pak Teddy, ya kalau misalkan memang maunya lewat jalur hukum, ya sudah saya tinggal ikutin. Padahal dari awal juga saya sudah ada itikad baik. Kalau misalkan memang dia punya itikad baik, mungkin menganggap saya siapanya dari dari ibu saya dulu. Seharusnya ada itikat baik, ternyata enggak ada ya. Ya sudah saya akhirnya ikutin apa yang sudah terjadi sekarang gitu sih," tegasnya.

Iki mengaku ingin masalah ini segera selesai. Sebagai seorang kepala keluarga, Iki juga memberi pesan kepada Teddy supaya bisa mencari kerja dan mencari nafkah untuk keluarganya.

"Saya pengin beres lah semuanya, saya juga kan punya anak, saya punya istri. Kalau saya masih suami bertanggung jawab, saya harus menafkahin. Saya mandiri, udah enggak minta sama orang tua, saya nggak minta ke mana-mana. Jadi, kalau saya sampai sekarang tetap ini aja habis dari sini saya harus manggung dan yang lainnya buat membesarkan anak saya dan istri saya," katanya.

"Ayah juga yang pastinya penginnya semuanya beres, lancar dan dikupas tuntas dengan baik lah. Dalam artian karena masih banyak hak yang harus kita perhitungkan. Kemarin kita diam, tapi ya kalau misalkan nanti hak waris ini sudah beres, tapi nanti akan ada beberapa yang memang saya harus perhitungkan perihal aset aset. Dan untuk Pak Teddy semoga sehat dan bisa cari kerjaan dan cari nafkah," pungkasnya.

Sengketa Lahan SMAN 13 Bandung

Bayang-bayang eksekusi menghantui SMAN 13 Bandung. Sekolah negeri yang berdiri di Jalan Raya Cibeureum, Kota Bandung itu didatangi sekelompok orang yang mengaku sebagai ahli waris dan memasang papan plang sengketa di depan gerbang.

Ketegangan memuncak pada Senin (9/2) kemarin. Pihak yang mengklaim sebagai ahli waris datang ke SMAN 13 Bandung dan berupaya menggembok gerbang sekolah.

Mereka mengklaim memiliki hak atas tanah tempat sekolah berdiri dengan dasar putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 653 PK/Pdt.G, yang disebut menyatakan lahan tersebut milik ahli waris Nyi Mas Entjeh.

Aksi tersebut memicu kekhawatiran, bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar. Namun di balik peristiwa nyaris digemboknya gerbang sekolah, tersimpan sengketa panjang yang telah berlarut hampir satu dekade.

Sengketa lahan SMAN 13 Bandung diketahui telah bergulir sejak 2016. Persoalan ini tak hanya menyangkut satu sekolah, tetapi juga melibatkan SDN Cibeureum yang berada di kawasan yang sama di sepanjang Jalan Raya Cibeureum, Kota Bandung.

Berdasarkan dokumen DPKAD Kota Bandung, lahan SMAN 13 berlokasi di Jalan Raya Cibeureum Nomor 52, Kelurahan Campaka, Kecamatan Andir, dengan luas sekitar 3.785 meter persegi. Tanah tersebut tercatat resmi sebagai Barang Milik Daerah (BMD) Pemerintah Kota Bandung dan selama puluhan tahun digunakan untuk kepentingan pendidikan.

Riwayat administrasi lahan itu pun tercatat jelas. Tanah dan bangunan SMAN 13 merupakan aset yang awalnya diserahkan oleh Pemerintah Pusat melalui Departemen Pendidikan Nasional kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Selanjutnya, aset tersebut dilimpahkan kepada Pemerintah Kota Bandung pada 2001, sebagaimana tertuang dalam berita acara serah terima barang milik negara.

Status hukum lahan SMAN 13 juga pernah diperkuat melalui penerbitan hak atas tanah. Pada 1996, terbit Keputusan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jawa Barat Nomor 496/HP/KWBPN/1996 tentang pemberian Hak Pakai atas nama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kondisi serupa juga berlaku pada SDN Cibeureum. Sekolah dasar itu berdiri di atas lahan seluas sekitar 4.745 meter persegi yang juga tercatat sebagai BMD Pemerintah Kota Bandung. Tanah tersebut diperoleh melalui proses pemekaran wilayah Kota Bandung berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987.

Persoalan hukum mulai mencuat ketika pada 14 April 2016, Rd. Ida Roosliah mengajukan gugatan perdata. Ia mengklaim menerima hibah wasiat dari Nyimas Entjeh Osah dan pada 4 Mei 2016 Mansyurdin yang mengaku sebagai kuasa ahli waris menyerahkan salinan putusan perkara SMAN 13 dan SDN Cibeureum.

Dalam gugatan itu, penggugat menuding 38 pihak tergugat menguasai tanah tanpa hak dan menuntut pengosongan terhadap objek sengketa, termasuk lahan SMAN 13 Bandung dan SDN Cibeureum tanpa syarat.

