Pagi itu, Senin (19/1/2026), matahari baru naik setinggi pucuk kelapa ketika bel sekolah SDN Cipatuguran berbunyi. Udara di pesisir Pelabuhratu masih terasa lembap, bercampur aroma asin laut. Dari kejauhan, cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pelabuhanratu berdiri menjulang setinggi 210 meter, samar diselimuti kabut tipis yang tak pernah benar-benar hilang.
Sebagian siswa keluar masuk kelas sambil menutup hidung. Udara berdebu sudah jadi nafas harian mereka. Kaca jendela yang sempat bersih, kembali tertutup debu.
Di tengah krisis iklim, teknologi co-firing biomassa dipromosikan pemerintah sebagai jembatan menuju energi bersih. Namun di Pelabuhanratu, praktik ini memperlihatkan paradoks transisi energi Indonesia.
Pembangkit listrik tenaga uap batu bara tetap beroperasi, asap tetap dihirup warga, hutan ditekan sebagai pemasok biomassa, dan risiko kesehatan dipindahkan ke tubuh masyarakat yang hidup paling dekat dengan cerobong.
Alih-alih menjadi solusi iklim, co-firing biomassa berfungsi memperpanjang umur PLTU, memberi legitimasi baru pada industri energi fosil, dan menciptakan krisis berlapis seperti kesehatan, ekologi, dan ketimpangan energi.
Di ruang kelas 1, Yuli Kurnia selaku wali kelas masih mengingat jelas satu peristiwa yang membuatnya panik. Suara gemuruh keras tiba-tiba terdengar dari arah laut. Getarannya sampai ke dinding kelas. Anak-anak menjerit. Beberapa menangis. Mereka mengira tsunami datang.
"Anak-anak sampai lari keluar kelas," kata Yuli saat mengenang kejadian yang terjadi pada beberapa tahun lalu.
Bukan gelombang laut yang datang. Suara itu berasal dari proses pembakaran batu bara di PLTU. Di lain hari, beberapa murid mulai mengeluh sesak napas. Ada yang mual. Ada yang pucat dan duduk terdiam, kesulitan menarik nafas panjang.
"Kalau dampak itu tentu dirasakan karena jarak sangat dekat dengan PLTU," ujar Yuli. "Kalau sedang pembakaran batu bara, itu pernah sampai sesak. Anak-anak sampai mual, betul-betul berasa sesak napas."
Sekolah dasar negeri itu berjarak kurang dari dua kilometer dari PLTU Pelabuhanratu. Setiap hari, sekitar 645 siswa menghabiskan waktu belajar dari pukul 06.45 hingga 13.00 WIB, tepat di kawasan yang oleh para peneliti disebut sebagai zona paparan industri energi fosil.
Tidak ada papan peringatan kualitas udara di sekolah. Tidak ada alarm ketika polusi meningkat. Yang ada hanya masker-itu pun jika sekolah mengajukan permintaan ke pihak PLTU.
Anak-anak di sekitar PLTU Pelabuhanratu tidak pernah memilih lahir dan tumbuh di kawasan industri energi. Mereka juga tidak punya kuasa untuk menentukan arah kebijakan transisi energi nasional. Namun tubuh merekalah yang pertama kali merasakan dampaknya.
Dalam laporan berbagai lembaga kesehatan, anak-anak disebut sebagai kelompok paling rentan terhadap polusi udara. Paru-paru mereka masih berkembang. Sistem imun belum sepenuhnya matang. Paparan jangka panjang dapat berdampak hingga dewasa.
Tak Ada Studi Khusus Dampak Jangka Panjang Polusi Udara Terhadap Murid
Di SDN Cipatuguran, tidak ada studi khusus tentang dampak jangka panjang polusi udara terhadap murid. Tidak ada pemantauan kualitas udara harian yang bisa dijadikan rujukan orang tua. Yang ada hanya pengalaman sehari-hari: anak cepat lelah, mudah batuk, dan sesekali harus dibawa ke puskesmas.
Suatu hari, seorang orang tua siswa datang menyampaikan kabar tentang anaknya yang harus dilarikan ke puskesmas. Penyebabnya bukan sakit biasa. Anak itu menghirup asap setelah terjadi kebakaran kecil di kapal tongkang batu bara yang terpapar terik matahari.
