Kemacetan di Kota Bandung kembali menjadi sorotan. TomTom Traffic Index 2025 menyatakan Bandung menjadi kota termacet di Indonesia mengalahkan Jakarta, setelah tingkat kemacetannya mencapai 64,1 persen.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan merespons hal itu. Ia tak menampik soal kondisi tersebut dan menganggap temuan ini jadi sebuah tantangan yang perlu dicari solusinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira itu merupakan sebuah tantangan untuk kita menunjukkan bahwa penanganan masalah lalu lintas di Kota Bandung ini masih memang belum tuntas," katanya, Sabtu (24/1/2026).
Sebagai solusinya, Farhan mengaku perlu memperbaiki infrastruktur jalan di Kota Bandung. Kemudian, Pemkot sedang menyiapkan sistem traffic light berbasis AI untuk memudahkan pengaturan lalu lintas.
"Nah, sistem traffic light atau ATCS ini, automatic traffic control system itu akan disempurnakan dan diperbaiki. Sehingga kita sudah saatnya mengaplikasikan teknologi AI untuk pengaturan dari traffic light di seluruh Kota Bandung," ungkapnya.
Mengenai angkutan massal, Farhan mengaku sedang menantikan program Trans Metro Pajajaran yang bakal dirilis Dishub Jabar. Di sisi lain, Pemkot Bandung bakal meninjau ulang trayek angkot yang akan difungsikan sebagai feeder bus rapid transit (BRT).
"Nah, ini bagian dari upaya kita mempersiapkan hadirnya BRT. Saya juga mulai menanyakan kembali kepada Dirjen Kereta Api, kemungkinan akan dibangunnya LRT Bandung Jalur Utara Selatan. Kalau BRT, itu dari timur ke barat. Jadi dua-duanya saya harapkan bisa berjalan dengan baik," pungkasnya.
Dalam laporannya, TomTom Traffic Index 2025 mencatat tingkat kemacetan rata-rata di Bandung mencapai 64,1%. Kondisi ini membuat waktu perjalanan di Bandung melambat cukup signifikan dibandingkan kondisi ideal tanpa hambatan.
Untuk menempuh jarak 10 kilometer saja, pengendara di Bandung membutuhkan waktu rata-rata 32 menit 26 detik, nyaris tak berubah dari kondisi tahun sebelumnya. Kecepatan kendaraan saat jam sibuk pun hanya berada di kisaran 16,3 km per jam.
Sementara di Jakarta, tren kemacetan masih terbilang memburuk pada 2025. Waktu tempuh perjalanan sejauh 10 kilometer di Ibu Kota rata-rata mencapai 26 menit 19 detik, naik dibandingkan 2024 yang tercatat 25 menit 31 detik.
Kecepatan kendaraan di jam sibuk turun menjadi 17,8 km per jam, membuat peringkat Jakarta dalam daftar kota termacet dunia melonjak ke posisi ke-24, dari sebelumnya masih di urutan ke-90.
Dengan kondisi tersebut, Bandung berada di urutan ke-16 kota termacet di dunia mengalahkan Jakarta di peringkat ke-24. Di urutan lima besar ada Meksiko City, Meksiko dengan 75,9%, Bengaluru, India 74,4%, Dublin, Irlandia 72,9%, Lodz, Polandia 72,8% hingga Pune, India 71,1%.
(ral/orb)










