Namun dalam rangkaian proses hukum, Pengadilan Negeri menolak gugatan penggugat. Meski dalam tahap banding sempat muncul putusan yang mengabulkan sebagian gugatan rekonpensi, putusan kasasi hingga peninjauan kembali (PK) pada prinsipnya kembali menolak gugatan penggugat.

Pada 24 Mei 2016, Mansyurdin mendatangi DPKAD dengan tuntutan ganti rugi dan menyatakan akan melakukan penyegelan terhadap SMAN 13 apabila tuntutannya tidak dipenuhi.

Namun dalam dokumen itu ditegaskan, tidak terdapat satu pun amar putusan pengadilan yang memerintahkan untuk membayar ganti rugi atau mengosongkan tanah dan bangunan SMAN 13 maupun SDN Cibeureum.

Wakil Kepala SMAN 13 Bandung, Henhen Suhaeni, mengungkapkan pihak penggugat mengklaim memiliki hak atas tanah SMAN 13 Bandung.

"Intinya mereka mengaku memiliki bukti bahwa tanah ini milik mereka, mereka mengaku ahli waris. Sementara dari pihak sekolah, bahwa surat gugatan itu tidak jelas, tapi mereka mengaku bisa melakukan eksekusi secara mandiri," kata Henhen hari ini.

Siswa dan Petani Butuh Perbaikan Jalan Rusak Dibanding MBG

Sebuah foto yang memperlihatkan siswa Sekolah Dasar (SD) memegang poster kritik sosial viral di media sosial. Dengan wajah polos, bocah-bocah berseragam merah putih itu membentangkan kardus bertuliskan 'Kami Lebih Butuh Perbaikan Jalan Daripada MBG!'.

Poster yang kini tertancap di pohon jati itu bukan sekadar sindiran, melainkan gambaran nyata penderitaan warga Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, Kabupaten Sukabumi.

Di balik viralnya foto tersebut, tersaji pemandangan miris perjuangan siswa SDN Sukamukti dan warga setempat yang harus bertaruh nyawa setiap hari.

Akses jalan kabupaten ini nyaris putus total akibat longsor. Rombongan siswa SD terlihat harus meniti bambu darurat yang dipasang di atas lumpur cair yang dalam.

Beberapa siswa tampak gemetar memegang tangan temannya, sementara sepatu hitam mereka berubah warna terbalut tanah merah yang lengket.

Di tengah kondisi tersebut, Rika (30), salah satu orang tua murid, tampak siaga di ujung jalan. Mengenakan baju ungu, lengkap dengan sepatu bot, Rika berdiri dengan cemas menanti anaknya pulang sekolah tepat di samping pohon tempat poster protes itu ditempel.

Ia mengaku tak punya pilihan selain mengantar-jemput anaknya setiap hari karena medan yang terlalu berbahaya bagi anak kecil.

"Tiap hari jemput anak ke sini. Terpaksa, karena kondisi jalannya rusak parah. Kalau enggak diantar, anak enggak bisa lewat. Kemarin juga ada anak yang jatuh terpeleset di sini karena licin," ungkap Rika dengan nada khawatir, hari ini.

Terkait poster viral yang menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rika menegaskan bahwa itu murni jeritan hati para ibu. Mereka merasa putus asa karena kerusakan jalan yang sudah berlangsung dua bulan ini tak kunjung diperbaiki.

"Itu inisiatif warga, kreatif ibu-ibu saja. Soalnya sudah divideoin, masih saja enggak ada respons. Siapa tahu dengan begini aspirasi kami bisa sampai. Kami butuh jalan ini segera diperbaiki," tegasnya.

Tak hanya dunia pendidikan yang terganggu, urat nadi ekonomi warga pun nyaris putus. Di sela-sela rombongan anak sekolah, terlihat Rahmat (39), seorang petani, berjalan tertatih-tatih sambil memanggul karung gabah seberat 50 kilogram di pundaknya.

Napasnya terdengar memburu saat menapaki tanjakan lumpur yang penuh jejak roda. Rahmat harus berjalan kaki sejauh satu kilometer dari sawahnya di Desa Bantargadung menuju rumahnya, lantaran sepeda motor yang biasa ia gunakan tak lagi bisa menembus jalur tersebut.

"Biasanya motor bisa sampai sawah, langsung angkut. Sekarang mah boro-boro, jalan kaki saja susah. Terpaksa dipikul sejauh satu kilo lebih. Tenaga habis di jalan, biaya angkut jadi mahal," keluh Rahmat sambil menyeka keringat.

Sebelumnya, ketua RT 03/04 Kampung Babakan, Dedem, membenarkan bahwa kondisi memprihatinkan ini sudah terjadi berulang kali. Status jalan sebagai aset Pemerintah Daerah (Pemda) membuat pihak desa tidak bisa berbuat banyak selain melakukan kerja bakti seadanya.