"Katanya sampai sesak napas, batuk-batuk," ujar Yuli, suaranya pelan, seolah kembali pada momen cemas yang sama.
Guru PJOK, Harli Juliandi mengatakan, situasi ini sudah dianggap sebagai rutinitas. Ketika asap dan debu terlihat semakin pekat, pihak sekolah biasanya menghubungi PLTU.
"Kalau sudah banyak asap, kita ngajuin aja. Kadang pihak PLTU langsung ngasih masker," katanya.
Masker menjadi solusi sementara untuk persoalan yang berulang. Bukan pencegahan, apalagi perlindungan jangka panjang.
Hidup di Ruang yang Sama dengan Cerobong
SDN Cipatuguran bukan satu-satunya ruang hidup yang berada di bawah bayang-bayang cerobong. Permukiman nelayan di Kampung Panyairan, RW 31, Kelurahan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi berada di ring 3 PLTU. Di kampung itu, asap pembakaran kerap datang mengikuti arah angin malam.
Udin Samsudin telah mengarungi laut selama puluhan tahun. Sejak masa mudanya, hamparan air asin itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang hidup yang membentuk hari-harinya.
Namun kini, setiap kali malam turun dan perahu kecilnya perlahan menjauh dari bibir pantai, yang lebih dulu menyambut justru rasa perih di mata, bukan tarikan jala berisi ikan.
Meski begitu, Udin tak punya banyak pilihan. Ia tetap melaut, menantang ketidaknyamanan yang kian akrab, demi memastikan asap dapur di rumahnya terus mengepul.
"Asapnya jelas dari PLTU. Perih kena mata kalau malam," katanya. Angin, menurut Udin, sering bergerak dari selatan ke barat. Dan laut lepas berada tepat di jalur itu. "Kita kan di barat. Persis kena,".
Saat berbincang dengan detikJabar, tatapan mata Udin tampak tenang, namun menyimpan lelah yang panjang. Bola matanya sedikit sayu, seolah telah terlalu sering menatap gelapnya laut dan malam yang sama selama bertahun-tahun.
Ada garis-garis halus di sudut matanya, bekas usia dan kerasnya hidup yang dijalani tanpa banyak keluh. Pandangannya tidak menantang, justru teduh dan pasrah-seperti seseorang yang sudah berdamai dengan keadaan, meski tak sepenuhnya menerima. Dari tatapan itu, tersirat keteguhan seorang nelayan tua yang terus bertahan, meski tubuh dan mata tak lagi sekuat dulu.
Asap itu tidak hanya mengganggu penglihatan. Dalam jangka panjang, paparan udara tercemar ikut memengaruhi kondisi kesehatan. Udin mengaku kerap mengalami gatal-gatal, terutama saat peralihan musim kemarau ke hujan.
"Musim hujan pertama jatuh, kadang-kadang gatal di mana-mana," ujarnya.
Bagi nelayan seperti Udin, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang hidup. Ketika laut tercemar dan udara memburuk, dampaknya tidak berhenti di penghasilan. Ia merembet ke tubuh.
Keluhan sesak napas, batuk, dan iritasi kulit bukan cerita satu-dua orang. Di Pelabuhanratu dan Simpenan-dua kecamatan terdekat dengan PLTU-angka penyakit pernapasan dan penyakit kulit terus muncul dalam laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi.
Danny Eka Irawan, Staf Tim Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi menjelaskan, bahwa paparan polusi udara, terutama partikulat halus, memiliki kaitan erat dengan penyakit pernapasan dan penyakit tidak menular.
"Paparan polutan seperti PM2.5 dapat memperparah penyakit pernapasan, memicu asma, dan meningkatkan risiko penyakit kronis," kata Danny.
Menurutnya, kondisi krisis iklim memperburuk situasi. Suhu yang lebih panas dan pola angin yang berubah membuat polutan bertahan lebih lama di udara.
"Ketika suhu meningkat, polutan bisa lebih lama terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Ini meningkatkan paparan masyarakat," ujarnya.
Namun, Danny juga mengakui bahwa sistem kesehatan publik belum sepenuhnya mengaitkan data penyakit dengan sumber paparan lingkungan.
"Kita masih banyak berada di tahap penanganan kasus," katanya.
(yum/yum)