Di depan kiosnya, Khairul Anwar (32) lebih sering menunduk menatap layar ponsel ketimbang menyapa pembeli. Bukan karena pasar ramai, justru sebaliknya. Di Pasar Andir yang kini lengang, ponsel menjadi etalase baru tempat ia berharap dagangannya tetap menemukan pembeli.
"Sekarang jualan bukan nunggu orang lewat kios lagi, tapi juga nunggu notifikasi," kata Anwar sambil tersenyum tipis di sela-sela perbincangan, Rabu (21/1/2026).
Baca juga: Jeritan Pedagang ITC Kebon Kalapa Bandung |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anwar adalah salah satu pedagang yang mencoba beradaptasi. Ia memotret kaus, kemeja yang digantung di kiosnya, lalu mengunggahnya ke marketplace dan media sosial. Harga ditulis jelas, ukuran dicantumkan rinci. Namun, upaya itu tak selalu mulus.
"Saingannya bukan kios sebelah lagi, tapi satu Indonesia," ujarnya.
Perubahan pola belanja menjadi pukulan telak bagi Pasar Andir. Pasar yang selama ini hidup dari transaksi langsung kini harus berhadapan dengan kemudahan belanja online yang murah, cepat, dan tanpa harus keluar rumah.
Suasana Pasar Andir Kota Bandung. Foto: Bima Bagaskara |
Menurut Dino Lesmana Manager Operasional Pasar Andir, pergeseran ini sangat terasa karena hampir seluruh pedagang di pasar tersebut bergerak di sektor fesyen.
"Karena di dalam gedung kita, 98 persen (pedagang) fesyen," katanya.
Ia menyebut, banyak pedagang akhirnya membuka kios sekadarnya, sekadar mempertahankan tempat sambil fokus menjual lewat daring. Namun tidak semua pedagang mampu mengikuti arus tersebut.
Bagi Jaya, berdagang online bukan pilihan. Ia mengaku tak bisa mengikuti sistem digital yang serba cepat karena faktor usia.
"Enggak, nggak bisa saya. Yang bisa online ya online kebanyakan anak muda," katanya jujur.
Jaya lebih memilih bertahan dengan cara lama, meski pembeli semakin jarang datang. Ia sadar, pasar kini bukan lagi pilihan utama masyarakat untuk belanja pakaian.
Kondisi ini menciptakan jurang di antara pedagang, mereka yang mampu beradaptasi dengan teknologi dan mereka yang tertinggal. Pasar yang dulu menyatukan semua pedagang dalam satu lorong kini terbelah oleh kemampuan digital.
Selain kemudahan, harga menjadi faktor paling menentukan. Para pedagang sulit menyaingi harga di platform online yang bisa menekan biaya operasional.
"Harga online sangat murah, jauh di bawah harga di sini," ucap Dino.
Baca juga: Pagi Kelabu di Pasar Baru Bandung |
Pengelola pasar menyadari persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan cara lama. Namun, upaya mendorong digitalisasi pedagang juga menghadapi banyak kendala.
"Kita mengikuti perkembangan zaman dan mengarahkan ke pedagang untuk melakukan penjualan online bagi yang bisa," kata Dino.
(iqk/iqk)











