"Kejadiannya tiap musim hujan pasti longsor. Habis kerja bakti, ketiban hujan, longsor lagi, timbun lagi. Ini jalan Pemda, desa enggak bisa bangun. Kasihan anak sekolah dan warga," pungkas Dedem.

Pelajar Cimahi Tewas Lompat Flyover Pasupati

Seorang remaja pria diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas Flyover Mochtar Kusumaatmadja atau Pasupati, Kota Bandung. Korban ditemukan meninggal dunia dengan luka di bagian kepala.

Kejadian ini tengah ditangani Satreskrim Polrestabes Bandung. Jasad korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit Sartika Asih, Kota Bandung, untuk penanganan lebih lanjut.

Kapolsek Bandung Wetan AKP Bagus Yudo menuturkan berdasarkan hasil identifikasi awal, korban merupakan warga Kota Cimahi. "Warga Cimahi, masih berstatus pelajar, berusia 17 tahun," kata Bagus kepada awak media di lokasi kejadian hari ini.

Bagus menjelaskan, motif kejadian tersebut belum diketahui secara pasti. Saat disinggung mengenai keberadaan surat wasiat, pihaknya mengaku akan melakukan pendalaman, termasuk memeriksa ponsel milik korban.

"Motif belum dapat kami sampaikan. Masih kita cek," ujarnya.

Saksi mata, Cahyadi (38) mengatakan kejadian itu sempat diketahui dua anggota TNI yang melintas. Mereka sempat berupaya melakukan penyelamatan, namun korban telanjur menjatuhkan diri dari atas jembatan layang tersebut.

"Tidak keburu diselamatkan, sempat berdiri baru jatuh korbannya," ujar Cahyadi.

Dalam kejadian ini, korban diketahui menggunakan sepeda motor matik. Kendaraan tersebut ditemukan terparkir di atas flyover. "Korban pakai jaket hitam, tubuhnya tinggi dan kurus," ujarnya.

4 Motor Dibakar Usai Berandal di Cirebon DIlawan Warga!

Aksi menegangkan terjadi di wilayah Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, pada Senin (9/2/2026) malam. Ratusan warga menghadang konvoi puluhan sepeda motor yang diduga dilakukan oleh kelompok berandalan bermotor yang selama ini meresahkan masyarakat.

Warga bertindak setelah merasa resah dan terancam oleh ulah rombongan remaja tersebut. Pasalnya, selain berkonvoi ugal-ugalan, para peserta konvoi juga diduga membawa senjata tajam dan kayu sambil berkeliling ke sejumlah desa di Kecamatan Jamblang.

Ketegangan memuncak ketika warga melakukan pengejaran terhadap rombongan tersebut. Para peserta konvoi pun panik dan berhamburan melarikan diri ke berbagai arah. Dalam peristiwa itu, sejumlah remaja berhasil diamankan warga.

Karena emosi yang memuncak, warga sempat menyita empat unit sepeda motor milik peserta konvoi. Kendaraan tersebut kemudian dikumpulkan di sebuah lapangan desa. Tak lama berselang, warga membakar sepeda motor tersebut sebagai luapan kekesalan atas aksi konvoi yang dinilai sudah sangat meresahkan.

"Iya, benar. Tadi ada beberapa motor yang dibakar warga karena sudah kesal dengan ulah berandalan motor ini," ujar Khaerudin, warga Desa Bakung Lor hari ini.

Situasi kembali memanas saat warga berhasil mengamankan sejumlah remaja yang diduga kuat terlibat dalam aksi konvoi tersebut. Beberapa di antaranya sempat menjadi sasaran amarah massa. Beruntung, aksi main hakim sendiri dapat dihentikan setelah petugas kepolisian tiba di lokasi.

Petugas kemudian mengevakuasi para remaja yang diamankan ke Balai Desa Bakung Lor guna mengantisipasi amukan warga dan menjaga situasi tetap kondusif.

Kapolsek Klangenan, Iptu Diding, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa seluruh peserta konvoi yang berhasil diamankan kini berada dalam penanganan pihak kepolisian.

Menurutnya, rombongan konvoi yang terdiri dari sekitar 20 sepeda motor itu awalnya melintas di Desa Bakung Kidul, Kecamatan Jamblang. Di lokasi tersebut, warga berhasil mengamankan enam orang pelajar.

"Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Bakung Lor dan kembali diamankan warga sebanyak 11 orang. Sisanya berpencar ke arah pematang sawah Desa Bojong Lor dan Desa Kreyo," jelasnya.

Di Desa Bojong Lor, warga mengamankan empat orang pelajar, sementara di Desa Kreyo diamankan tiga orang pelajar lainnya. Seluruh remaja tersebut selanjutnya diserahkan kepada pihak kepolisian untuk dilakukan pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap menahan diri dan menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada aparat hukum, serta meminta para orang tua agar lebih mengawasi aktivitas anak-anaknya guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Dear Mahalini, Rizky Febian Izin 'Berpaling' Dulu Ya"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads