Petaka Tahu Berjamur di Sukabumi

Round-Up

Petaka Tahu Berjamur di Sukabumi

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 30 Jan 2026 07:30 WIB
Petaka Tahu Berjamur di Sukabumi
Buntut keracunan massal, operasional SPPG dihentikan sementara. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Niat hati menyajikan gizi terbaik, yang terjadi justru malapetaka. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, berubah menjadi mimpi buruk pada Rabu (28/01).

Menu tahu yang seharusnya menyehatkan, justru disajikan dalam kondisi berjamur karena miskomunikasi fatal di dapur penyedia.

Akibat kelalaian ini, operasional Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Anugerah Ratu Alam 1 di Loji, Simpenan, resmi mati suri. Mulai tanggal 29 Januari 2026, aktivitas di dapur tersebut dihentikan total atas perintah langsung Badan Gizi Nasional (BGN).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala SPPG Anugerah Ratu Alam 1, Anwar Syapei, tak bisa mengelak. Ia mengakui dapur yang dikelolanya menjadi sumber masalah dan kini harus tutup sementara sembari menunggu hasil laboratorium mengungkap racun di balik sajian tersebut.

ADVERTISEMENT

"Intinya dapur kami ditutup sementara menunggu hasil investigasi atau dari uji lab makanan yang kami distribusikan pada hari Rabu tanggal 28," jelas Anwar kepada detikJabar.

Selama masa investigasi, garis tegas telah ditarik. Tidak boleh ada kepulan asap atau aktivitas masak-memasak di lokasi tersebut.

"Selama berhenti beroperasional, dilarang melakukan aktivitas apapun di dapur," tegasnya.

Alibi Tahu 'Miskomunikasi'

Anwar kemudian buka-bukaan soal biang kerok keracunan massal ini. Ia berdalih terjadi kesalahpahaman fatal di antara tim dapurnya terkait pengolahan Tahu Sumedang yang menjadi menu hari itu.

Tahu yang tiba Selasa sore dikira akan dimasak ulang, namun nyatanya langsung disajikan begitu saja ke wadah makan siswa.

"Ternyata setelah didistribusikan ada miskomunikasi di lapangan. Ternyata tahu itu tidak diolah kembali, artinya langsung dimasukkan ke ompreng," ungkap Anwar.

Ia pun membela diri bahwa saat bahan baku datang, kondisinya bersih. Ia menuding suhu panas saat perjalanan pengiriman sebagai penyebab munculnya jamur beracun itu.

"Mungkin karena suhu ruangan ketika pengiriman di jalan, suhunya panas, udara sekitar panas, sehingga menyebabkan terkontaminasi bakteri dan berjamur," dalihnya.

Atas kejadian ini, manajemen SPPG telah melayangkan permintaan maaf terbuka melalui surat edaran resmi.

"Kami menyampaikan permohonan maaf yang seluas-luasnya atas kejadian yang tidak kami harapkan pada hari ini, yang disebabkan oleh dapur yang kami kelola," tulis manajemen dalam edaran tersebut.

"Sementara waktu dapur kami akan melakukan evaluasi internal, sehingga distribusi hari besok SPPG Loji berhenti operasional sampai waktu yang akan diinformasikan kembali," lanjut bunyi surat itu.

Bocah Thalasemia Dilarikan ke RS

Nasi sudah menjadi bubur, permintaan maaf tak serta merta memulihkan kondisi para korban. Hingga Rabu malam, tercatat 19 orang yang terdiri dari siswa dan guru tumbang dengan gejala keracunan.

Yang paling memilukan, seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun berinisial L harus dilarikan ke RSUD Palabuhanratu. Dokter Puskesmas Simpenan, Egi, mengungkapkan bahwa kondisi bocah tersebut cukup mengkhawatirkan karena memiliki riwayat penyakit penyerta.

"Update terkini jumlah pasien ada 19 orang. Yang sudah pulang ada tiga, hari ini ada satu yang dirujuk. Yang dirujuk itu pasien dengan indikasi thalasemia," ujar Dokter Egi di lokasi.

"Satu orang dirujuk ke rumah sakit Palabuhanratu. Yang masih ditangani di sini ada 15 pasien," tambahnya merinci data korban.

Merespons krisis kesehatan ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah nyawa para korban.

Prosedur triase ketat diberlakukan bagi setiap pasien yang datang.

"Pasien datang ke faskes, kemudian dilakukan triase, dipilah-pilih sesuai kondisi. Prinsip utama kami adalah life saving atau penyelamatan nyawa," tegas Masykur.

(sya/sud)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads