Di bawah rimbunnya deretan pohon cemara laut yang berjajar rapi di Pantai Talanca, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, segelintir wisatawan tampak menggelar tikar dan duduk santai di atas motor mereka, Sabtu (7/2/2024).
Angin mengembus sejuk di spot ini, seolah menjadi satu-satunya sisa kejayaan masa lalu yang masih bisa dinikmati. Namun, kenyamanan itu terusik begitu pandangan diarahkan beberapa meter ke arah bibir pantai.
Bukan pasir putih yang menyambut, melainkan hamparan kayu gelondongan dan limbah kain yang menutup total garis pantai.
Edem Barong (55), warga asli Simpenan, menatap nanar ke arah tumpukan sampah itu. Ingatannya melayang mundur ke 35 tahun silam, saat ia masih berusia 20 tahun. Baginya, Talanca hari ini adalah "orang asing" yang tak lagi ia kenali.
"Dulu mah di sini banyak bule. Waktu saya umur 20 tahunan, alamnya belum seperti sekarang, penghijauannya masih bagus," kenang Edem dengan mata menerawang.
Menurut Edem, tiga dekade lalu, Pantai Talanca adalah surga tersembunyi bagi para peselancar mancanegara. Ombaknya yang bersahabat menjadi magnet bagi wisatawan asing untuk berlatih surfing. Air lautnya pun jernih, tanpa sepotong pun sampah plastik yang mengapung.
"Saya sering main ke sana, namanya juga remaja laki-laki, senang lihat bule pakai bikini," ujarnya sembari terkekeh mengenang masa mudanya. "Dulu mah bersih, tidak ada sampah sedikitpun," sambungnya.
Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
(sya/mso)