Dua keluarga di Kampung Sela, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, mengalami keracunan usai menyantap olahan jamur liar. Seorang korban bahkan harus dilarikan ke ruang ICU lantaran tak sadarkan diri.
Informasi yang dihimpun detikJabar, keracunan itu bermula saat anak Wahyu Saripudin (65) membawa seember jamur liar dari hutan di dekat rumahnya pada Rabu (21/1/2026) sore. Jamur tersebut kemudian dibagikan kepada kerabatnya, yakni Yanto (48), yang tinggal bersebelahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, setelah memasak dan mengonsumsi olahan jamur itu, empat orang dari kedua keluarga tersebut, yakni Wahyu, Imas, Yanto, dan Yani, mengalami mual serta pusing hebat.
"Begitu menerima laporan warga yang mengalami gejala keracunan pada Rabu malam, anggota Bhabinkamtibmas langsung berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk membawa keempatnya ke rumah sakit," ujar Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi, Kamis (22/1/2026).
Menurut Alexander, berdasarkan hasil penyelidikan, keracunan tersebut murni disebabkan oleh konsumsi jamur liar yang banyak tumbuh saat musim hujan. "Penyebab utamanya adalah jamur liar. Tidak ada faktor lain yang memicu keracunan ini," tegasnya.
Yanto (48), salah satu korban, mengaku sempat ragu dengan keamanan jamur tersebut. Namun, karena bentuknya menyerupai jamur yang biasa dijual, ia akhirnya mengolahnya menjadi tumis dan pepes.
"Bentuk jamurnya seperti yang biasa dikonsumsi, jadi dikira aman. Ternyata 15 menit setelah makan, langsung keringat dingin, pusing, dan muntah-muntah. Bahkan pandangan sempat gelap," tutur Yanto.
Bupati Cianjur Muhammad Wahyu mengatakan, dari empat korban, satu di antaranya sudah diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih menjalani perawatan intensif.
"Dari tiga orang yang dirawat, satu korban ditangani di ICU karena kondisinya cukup parah," jelas Wahyu.
Ia memastikan para korban akan ditangani secara maksimal di RSUD Sayang agar cepat pulih. Wahyu juga mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan mengolah atau mengonsumsi tanaman liar, terutama jamur yang tumbuh di hutan.
"Meskipun bentuknya mirip dengan jamur konsumsi, lebih baik pastikan dulu keamanannya. Jangan diolah jika tidak mengetahui secara pasti jenis jamur atau bahan pangan apa pun," pungkasnya.
(sud/sud)
