Perbedaan Influenza dan Selesma yang Sering Diaggap Sama

Kabar Kesehatan

Perbedaan Influenza dan Selesma yang Sering Diaggap Sama

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Minggu, 25 Jan 2026 05:30 WIB
Perbedaan Influenza dan Selesma yang Sering Diaggap Sama
Ilustrasi influenza (Foto: Getty Images)
Bandung -

Langit mendung dan curah hujan yang tinggi sering kali menjadi pertanda datangnya penyakit seperti demam, batuk hingga pilek. Masyarakat awam kerap menyebut kondisi ini secara pukul rata sebagai sakit flu. Namun, anggapan bahwa semua gejala batuk-pilek adalah flu merupakan kekeliruan yang umum terjadi.

Padahal, Influenza dan Selesma merupakan hal yang berbeda. Meski sekilas tampak serupa, kedua penyakit ini memiliki jenis dan dampak yang sangat berbeda bagi tubuh.

Apa itu Selesma?

Selesma, atau yang dikenal dalam istilah medis sebagai rinitis akut, merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang ringan. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat beragam. Hampir semua kasus selesma dipicu oleh virus yang bernama Rhinovirus. Selain Rhinovirus, selesma juga bisa disebabkan oleh Coronavirus, Respiratory Syncytial Virus (RSV), hingga Adenovirus. Virus-virus ini menyerang dengan cara menempel pada reseptor spesifik di saluran napas, seperti Rhinovirus yang masuk ke dalam sel tubuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu Influenza?

Di sisi lain, Influenza adalah penyakit yang jauh lebih spesifik dan berpotensi serius. Penyakit ini disebabkan oleh virus Influenza yang terdiri dari tiga jenis yaitu tipe A, B, dan C. Virus Influenza A adalah yang paling ganas karena dapat menginfeksi manusia serta hewan, dan memiliki kemampuan bermutasi yang cepat seperti yang terlihat pada varian H5N1 atau H1N1.

ADVERTISEMENT

Sementara Influenza B hanya menginfeksi manusia dan bermutasi lebih lambat. Berbeda dengan selesma yang bisa terjadi berulang kali dalam setahun karena banyaknya jenis virus penyebab, influenza memiliki pola musiman dan bahkan bisa memicu pandemi global dengan angka kematian mencapai 250.000 hingga 500.000 jiwa setiap tahunnya di seluruh dunia.

Perbedaan Salesma dan Influenza

Influenza

- Gejala influenza bersifat akut dan mendadak, seseorang mungkin merasa bugar di pagi hari, namun tiba-tiba tersungkur lemas dengan demam tinggi pada siang atau sore harinya.

- Influenza ditandai dengan demam tinggi yang berkisar antara 38°C hingga 40°C dan dapat bertahan selama 3-4 hari.

- Penderita Influenza kerap merasakan nyeri otot yang hebat (myalgia) seolah-olah tubuh habis dipukuli, sakit kepala intens, hingga menggigil gemetar.

- Influenza juga menimbulkan rasa lelah, bahkan memaksa penderita untuk berbaring di tempat tidur (bed rest) selama beberapa hari.

Selesma

- Gejala selesma lebih bertahap, tidak muncul tiba-tiba

- Gejala awal selesma biasanya berupa rasa gatal atau tidak nyaman di tenggorokan, yang kemudian disusul oleh hidung tersumbat, bersin-bersin, dan keluarnya sekret hidung (meler).

- Demam tinggi jarang ditemukan pada kasus selesma, terutama pada orang dewasa. Jika pun ada demam, suhunya tidak setinggi influenza.

- Penderita selesma biasanya masih memiliki tenaga untuk bangun dari tempat tidur.

Cara Penanganan

Selesma

- Istirahat yang cukup dan menjaga asupan cairan

- Meminum obat penurun panas (seperti parasetamol) jika diperlukan

- Pada bayi dan anak, terapi sederhana seperti tetes hidung salin dapat membantu mengencerkan lendir dan melegakan pernapasan.

Influenza

- Istirahat yang cukup

- Harus diobati dengan obat antivirus

- Durasi sakit dapat lebih pendek dengan pemberian antivirus dengan tepat Waktu.

Cara Mencegah Influenza dan Selesma

Di tengah cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia, penerapan protokol kesehatan dasar adalah tameng terbaik. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mencegah gelaja flu dan selesma:

  • Pastikan selalu dalam keadaan bersih dengan cara cuci tangan rutin dengan sabun. Virus flu dapat bertahan di permukaan benda keras selama 24 jam.
  • Pastikan istirahat cukup dengan tidur 7-8 jam sehari untuk menjaga sistem imun tetap prima.
  • Hindari kerumunan saat sedang sakit atau gunakan masker untuk melindungi orang lain.
  • Perbanyak minum air hangat untuk mengencerkan dahak dan mencegah dehidrasi.
  • Jaga suhu tubuh tetap hangat, hindari paparan angin malam atau hujan secara langsung.

Kapan harus memutuskan untuk berobat?

Meskipun selesma umumnya dapat sembuh dengan sendirinya dalam 7-10 hari dengan istirahat cukup, influenza memerlukan kewaspadaan lebih. Komplikasi influenza bisa berakibat fatal, seperti radang paru, terutama pada kelompok rentan (anak-anak dan lansia).

  • Segera cari pertolongan medis jika deikers mengalami gejala bahaya berikut:
  • Sesak napas atau napas menjadi pendek dan cepat.
  • Nyeri dada yang persisten.
  • Demam tinggi di atas 39°C yang tidak turun dengan obat penurun panas.
  • Penurunan kesadaran atau kebingungan mendadak.

Di tengah cuaca yang tak menentu, pencegahan adalah senjata utama. Memahami perbedaannya bukan sekadar wawasan, melainkan langkah penting untuk menentukan penanganan yang tepat dan menghindari penggunaan obat yang kurang tepat. Tetap waspada, jaga imunitas, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk. Semoga bermanfaat!

(yum/yum)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads