Rasa kantuk setelah keramas adalah hal normal. Hal ini dipicu oleh efek relaksasi yang membantu mengendurkan otot tubuh, terutama jika Anda keramas menggunakan air hangat.
Namun, pernahkah Anda merasa pusing setelah tidur dengan rambut basah? Atau pernah mendengar larangan orang tua, "Jangan tidur saat rambut basah, nanti flu"? Apakah hal itu mitos atau fakta? Simak penjelasannya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa Tidur dengan Rambut Basah Dianggap Menyebabkan Flu?
Anggapan bahwa tidur dengan rambut basah memicu flu sudah berkembang lama dan diwariskan secara turun-temurun. Rambut basah membuat kepala terasa dingin saat suhu udara malam menurun. Sensasi dingin inilah yang kemudian dikaitkan dengan munculnya gejala pusing, meriang, hingga pilek keesokan harinya.
Kondisi tubuh yang tidak nyaman setelah bangun tidur dengan rambut lembap sering dianggap sebagai tanda masuk angin. Dari sinilah muncul persepsi bahwa rambut basah adalah penyebab flu, padahal kondisi tersebut hanya menjadi faktor pendukung, bukan penyebab utama.
Bahaya Tidur Saat Rambut Basah
Anggapan bahwa tidur dengan rambut basah mengakibatkan flu hanyalah mitos. Air yang menempel di rambut tidak serta-merta membuat seseorang terserang virus. Meski bukan penyebab langsung, kondisi rambut yang lembap dan dingin dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga virus lebih mudah berkembang.
Berikut adalah beberapa efek negatif tidur dalam kondisi rambut basah:
1. Infeksi Jamur dan Bakteri
Bantal yang basah menjadi tempat ideal bagi bakteri maupun jamur untuk berkembang biak. Hal ini berisiko menyebabkan infeksi jamur atau tinea capitis (kurap kulit kepala) yang memicu ketombe dan rasa gatal hebat.
2. Sakit Kepala
Rambut basah memicu pertumbuhan bakteri dan meningkatkan aliran darah ke area kepala, sehingga menimbulkan rasa nyeri. Membungkus rambut dengan handuk saat tidur justru memperburuk kondisi karena memerangkap kelembapan dan mengganggu sirkulasi darah di kulit kepala.
3. Merusak Rambut
Gesekan antara rambut basah dan bantal membuatnya lebih mudah rusak dan patah. Selain itu, kondisi ini memicu produksi minyak berlebih akibat gangguan pada kelenjar sebaceous dan keseimbangan pH kulit kepala.
4. Memicu Jerawat
Bantal yang lembap menjadi sarang bakteri. Wajah atau punggung yang bersentuhan langsung dengan permukaan bantal akan lebih mudah berjerawat.
5. Menurunkan Daya Tahan Tubuh
Suhu tubuh menurun secara alami pada malam hari. Rambut basah membuat suhu tubuh turun lebih jauh. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa suhu tubuh yang rendah dapat mengurangi respons kekebalan terhadap radang tenggorokan dan flu.
Tips Mengurangi Risiko Tidur dengan Rambut Basah
Jika terpaksa tidur dalam kondisi rambut basah karena kelelahan, lakukan langkah-langkah berikut untuk meminimalkan risiko:
1. keringkan rambut semaksimal mungkin sebelum naik ke tempat tidur. Setidaknya, pastikan rambut tidak lagi meneteskan air. Kamu bisa menggunakan handuk berbahan lembut atau hair dryer dengan suhu rendah agar rambut tidak terlalu lama berada dalam kondisi basah
2. Hindari membungkus rambut basah dengan handuk saat tidur. Kebiasaan ini justru membuat kelembaban terperangkap lebih lama di kulit kepala, sehingga meningkatkan risiko pertumbuhan jamur dan bakteri. Lebih baik biarkan rambut terurai agar sirkulasi udara tetap lancar
3. Pastikan sarung bantal dalam kondisi bersih dan kering. Bantal yang lembab bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri, yang berisiko memicu jerawat, gatal di kulit kepala, hingga infeksi ringan
4. Atur suhu ruangan agar tidak terlalu dingin
5. Pilih posisi tidur yang tidak membuat rambut terlalu lama tertekan oleh bantal. Dengan begitu, rambut bisa lebih cepat kering secara alami dan risiko kerusakan rambut akibat gesekan juga bisa diminimalkan
