Tanggapan Farhan soal Hewan di Bandung Zoo Terindikasi Stres

Tanggapan Farhan soal Hewan di Bandung Zoo Terindikasi Stres

Rifat Alhamidi - detikJabar
Rabu, 21 Jan 2026 16:30 WIB
Gajah Sumatra Ira di Kebun Binatang Bandung.
Gajah Sumatra Ira di Kebun Binatang Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Organisasi advokasi lingkungan, Geopix, menemukan indikasi satwa di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo mengalami stres. Kondisi itu ditemukan di sejumlah satwa liar yang dilindungi seperti gajah, monyet hitam hingga orangutan setelah Bandung Zoo dibuka untuk publik.

Dalam laporannya, Geopix membeberkan bahwa ada temuan kejanggalan pada primata termasuk orangutan dan monyet hitam. Mulai dari kebotakan di lengan dan kaki bawah yang disinyalir merupakan penyakit kulit, malnutrisi, atau stres (akibat kebosanan atau kebiasaan kompulsif) yang memicu perilaku seperti overgrooming.

Merespons hal itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pun buka suara. Ia mengaku sedang menunggu hasil penelitian dari para ahli untuk menentukan kondisi satwa di Bandung Zoo saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gini, yang berhak menentukan bahwa satwa itu stres satu adalah para ahli, yang kedua adalah Kementerian Kehutanan. Jadi kami sedang menunggu hasil penelitian para ahli yang ditunjuk oleh Kementerian Kehutanan tentang kondisi satwa di Kebun Binatang Bandung," katanya, Rabu (6/1/2026).

ADVERTISEMENT

Sekedar diketahui, Pemkot Bandung memutuskan untuk menutup operasional Bandung Zoo pada Agustus 2025. Polemik dualisme kepengurusan jadi pemicunya hingga membuat keputusan krusial ini dilakukan.

Namun saat libur panjang Natal dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Pemkot Bandung mengizinkan Bandung Zoo dibuka untuk publik sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Bandung Zoo kemudian dibuka dan dinikmati wisatawan, namun dengan jam operasional yang terbatas.

Soal temuan satwa yang stres di Bandung Zoo, Farhan mengaku masih menunggu laporan resmi dari kementerian. Namun, ia tetap menghormati hasil pengamatan dari pihak eksternal, dan bakal memperhatikan laporan tersebut.

"Kan lagi diteliti. Jadi apabila ada para ahli yang mengatakan lewat media, hasil pengamatan, itu hanya pengamatan dari luar. Tentu itu kita perhatikan. Kami sangat memperhatikan kritik dan masukan dari para ahli," ungkapnya.

"Kritik dan masukan itulah yang menjadi laporan awal kami ke Kementerian Kehutanan. Kementerian Kehutanan sekarang sedang mempersiapkan untuk melakukan penelitian lebih dalam tentang hewan-hewan tersebut," pungkasnya.

(ral/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads