Gempuran zaman menjadi tantangan besar bagi para pedagang yang masih bertahan di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Pola penjualan konvensional yang mengandalkan transaksi tatap muka kini harus bersaing dengan sistem belanja daring yang kian diminati masyarakat.
Perubahan perilaku konsumen ini membuat para pedagang pasar tradisional berada di persimpangan yang tak mudah.
Tak hanya soal persaingan dengan penjualan online, persoalan kenyamanan dan kemudahan juga menjadi faktor lain.
Banyak masyarakat kini memilih berbelanja kebutuhan pokok hingga fesyen di supermarket atau swalayan. Kondisi tersebut memaksa para pedagang Pasar Kosambi memutar otak, mencari strategi agar usaha tetap bertahan dan dapur rumah tangga terus mengepul.
Pasar Kosambi sendiri berdiri sejak tahun 1915, sekitar 30 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Pasar tradisional ini berlokasi di Jalan Ahmad Yani No. 221-223, Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.
Bangunan pasar memiliki luas sekitar 31.714 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 11.715 meter persegi. Dari total delapan lantai bangunan, saat ini hanya empat lantai yang aktif digunakan. Area tersebut meliputi basement, lantai penjualan kebutuhan pokok dan oleh-oleh, lantai kebutuhan fesyen, serta hallway atau lantai non-pasar. Empat lantai lainnya masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan catatan sejarah, Pasar Kosambi merupakan pasar tertua di Kota Bandung yang masih bertahan hingga kini. Nama 'Kosambi' diambil dari pohon kesambi, atau dalam bahasa Belanda dikenal sebagai Schleichera oleosa. Pohon tersebut dahulu tumbuh di pusat kawasan pasar dan menjadi titik kumpul para pedagang sebelum kawasan ini berkembang menjadi bangunan seperti sekarang.
Sejarawan Yudi Hamzah menjelaskan, Pasar Kosambi sejak awal memang tumbuh di tengah komunitas masyarakat.
"Pasar Kosambi mulai ramai tahun 60-70 an ke atas, apalagi tahun 80 an ada bioskop, teater hingga gedung kesenian," kata Yudi kepada detikJabar.
Menurut Yudi, kawasan Pasar Kosambi dahulu dikelilingi komunitas masyarakat Jawa. Jejak itu dapat dilihat dari keberadaan gedung kesenian yang pernah berdiri di sekitar pasar.
"Bentuk pasarnya seperti pasar pada umumnya. Dulu sudah ramai, salah satu pusat peradaban di Korta Bandung dan ada banyak tokoh di sana. Apalagi Pasar Kosambi ini ada di Jalan Pos (Dari Bandung sampai Jatinangor) atau Deandels yang kini jadi Jalan Ahmad Yani," tuturnya.
Ia menambahkan, Pasar Kosambi merupakan pusat perekonomian yang sangat mungkin menjadi peninggalan era kolonial Belanda.
"Sangat mungkin jadi peninggalan Belanda, apalagi dekat dengan Cikudapateuh yang di mana itu kan gudang senjata, seperti ada gula ada semut, pasti ada yang menyediakan kebutuhan pokok karena di sana ada kehidupan. Apalagi didekat sana ada Jalan Malabar dan lainnya yang memiliki banyak bangunan peninggalan Belanda," jelasnya.
"Banyak juga toko-toko yang dikenal seperti Peci Iming yang jadi langanan Presiden Soekarno. Kosambi identiknya dengan pasar, Bandung teather, ada Bakso Jai, Roti Cari Rasa, Kripik Tempe, Toko Tiga," tambahnya.
Pasar Mulai Lesu
Kepala Pasar Kosambi, Yayan Agustiana, tak menampik bahwa tingkat kunjungan ke pasar tersebut mengalami penurunan. Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan Pasar Kosambi tak lagi seramai era 1990-2000-an.
"Tradisional lumayan, pakaian turun drastis karena online. Jangankan Pasar Kosambi, Pasar Baru juga sama (sepi)," kata Yayan kepada detikJabar.
Lesunya aktivitas ekonomi terlihat jelas di lantai dua, yang mayoritas menjual produk fesyen. Di lantai tersebut, banyak kios tampak tertutup, bahkan sebagian mengalami kerusakan.
"Sekarang pedagang di kawasan basah 313 pedagang dan di atas pakaian 165 pedagang. Lantai semua ada delapan. Kosong empat lantai, sebetulnya lantai 5 pernah digunakan sama tim voli, tapi sekarang sudah tidak digunakan," tambah Yayan.
Sejumlah pedagang pun membenarkan kondisi tersebut. Bahkan pada momen libur panjang atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, keramaian pasar tak lagi berlangsung lama. Jika dulu pasar mulai ramai dua pekan sebelum Lebaran, kini lonjakan pengunjung hanya terasa dua hingga tiga hari menjelang hari raya.
Meski demikian, Yayan menilai bangunan Pasar Kosambi masih layak digunakan. Ia menyebut, jika ada investor yang tertarik mengelola, empat lantai kosong tersebut masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
"Bisa digunakan, digunakan untuk sport center cocok tuh, asal ada investor. Bangunan masih layak, tinggal dipoles saja," ujarnya.
Yayan juga menyoroti kebijakan perizinan supermarket dan minimarket yang kini berdiri di sekitar Pasar Kosambi. Menurutnya, kehadiran pusat belanja modern tersebut menjadi pesaing langsung bagi pedagang pasar tradisional.
"Aturan diperketat, Kosambi dikelilingi supermarket dan minimarket. Dulu kan ada radius ke pasar, sekarangkan dekat banget," ucap Yayan.
(wip/dir)