Kota Cimahi, Jawa Barat, memiliki sederet bangunan yang menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan. Salah satunya Hotel Tjimahi di pusat kota. Berlokasi tepat di tepi jalan nasional, hotel ini telah beroperasi sejak 1927.
Namun, di usianya yang nyaris seabad, kisah hotel ini terancam berakhir antiklimaks. Menjadi saksi sejarah kemerdekaan hingga pembangunan masa kini, hotel tersebut kini akan dijual oleh pemiliknya karena faktor ekonomi.
Kabar penjualan hotel yang berdiri sejak 1927 itu mencuat di media sosial. Salah satu akun TikTok mengunggah informasi harga jual hotel dengan luas lahan sekitar 3.254 meter persegi tersebut senilai Rp35 miliar.
Di balik polemik penjualannya, bangunan yang belum berstatus cagar budaya ini menyimpan banyak cerita tokoh yang pernah menginap. Di antara deretan nama besar pribumi, terselip satu nama kontroversial yang pernah menikmati kesejukan Hotel Tjimahi: Raymond Westerling.
Raymond Pierre Paul Westerling dikenang bukan sebagai pejuang, melainkan penjahat perang. Ia diyakini memimpin pembantaian rakyat sipil di Sulawesi Selatan pada periode 1946-1947 yang dikenal sebagai Tragedi Pembantaian Westerling.
"Betul, sebelum pelarian ke Singapura, dia (Westerling) pernah tinggal di sini. Kaitannya dengan suami oma saya, Nyi Raden Fatimah, yang pertama kali membangun hotel ini," ujar Thea Gerungan Soetamanggala, cucu Nyi Raden Fatimah sekaligus pengelola Hotel Tjimahi, Senin (12/1/2024).
Thea mengaku tidak tahu pasti aktivitas maupun waktu tepatnya pria kelahiran 1919 itu menginap. "Saya tidak tahu pastinya, cuma kata Oma memang pernah tinggal di sini," tuturnya.
Simak Video "Video: Mengenang Hotel Tjimahi"
(mso/mso)