Padepokan Lembah Dzikir di Cianjur viral akibat ritual mandi 'celup' yang diklaim bisa mendatangkan kekayaan dan jodoh. Ternyata, padepokan ini sudah berdiri sejak 2008 dan rutin didatangi santri dari berbagai daerah untuk menjalani riyadhoh atau pelatihan spiritual.
Pimpinan Padepokan Lembah Dzikir H Nasrudin atau yang akrab disapa Kang Jimam, mengatakan tempat tersebut didirikan setelah dirinya belajar di 40 pondok pesantren hingga ke Makkah. Banyaknya santri yang datang membuat Jimam membangun fasilitas semipermanen dari bambu di tepi sungai Kampung Salahuni, Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ada sekitar 50 orang yang sedang riyadhoh di padepokan," ujar Jimam saat ditemui, Kamis (22/5).
Menurutnya, santri yang datang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sukabumi, Cirebon, Palembang, hingga Bengkulu. Mereka menetap di padepokan mulai dari tiga hari hingga bertahun-tahun. Selama masa tersebut, Jimam menanggung seluruh biaya hidup santri menggunakan dana pribadinya.
"Paling singkat tiga hari, ada juga yang sampai empat tahun. Makan dan kebutuhan lain saya yang siapkan. Jadi tidak mungkin saya menipu, justru saya menghabiskan dana pribadi. Mereka yang datang rata-rata memiliki masalah ketenangan hidup, urusan rumah tangga, hingga kendala ekonomi," ungkapnya.
Jimam menegaskan bahwa aktivitas di padepokannya tidak sesat. Ia menyebut ritual tersebut justru mendekatkan santri kepada Tuhan. "Semua aktivitas ada sanad keilmuannya, mulai dari puasa, zikir, hingga mandi taubat. Bahkan ada santri yang menangis saat saya beri alat salat karena sudah 10 tahun tidak beribadah. Sekarang dia rajin salat lima waktu," tambahnya.
Mengenai isu ritual kekayaan dan jodoh, Jimam menjelaskan ia memberikan pembinaan secara psikis agar santri tidak larut dalam masalah masa lalu. "Saya bina mereka agar fokus pada solusi ke depan. Setelah tenang dan percaya diri, mereka bisa maksimal berikhtiar mencari rezeki dan jodoh, tentu dengan iringan doa," jelas Jimam.
Aris (40), salah seorang santri, membenarkan hal tersebut. Ia mengaku tujuannya datang ke padepokan bukan untuk mengejar kekayaan instan, melainkan mencari ketenangan batin.
"Saya datang dengan berbagai masalah. Namun setelah di sini, saya mendapatkan yang lebih penting, yaitu ketenangan. Saya dibimbing ibadah dan zikir. Kalau urusan rezeki dan jodoh itu mengikuti. Terpenting saya bisa jadi pribadi yang lebih baik, makanya saya betah di sini," pungkas Aris.
(sud/sud)
